KBRI Oslo mengangkat budaya Nusantara melalui Indonesian Cultural Night. Foto: KBRI Oslo
Indonesian Cultural Night di Oslo Angkat Budaya Nusantara dalam Diplomasi Indonesia-Norwegia
Muhammad Reyhansyah • 29 August 2026 01:15
Oslo: Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Oslo mengangkat budaya Nusantara sebagai bagian dari diplomasi Indonesia-Norwegia melalui Indonesian Cultural Night bertajuk Strings of Equator – A Musical Journey to Indonesia di Victoria National Jazz Scene, Oslo, pada 24 Agustus 2026.
Acara yang digelar dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI tersebut dihadiri sekitar 200 tamu, termasuk korps diplomatik, pemerintah Norwegia, kalangan dunia usaha, dan diaspora Indonesia. State Secretary Kementerian Iklim dan Lingkungan Hidup Norwegia Kristofer André Hansen turut hadir sebagai tamu kehormatan.
Duta Besar RI untuk Norwegia dan Islandia Teuku Faizasyah menilai musik memiliki filosofi yang sejalan dengan diplomasi, terutama dalam membangun kesepahaman di tengah perbedaan.
“Musik dan diplomasi sama-sama mengandalkan komunikasi verbal dan nonverbal, kemampuan untuk mendengarkan dengan saksama, dan menemukan harmoni di antara suara-suara yang berbeda untuk menjembatani perbedaan,” ujar Faizasyah, dikutip dari siaran pers Kementerian Luar Negeri RI, Jumat, 28 Agustus 2026.

Perayaan Indonesian Cultural Night di Norwegia. Foto: KBRI Oslo
Dalam konteks hubungan bilateral, Faizasyah menyebut Indonesia dan Norwegia memiliki fondasi kemitraan yang kuat yang ditopang keterbukaan, nilai-nilai demokrasi, serta penghormatan terhadap hukum internasional.
Ia menegaskan Indonesia berkomitmen mempererat kerja sama dengan Norwegia, termasuk melalui hubungan antarmasyarakat, untuk mendorong terciptanya dunia yang lebih damai, berkelanjutan, dan sejahtera.
Sementara itu, Kristofer André Hansen mengapresiasi capaian Indonesia dalam mengurangi deforestasi serta kemitraan kedua negara di bidang iklim, energi, dan perdagangan yang telah terjalin sejak 1950.
“Harmoni tidak tercipta dari suara-suara yang sama, tetapi dari suara-suara berbeda yang saling mendengarkan, merespons dengan kepercayaan, dan menemukan irama bersama,” kata Hansen.
Nuansa budaya Nusantara kemudian semakin terasa melalui penampilan Tantowi Yahya dan Thomshell Band. Mereka membawakan rangkaian musik dan narasi budaya Indonesia yang mengajak para tamu bernyanyi dan menari bersama dalam lagu Gemu Fa Mi Re dan Poco-Poco.
Pendekatan diplomasi budaya tersebut turut mendapat apresiasi dari Profesor Ilmu Politik University of Oslo Dan Banik.
“Siapa bilang diplomasi membosankan? Perayaan Hari Nasional Indonesia di Oslo benar-benar berubah menjadi sebuah pesta. Jarang sekali saya bersenang-senang seperti ini di sebuah acara diplomatik. Inilah diplomasi budaya dalam bentuk terbaiknya,” ujar Banik.