Proses pemadaman kebakaran di kawasan Gunung Bromo/Balai Besar TNBTS
Kebakaran Bromo Diduga Ulah Manusia, Pemkab Probolinggo Perkuat Mitigasi
Silvana Febiari • 12 August 2026 14:40
Probolinggo: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo memperkuat mitigasi agar kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo tak berulang. Sebab, penyebab kebakaran diduga akibat ulah manusia.
"Karhutla Bromo merupakan persoalan yang berpotensi berulang, sehingga membutuhkan penanganan yang tidak hanya bersifat darurat, tetapi juga dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan," kata Bupati Probolinggo Mohammad Haris, dilansir dari Antara, Rabu, 12 Agustus 2026.
Ia menekankan, pentingnya memperkuat mitigasi dan langkah pencegahan agar risiko karhutla dapat ditekan pada masa mendatang. Pemkab Probolinggo juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang memberikan dukungan dan bekerja sama dalam penanganan karhutla di kawasan Bromo.
"Kebakaran itu merupakan persoalan yang berulang sehingga membutuhkan penanganan komprehensif dan berkelanjutan," ucapnya.
Pemkab Probolinggo memastikan akan terus mendukung koordinasi lintas sektor dalam penanganan karhutla. Pemerintah juga mendorong penguatan mitigasi untuk menjaga kawasan Bromo dan masyarakat di sekitarnya.
"Kami juga melakukan penguatan edukasi kepada masyarakat dan menerapkan sistem peringatan dini (early warning system) untuk mencegah terjadinya kembali kebakaran hutan dan lahan di Bromo," ujarnya.
Menurutnya, upaya pencegahan kebakaran di kawasan Gunung Bromo tidak cukup hanya menyasar wisatawan. Namun, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi, termasuk masyarakat Tengger juga perlu mendapatkan edukasi secara berkelanjutan.
"Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian kawasan Bromo, terlebih saat kondisi cuaca panas dan kering disertai angin kencang, potensi kebakaran menjadi semakin tinggi,” tuturnya.

Petugas BPBD Probolinggo masih memantau adanya titik api di kawasan TNBTS pada Kamis (6/8/2026). ANTARA/HO-BPBD Probolinggo
Total luas kawasan yang terdampak karhutla Gunung Bromo di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mencapai sekitar 889 hektare hingga Selasa, 11 Agustus 2026. Area terdampak tersebar di empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Malang, dan Pasuruan.
Pemerintah juga berencana melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Operasi tersebut dilakukan BNPB dengan berkoordinasi bersama BMKG sebagai upaya membantu membasahi wilayah terdampak sehingga proses pemadaman lebih efektif sekaligus mencegah api berkembang ke kawasan lain.
Sebelumnya, karhutla di Gunung Bromo akibat penggunaan flare terjadi pada 6 September 2023 di Bukit Teletubbies atau Savana Lembah Watangan. Kebakaran yang dipicu aktivitas foto prewedding tanpa izin tersebut menghanguskan 989 hektare kawasan TNBTS dan kasusnya telah diproses secara hukum.