Ilustrasi dampak bencana hidrometeorologi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim
Yogyakarta Perpanjang Status Siaga Darurat Bencana Hingga Februari
Ahmad Mustaqim • 15 January 2026 13:06
Yogyakarta: Pemerintah Kota Yogyakarta memperpanjang status siaga darurat bencana banjir, longsor, dan cuaca ekstrem hingga Februari 2026. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi risiko bencana, terutama selama puncak musim hujan pada Januari-Februari 2026.
Ketua Tim Kerja Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Yogyakarta, Petrus Singgih Purnomo, mengatakan perpanjangan status siaga darurat bencana dipertimbangkan berdasarkan informasi iklim dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
"Untuk Kota Yogyakarta siaga darurat bencana sudah diperpanjang sampai Februari 2026. Mengingat prediksi puncak musim hujan pada bulan Januari-Februari 2026," kata Singgih di Yogyakarta, Kamis, 15 Januari 2026.
Perpanjangan status siaga bencana ditetapkan dalam Keputusan Wali Kota Yogyakarta Nomor 490 Tahun 2025, yang mengatur perpanjangan siaga darurat bencana banjir, longsor, dan cuaca ekstrem. Status siaga darurat ini berlaku hingga 28 Februari 2026.
Perpanjangan ini juga bertujuan memudahkan penanganan bencana dengan mengkoordinasikan perangkat daerah terkait di Pemkot Yogyakarta. Hal ini penting untuk menyusun program kegiatan guna mengantisipasi dan mengurangi dampak bencana.
BPBD Kota Yogyakarta mencatat sepanjang 2025 terjadi 138 pohon tumbang, 66 atap rusak akibat angin kencang/cuaca ekstrem, 26 kejadian longsor, 12 kejadian banjir luapan, dan satu kejadian gempa bumi. Salah satu contohnya adalah banjir luapan yang terjadi pada Desember 2025 di Bener, Tegalrejo, dan Pakuncen akibat meluapnya Sungai Winongo.
"Selama ini kejadian di Kota Yogya paling banyak pohon tumbang. Januari ini juga ada beberapa pohon tumbang. Makanya kami imbau warga untuk mengurangi atau memangkas sebagian pohon yang rimbun dan lapuk untuk mencegah pohon tumbang," kata Singgih.
BPBD Kota Yogyakarta mencatat dampak hujan lebat dan angin pada 13 Januari 2026, berupa dahan pohon patah di Jatimulyo Kricak dan atap kanopi roboh di Notoprajan Ngampilan. Tim Reaksi Cepat BPBD, relawan, Kampung Tangguh Bencana, serta masyarakat setempat telah bergotong royong mengevakuasi pohon tumbang tersebut.

Ilustrasi bencana alam. Medcom
Kepala Stasiun Klimatologi DIY, Reni Kraningtyas menjelaskan bahwa puncak musim hujan di DIY diprediksi terjadi pada Januari-Februari 2026. Curah hujan pada dasarian II Januari 2026 diperkirakan berada dalam kategori menengah-tinggi, dengan kisaran 75-200 mm/dasarian dan sifat hujan Normal hingga Atas Normal.
Untuk dasarian III Januari 2026, curah hujan diprediksi dalam kategori menengah-tinggi, antara 50-200 mm/dasarian, dengan sifat hujan Bawah Normal hingga Normal. Sedangkan curah hujan pada dasarian I Februari 2026 diperkirakan dalam kategori menengah, dengan kisaran 50-150 mm/dasarian dan sifat hujan Bawah Normal.
“BMKG menghimbau kepada pemerintah daerah, institusi terkait dan seluruh masyarakat untuk lebih siap dan antisipatif terhadap waspada puncak musim hujan, terutama di wilayah rawan banjir, tanah longsor dan angin kencang dengan melakukan tindakan mitigasi bencana," ungkap Reni.