Korban Tewas Gempa NTT Jadi 111 Jiwa, Didominasi Lansia

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton S. Panjaitan. (tangkapan layar)

Korban Tewas Gempa NTT Jadi 111 Jiwa, Didominasi Lansia

Palce Amalo • 27 August 2026 17:33

Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi bermagnitudo (M) 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) bertambah menjadi 111 orang pada Kamis sore, 27 Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, kelompok lanjut usia (lansia) mendominasi dengan proporsi 45 persen.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Simanjuntak, mengatakan ada penambahan enam korban jiwa dalam pembaruan data terbaru.

"Saat ini terdapat penambahan enam korban, sehingga total menjadi 111 jiwa. Dapat kami sampaikan bahwa keenamnya merupakan korban meninggal tidak langsung," ujar Berton di Jakarta, Kamis, 27 Agustus 2026.

Berdasarkan data demografi, korban meninggal dunia didominasi oleh perempuan. Berikut adalah rincian persentase korban jiwa berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin:
  • Jenis Kelamin: Perempuan (56,4 persen) dan laki-laki (43,6 persen).
  • Kelompok Umur: Lansia (45 persen), dewasa (37 persen), anak dan remaja (12 persen), serta bayi dan balita (6 persen).
Selain korban meninggal, aktivitas kegempaan di NTT masih terus berlangsung. Berdasarkan data BMKG, telah terjadi 8.193 gempa susulan (aftershock) pascagempa utama M 7,7.

(Tim gabungan menjadi pihak pertama yang menjangkau lokasi terpencil. Foto: Dok Pertamina Patra Niaga)

Gempa susulan terbesar tercatat mencapai M 6,2, sedangkan yang terkecil M 1,0. Dari ribuan rentetan tersebut, sebanyak 146 gempa susulan dilaporkan dirasakan langsung oleh masyarakat.

Menurut keterangan BMKG, gempa M 7,7 tergolong sangat besar sehingga rentetan gempa susulan diprakirakan masih akan berlangsung hingga pekan ketiga atau keempat pascagempa utama.

Pengungsi Mulai Berkurang

Di sisi lain, jumlah warga di lokasi pengungsian berangsur menyusut. BNPB mencatat sebanyak 176.621 orang masih bertahan di posko pengungsian, atau berkurang 2.416 orang dari data sebelumnya. Penurunan angka pengungsi paling signifikan terjadi di Kabupaten Sikka.

BNPB mengimbau warga yang kondisi rumahnya masih kuat dan utuh untuk kembali ke kediaman masing-masing dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan.

"Tentu BNPB dan pemerintah daerah akan tetap memfasilitasi makanan serta kebutuhan dasar lainnya bagi keluarga yang secara sukarela meninggalkan posko pengungsian dan kembali ke rumah," pungkas Berton.

(Lukman Diah Sari)