Indonesia Perkuat Kolaborasi Teknologi AI Asia Tenggara di CAEXPO 2026

Paviliun Indonesia di ajang The 23rd China-ASEAN Expo (CAEXPO) 2026 di Nanning International Convention and Exhibition Center (NICEC), Guangxi, Tiongkok. Istimewa

Indonesia Perkuat Kolaborasi Teknologi AI Asia Tenggara di CAEXPO 2026

Whisnu Mardiansyah • 18 September 2026 00:28

Jakarta: Pemerintah Indonesia mendorong kemitraan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) melalui ajang The 23rd China-ASEAN Expo (CAEXPO) 2026 di Nanning International Convention and Exhibition Center (NICEC), Guangxi, Tiongkok.

CAEXPO 2026 berlangsung pada 17–21 September 2026 dengan mengusung tema “CAFTA 3.0 Opportunities, Better Life”. Selain menjadi forum perdagangan, pameran ini dimanfaatkan untuk menjajaki transfer teknologi, pengembangan arsitektur digital, serta penerapan AI bagi industri dan layanan publik di kawasan Asia Tenggara.

Paviliun Indonesia seluas 2.000 meter persegi di Hall D5 resmi dibuka pada Kamis, 17 September 2026. Pembukaan dihadiri Konsul Jenderal Republik Indonesia di Guangzhou Arianto Surojo, Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Andi Anzhar Cakra Wijaya, serta Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Sarwoto Atmosutarno.

Dari pihak Tiongkok, hadir Wakil Ketua Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Daerah Otonomi Guangxi Zhuang Wu Jiashi dan Deputi Direktur Sekretariat CAEXPO Tang Hongping. Sebelumnya, Wakil Perdana Menteri Pertama Tiongkok Ding Xuexiang membuka CAEXPO 2026. Dalam pidatonya, Ding menyampaikan komitmen Tiongkok untuk memfasilitasi liberalisasi perdagangan jasa dan investasi lintas batas.

Tiongkok juga menyatakan kesiapan berbagi arsitektur digital melalui inisiatif AI Grand Marketplace di CAEXPO. Inisiatif tersebut diarahkan untuk memperluas pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan oleh industri di Asia Tenggara.

Isu pengembangan AI menjadi salah satu perhatian utama dalam keikutsertaan Indonesia. Konsep AI Supermarket yang ditampilkan dalam pameran menghadirkan ratusan perangkat kecerdasan buatan siap pakai untuk berbagai kebutuhan.
 


Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) turut memimpin misi penyerapan arsitektur AI. Langkah tersebut diarahkan untuk mendukung penyusunan kerangka kota pintar atau smart city yang berkelanjutan di Indonesia.

Kemitraan teknologi juga diperkuat Mastel melalui kerja sama dengan China-ASEAN AI Application Cooperation Center. Kolaborasi tersebut berfokus pada transfer teknologi AI untuk mendukung efisiensi operasional dan integrasi manajemen rantai pasok logistik di pelabuhan serta kawasan industri Indonesia.

"Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pemanfaatan teknologi AI dalam berbagai sektor strategis," kata Ketua Umum Mastel Sarwoto Atmosutarno, Kamis, 17 September 2026.

Selain kerja sama AI, CAEXPO 2026 memperkenalkan integrasi transaksi ritel transnasional melalui ekosistem digital Alipay+ yang terhubung dengan dompet digital lokal Indonesia. Perkembangan tersebut memperlihatkan perluasan ekosistem digital dalam hubungan ekonomi Indonesia dan Tiongkok.

Pada hari pertama pameran, kemitraan di sektor teknologi turut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara pelaku usaha digital nasional PT Danadyaksa Patangga Nusantara dan Jiangsu Navston Technology/Galaxy Link.

Kerja sama tersebut berfokus pada pengembangan infrastruktur telekomunikasi berbasis satelit Non-Geostationary Orbit (N-GSO) di Indonesia dan kawasan regional.

Dorongan terhadap kemitraan AI berlangsung bersamaan dengan upaya Indonesia memperluas pasar ekspor dan meningkatkan nilai tambah produk. Paviliun Indonesia menampilkan sejumlah sektor usaha, seperti makanan olahan, sarang burung walet premium siap konsumsi, perhiasan, furnitur, serta produk hilirisasi.

"CAEXPO menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dan Tiongkok. Nilai perdagangan kedua negara pada 2025 tercatat USD154,58 miliar dengan tren pertumbuhan 21 persen. Sementara itu, nilai perdagangan pada periode Januari–Juni 2026 mencapai USD100,04 miliar," kata Konsul Jenderal RI di Guangzhou Arianto Surojo. 

Arianto menegaskan arah ekspor Indonesia perlu didorong menuju produk bernilai tambah, termasuk besi, baja, dan feronikel, bukan hanya bahan mentah.

Wakil Ketua Umum Bidang Diplomasi Multilateral Kadin Indonesia Andi Anzhar Cakra Wijaya mengatakan implementasi CAFTA 3.0 perlu dimanfaatkan untuk mengurangi tarif dan hambatan non-tarif. Menurutnya, fase ketiga kerja sama tersebut membuka peluang bagi rantai pasok industri manufaktur dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia.

Promosi investasi turut dilakukan melalui keikutsertaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (FTZ) Bintan-Karimun. Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad memimpin pertemuan bilateral dengan sejumlah investor asal Tiongkok untuk membahas potensi investasi di kawasan tersebut.

Sinergi lintas sektor di Paviliun Indonesia juga diperkuat oleh kehadiran PT Pertamina (Persero) bersama UMKM binaannya, PT Maspion, PT Pelindo (Persero), serta Krakatau Sarana Infrastruktur.

Melalui CAEXPO 2026, Indonesia tidak hanya menawarkan produk dan peluang investasi, tetapi juga membuka ruang kolaborasi teknologi. Kemitraan AI, transfer pengetahuan digital, dan pengembangan infrastruktur telekomunikasi menjadi bagian dari agenda kerja sama yang didorong dalam hubungan Indonesia dengan Tiongkok dan negara-negara ASEAN.

(Whisnu M)