Ilustrasi. Media Indonesia
Pemimpin di Tengah Bencana
Media Indonesia • 27 August 2026 05:37
SEJAK gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026, hingga kini masyarakat di sana belum dapat hidup tenang. Mereka masih diliputi rasa waswas karena gempa susulan masih terus berlangsung hingga kini.
Meski guncangannya tak sedahsyat gempa pertama, tetap saja gempa susulan itu membuat takut warga. Berdasarkan data BMKG, hingga Rabu (26/8), tercatat 7.492 kali terjadi gempa susulan. Sebanyak 33 gempa susulan di antaranya bermagnitudo di atas 5.
Warga memilih tetap tinggal di tenda-tenda pengungsian di tanah lapang. Mereka masih takut untuk kembali ke rumah masing-masing. Sudah hampir dua pekan mereka meninggalkan tempat tinggal. Tak dipikirkan lagi nasib rumah beserta isinya yang sudah porak-poranda. Bagi mereka, keselamatan jiwa menjadi prioritas di atas segalanya. Rasa lelah lahir dan batin pun tentu dirasakan para pengungsi.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Rabu (25/8) pukul 16.00 WIB, menunjukkan jumlah pengungsi mencapai 179.037 orang dan korban meninggal yang telah ditemukan sebanyak 105 orang.
Dalam catatan BNPB, pengungsi tersebar di tujuh kabupaten, dengan jumlah terbanyak di Manggarai, Nagekeo, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat. Jumlah pengungsi tiap hari bersifat dinamis karena ada warga yang sudah kembali ke rumah, terutama di Kabupaten Sikka, tetapi di saat bersamaan terjadi penambahan pengungsi di tempat lain.
Baca Juga :
Gempa 4,6 Magnitudo Guncang Ruteng
Sekali lagi, sulit sekali dibayangkan, betapa lelahnya hati masyarakat di sana menjalani hidup hampir dua pekan di bawah tenda pengungsian. Mereka harus tinggal di tenda, di tengah sengatan matahari yang teramat terik dalam beberapa bulan terakhir.
Maka, kehadiran Presiden Prabowo Subianto di tengah-tengah pengungsi, kemarin, menjadi salah satu oase di tengah lelahnya hati masyarakat. Bersama sejumlah pejabat yang menyertainya, Presiden memastikan penanganan gempa berjalan cepat, terarah, dan merata di seluruh daerah yang terdampak bencana. Ya, kecepatan penyaluran bantuan, dibarengi dengan terarah dan meratanya bantuan, menjadi poin krusial di tengah kedaruratan gempa saat ini.
Saudara-saudara kita di tenda pengungsian saat ini membutuhkan bahan makanan, obat-obatan, pakaian, dan tentu saja jangan sampai dilupakan, kebutuhan anak-anak. Untuk sementara, anak-anak di sana terpaksa kehilangan hak bermain dan belajar akibat gempa.
Kedatangan Presiden bersama sejumlah pejabat terkait di tengah bencana tentu menjadi penguat moral bagi warga yang sedang mengalami trauma. Keberadaan para pejabat pusat dan daerah itu tak boleh berhenti di tataran tanggung jawab administratif.

Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat penanganan bencana gempa bumi di Posko Penanganan Gempa Bumi di Bataliyon Yonif TP 834/WM, Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Rabu, 26 Agustus 2026. Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev.
Kehadiran mereka harus dirasakan secara nyata sebagai bukti nyata bahwa negara hadir di saat bencana. Karena itu, kehadiran nyata negara tersebut harus dibuktikan lewat makin cepatnya koordinasi dan realisasi penyaluran bantuan. Bukan cuma itu, kecepatan juga dibutuhkan dalam proses rehabilitasi jika gempa sudah berlalu.
Kehadiran Presiden di NTT patut mendapat apresiasi karena akan memotivasi dan berdampak besar bagi para penyintas. Langkah Presiden itu bisa menjadi langkah awal bagi korban gempa untuk segera bangkit kembali melanjutkan kehidupan sehari-hari tanpa rasa waswas.
Kunjungan Presiden juga sekaligus menjadi antitesis dari perilaku para pejabat dan tokoh publik yang sebelumnya kerap menjadikan lokasi bencana sebagai objek untuk mendongkrak popularitas. Dalam rapat kabinet paripurna Desember 2025 silam, saat membahas penanganan bencana tanah longsor di Sumatra, Presiden bahkan sampai mengkritik keras perilaku mereka itu. Presiden menyebut mereka tengah berwisata bencana karena datang hanya untuk berfoto, tanpa memberi solusi.
Dengan demikian, langkah Presiden kemarin sekaligus juga menjadi gagasan gerak bersama seluruh komponen bangsa untuk kembali membangun NTT, termasuk Sumatra, yang hingga kini masih butuh penanganan khusus.