Dorong Ekosistem Kendaraan Listrik, PT Vale Pacu Proyek HPAL Morowali

Vale Indonesia. Foto: Vale Indonesia.

Dorong Ekosistem Kendaraan Listrik, PT Vale Pacu Proyek HPAL Morowali

Gervin Nathaniel Purba • 26 July 2026 00:10

Jakarta: PT Vale Indonesia Tbk, anggota Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID, mencatat kemajuan dalam pengembangan proyek hilirisasi nikel melalui pembangunan fasilitas High Pressure Acid Leaching (HPAL) Sambalagi di Morowali, Sulawesi Tengah. Perusahaan telah menghadirkan komponen utama autoclave, yang menjadi tahapan penting dalam pembangunan fasilitas tersebut.

HPAL merupakan pabrik pemurnian (refinery) menggunakan metode hidrometalurgi untuk mengekstrak nikel dan kobalt dari bijih nikel laterit kadar rendah (limonit). Diharapkan, pabrik yang dibangun dalam tiga jalur produksi (Line A, B, dan C) ini mencapai first mechanical completion pada akhir 2026. 

Capaian ini mempertegas komitmen hilirisasi Indonesia yang berdaya saing tinggi, berbasis standar hijau, serta mampu mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi daerah. Adapun, proyek ini menjadi bagian Indonesia Growth Project (IGP) Morowali, salah satu proyek strategis nasional dalam mendorong hilirisasi mineral di Indonesia dengan total investasi USD2 miliar. 

Pengamat tambang dan energi Ferdy Hasiman menilai pembangunan HPAL sudah menjadi kebutuhan strategis bagi pelaku industri nikel, bukan lagi sekadar pilihan. Menurutnya, perusahaan yang tidak berinvestasi pada proyek hilirisasi berisiko tertinggal dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik yang kini berkembang pesat.

"Sebagian besar belanja modal (capex) perusahaan tambang saat ini memang diarahkan untuk pembangunan HPAL karena fasilitas ini akan menjadi tulang punggung ekosistem kendaraan listrik. Sejauh ini, MIND ID melalui Vale termasuk yang paling agresif mengembangkan proyek tersebut," ujar Ferdy, dikutip keterangan tertulis, Sabtu, 25 Juli 2026.

Ia menambahkan, pemerintah dan Danantara juga telah aktif mendorong percepatan hilirisasi dengan dukungan investasi bernilai triliunan rupiah. Menurut Ferdy, agresivitas Vale turut didukung pengalaman jajaran manajemen yang memahami pengembangan proyek HPAL.

"Di samping itu, (Vale juga diuntungkan dengan) beberapa perusahaan nikel (swasta) lain memang tidak terlalu agresif sejak dua tahun terakhir. Kemungkinan besar regulasi kita yang sering berubah-ubah," aku dia.
 



(Ilustrasi aktivitas eksplorasi pertambangan. Foto: dok MI)
 

Bangun ekosistem hilirisasi berkelanjutan


Selain meningkatkan nilai tambah mineral, proyek hilirisasi yang dijalankan PT Vale juga diarahkan untuk memperkuat kolaborasi internasional dalam pengembangan industri nikel berkelanjutan.

Kemitraan strategis antara Indonesia, Korea Selatan, dan Tiongkok diharapkan mampu mendukung tata kelola industri rendah karbon sekaligus memperkuat aspek keberlanjutan sosial.

Pada kesempatan terpisah, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani menilai proyek HPAL Vale tidak hanya menghadirkan fasilitas industri, tetapi juga membangun ekosistem hilirisasi yang terintegrasi.

"Proyek hilirisasi Vale menempatkan standar baru dalam kolaborasi internasional yang selaras dengan kepentingan nasional: membangun kedaulatan sumber daya, membuka lapangan kerja, serta menciptakan nilai tambah tinggi yang mendukung agenda Net Zero Emissions," ucap Rosan.

Menurut Rosan, pengembangan proyek tersebut diharapkan mampu memperkuat daya saing industri pengolahan mineral Indonesia sekaligus mendukung percepatan transisi menuju ekosistem kendaraan listrik.

(Husen Miftahudin)