Kebakaran di Bandung Barat Tembus 143 Kejadian hingga Juli 2026

Ilustrasi - Sejumlah petugas gabungan saat memadamkam kebakaran yang terjadi di semak-semak lahan terbuka. ANTARA/HO-Pemkab Bandung.

Kebakaran di Bandung Barat Tembus 143 Kejadian hingga Juli 2026

Lukman Diah Sari • 13 August 2026 22:56

Bandung Barat: Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, mencatat sebanyak 143 kejadian kebakaran sepanjang Januari hingga Juli 2026. Kepala Disdamkarmat KBB, Siti Aminah Anshoriah, mengatakan bahwa jumlah kasus melonjak tajam pada Juli yang mencapai 73 kejadian seiring masuknya musim kemarau yang membuat kondisi menjadi kering.

"Peristiwa kebakaran di musim kemarau ini memang naik drastis. Kejadian paling tinggi jumlahnya itu pada bulan Juli, ada 73 kasus kebakaran. Bahkan pernah sehari ada tujuh kejadian," kata Siti, di Bandung Barat, Kamis, 13 Agustus 2026, melansir Antara.

Berdasarkan catatan Disdamkarmat KBB, 9 kejadian kebakaran terjadi pada Januari, 7 kejadian pada Februari, 17 kejadian pada Maret, 8 kejadian pada April, 9 kejadian pada Mei, 20 kejadian pada Juni, dan meningkat menjadi 73 kejadian pada Juli.

Siti menjelaskan bahwa mayoritas kebakaran terjadi di kebun dan lahan kosong yang banyak ditumbuhi rumput, alang-alang, ranting, serta daun kering yang mudah terbakar ketika terkena sumber api, terlebih dalam kondisi cuaca panas dan kering.

"Paling banyak memang di lahan kosong sama kebun. Alang-alangnya, kan, kering jadi mudah terbakar, ditambah angin kencang jadi lebih cepat menyebar. Ada juga rumah dan lainnya," ujarnya.

Menurut dia, faktor kelalaian manusia menjadi salah satu penyebab dominan kebakaran, di antaranya meninggalkan sisa pembakaran yang belum padam dan membuang puntung rokok sembarangan.

"Paling dominan memang faktor kelalaian. Jadi contohnya puntung rokok saja kalau dibuang sembarangan, itu bisa jadi pemicu kalau cuaca panas seperti sekarang," katanya.

Ilustrasi.  (ANTARA/Firman)

Disdamkarmat KBB mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, khususnya di sekitar lahan kering.

Siti mengatakan bahwa kondisi kering dan angin kencang membuat risiko kebakaran tidak hanya mengancam kebun dan lahan kosong, tetapi juga dapat merambat ke permukiman maupun tempat pembuangan sampah.

"Jadi, masyarakat harus lebih berhati-hati di musim kemarau ini karena api tidak pilih-pilih tempat. Kelalaian sedikit saja bisa menyebabkan kebakaran," tutupnya.

(Lukman Diah Sari)