Suasana di sekitar pesisir Kepulauan Selayar yang sepi aktivitas, karena sebagian warganya masih memilih mengungsi di wilayah perbukitan akibat trauma dengan dampak gempa di Flores, NTT. ANTARA/ Suriani Mappong
50 KK di Selayar Masih Bertahan di Pengungsian Usai Gempa
Deny Irwanto • 17 August 2026 07:00
Makassar: Sekitar 50 Kepala Keluarga (KK) di Kabupaten Kepulauan Selayar masih bertahan di pengungsian di wilayah perbukitan usai gempa yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Para warga tersebut mengalami trauma.
"Mereka masih trauma dengan kejadian serupa pada 2021 sehingga 50-an KK di Kecamatan Pasimarannu masih memilih tinggal di lokasi perbukitan," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Kepulauan Selayar, Muhammad Ikbal, seperti dilansir Antara, Minggu, 16 Agustus 2026.
Saat itu gempa yang berpusat di wilayah Flores turut dirasakan kuat di Selayar, khususnya Kecamatan Pasilambena dan Pasimarannu. Sejumlah rumah warga mengalami kerusakan parah, bahkan ada yang roboh dan rata dengan tanah.
Menurut dia, warga mempunyai alasan tersendiri sehingga masih bertahan di lokasi pengungsian, karena mereka trauma dengan kejadian sebelumnya, terutama kejadian 2021.
Saat gempa magnitudo 7,0 kembali terjadi, warga di dua kecamatan tersebut secara mandiri menyelamatkan diri menuju kawasan perbukitan. Di Pasimarannu tercatat sekitar 278 KK mengungsi, sementara di Pasilambena sekitar 130 KK.

Suasana di sekitar pesisir Kepulauan Selayar yang sepi aktivitas, karena sebagian warganya masih memilih mengungsi di wilayah perbukitan akibat trauma dengan dampak gempa di Flores, NTT. ANTARA/ Suriani Mappong
Namun, warga Pasilambena kini telah berangsur kembali ke rumah. Sementara di Pasimarannu, sekitar 20 persen dari total pengungsi atau kurang lebih 50 KK masih memilih bertahan di perbukitan.
Menurut dia sebagian warga sebenarnya telah kembali ke rumah pada siang hari untuk beraktivitas. Namun, ketika sore tiba, mereka kembali menuju lokasi pengungsian yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari permukiman.
Kondisi tersebut menunjukkan kuatnya rasa khawatir warga terhadap kemungkinan gempa susulan. Ikbal menyebut, sebagian warga biasanya bertahan selama tiga hingga empat hari di lokasi pengungsian.
Selain faktor trauma, kondisi geografis juga menjadi tantangan bagi penanganan pengungsi. BPBD Selayar harus menempuh jalur laut sekitar 12 jam untuk mengakses wilayah terdampak dan menyalurkan bantuan logistik. Untuk sementara, kebutuhan warga yang mengungsi masih dipenuhi secara mandiri.
13 Rumah Terdampak
Gempa juga berdampak pada sejumlah bangunan di Selayar. BPBD mencatat 13 rumah mengalami kerusakan, terdiri atas sembilan rumah rusak ringan dan empat rumah rusak sedang.
Sebagian rumah di Kecamatan Pasilambena bahkan terdampak hempasan air laut yang masuk ke permukiman setelah getaran gempa. Selain rumah, sejumlah perahu nelayan juga mengalami kerusakan atau terbawa hingga ke daratan.
Meski menimbulkan kerusakan, gempa tersebut dilaporkan tidak menyebabkan rumah warga ambruk maupun korban luka dan jiwa di Selayar.