84 Hari Tanpa Hujan, Bima Kekeringan Ekstrem

Ilusrasi kekeringan. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/nym.

84 Hari Tanpa Hujan, Bima Kekeringan Ekstrem

Lukman Diah Sari • 14 August 2026 20:46

Mataram: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hari tanpa hujan di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), telah mencapai 84 hari atau hampir tiga bulan, yang membuat daerah itu masuk kategori kekeringan ekstrem.

"Kecamatan Belo dan Kecamatan Bolo di Kabupaten Bima menempati daerah paling lama tanpa hujan," kata Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB, Suci Agustiarini, dalam pernyataannya di Mataram, Jumat, 14 Agustus 2026, melansir Antara.

BMKG menetapkan peringatan dini kekeringan meteorologis level awas di Kecamatan Belo dan Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima. Sejumlah wilayah lain di Bima juga masuk level siaga, yakni Kecamatan Donggo, Lambitu, Lambu, Madapangga, Palibelo, Soromandi, dan Wawo.

Status kekeringan meteorologis level awas juga disematkan pada Kecamatan Labuhan Haji dan Suela di Kabupaten Lombok Timur; Kecamatan Jereweh di Kabupaten Sumbawa Barat; serta Kecamatan Labuhan Badas, Moyo Utara, Sumbawa, Unter Iwes, dan Lape di Kabupaten Sumbawa. Kemudian, Kecamatan Kilo dan Pajo di Kabupaten Dompu, serta Kecamatan Raba di Kota Bima juga berstatus awas kekeringan meteorologis.

Pada dasarian I Agustus 2026, curah hujan di Nusa Tenggara Barat secara umum didominasi kategori rendah dengan kisaran 0 hingga 10 milimeter per dasarian. Curah hujan tertinggi tercatat di Pos Hujan Kokok Putih, Sembalun, sebesar 47 milimeter per dasarian. BMKG memperkirakan kondisi kering masih terus berlanjut hingga beberapa pekan ke depan seiring dengan masuknya puncak musim kemarau dan pengaruh El Nino.

Sungai Cisadane di Tangerang, Banten mengalami penyusutan air dampak musim kemarau. ANTARA/HO-BPBD Kota Tangerang

Pada dasarian II Agustus atau periode 11 hingga 20 Agustus 2026, potensi hujan di seluruh wilayah Nusa Tenggara Barat sangat kecil dengan peluang kurang dari 10 persen. Fenomena El Nino saat ini berada pada kategori sangat kuat dengan indeks Nino3.4 sebesar +2,45 derajat Celsius. Fenomena tersebut turut memperkuat kondisi musim kemarau di wilayah Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Barat.

Suci mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak guna mengantisipasi potensi krisis air bersih akibat periode tanpa hujan yang semakin panjang. Ia meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan, lahan, dan permukiman dengan tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan serta tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan.

(Lukman Diah Sari)