Banjir melanda Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara. Dokumentasi/BNPB
Dua Tewas dan Ribuan Jiwa Terdampak Banjir di Halmahera Barat
Silvana Febiari • 8 January 2026 15:19
Halmahera Barat: Banjir melanda Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara akibat curah hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi sejak Rabu dini hari, 7 Januari 2026. Dua orang dilaporkan meninggal dunia dan ribuan jiwa terdampak.
“Dari kejadian ini, dilaporkan dua orang meninggal dunia di Desa Soasio, Kecamatan Loloda. Selain itu, sebanyak 726 kepala keluarga atau sekitar 3.444 jiwa terdampak langsung,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari dalam keterangan tertulis, Kamis, 8 Januari 2026.
Tercatat sekitar 1.500 jiwa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Mereka menumpang di rumah warga yang tidak terdampak, sekolah, serta balai desa.
“Wilayah terdampak banjir meliputi lima kecamatan dengan sembilan desa, yaitu Kecamatan Ibu (Desa Gamlamo, Tongute Ternate, Tongute Ternate Asal, dan Gamici), Kecamatan Sahu Timur (Desa Gamoneng), Kecamatan Tabaru (Desa Duomo dan Goin), Kecamatan Ibu Selatan (Desa Talaga), serta Kecamatan Loloda (Desa Soasio),” ungkap Abdul.
Abdul menjelaskan kerugian materiil akibat banjir cukup besar. Tercatat 726 unit rumah terdampak dengan rincian 34 unit rumah rusak berat, 3 unit rumah rusak sedang, dan 286 unit rumah rusak ringan.
"Satu unit ruko dilaporkan mengalami kerusakan berat. Kondisi ini semakin memperberat beban masyarakat yang harus kehilangan tempat tinggal dan harta benda akibat bencana," tuturnya.
Dalam penanganan darurat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Halmahera Barat telah berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait asesmen di lokasi terdampak. Upaya evakuasi warga terus dilakukan, terutama bagi kelompok rentan.
"Sebagai langkah awal pemenuhan kebutuhan dasar, BPBD telah menyalurkan bantuan berupa beras sebanyak satu ton dan 500 dus mi instan kepada masyarakat terdampak," imbuh Abdul.

Kondisi banjir di Halmahera Barat. Dokumentasi/BNPB
Saat ini, kebutuhan mendesak di lokasi bencana meliputi tenda, terpal, matras atau alas tidur, makanan siap saji, sembako, paket bayi, selimut, family kit, serta perlengkapan kebersihan. Penanganan bencana melibatkan berbagai unsur, antara lain BPBD, TNI, Polri, Dinas Sosial, Kominfo, PLN, dan Basarnas, yang bersinergi dalam upaya penanganan darurat dan pemulihan awal.
Berdasarkan kondisi terkini, banjir di sebagian wilayah telah mulai surut. Namun curah hujan masih terpantau sangat tinggi. BMKG memperkirakan potensi cuaca ekstrem masih akan berlangsung di wilayah Halmahera Barat pada periode 5–11 Januari 2026.
Jaringan listrik dan akses komunikasi di beberapa lokasi juga masih terputus. Lokasi pengungsian sementara berada di rumah penduduk, SD Tongute Ternate, dan Balai Desa Tongute Ternate Asal.
"Melihat kondisi tersebut, diperlukan penetapan status tanggap darurat oleh Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat guna mempercepat dan mengoptimalkan upaya penanganan bencana," ucap Abdul.
BNPB mengimbau masyarakat Kabupaten Halmahera Barat, khususnya yang berada di wilayah rawan banjir, agar tetap waspada dan mengutamakan keselamatan diri serta keluarga. Warga diminta menghindari daerah rawan dan segera mengungsi ke tempat aman apabila kondisi memburuk, serta mengikuti arahan dan informasi resmi dari pemerintah daerah dan petugas di lapangan.