Ilustrasi garam. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu Artanti.
Kurangi Impor Garam, KPI-PT Garam Siapkan Pabrik Berkapasitas 1 Juta Ton
Ade Hapsari Lestarini • 30 January 2026 09:22
Jakarta: Kilang Pertamina Internasional (KPI) menjajaki kerja sama produksi garam dengan PT Garam melalui pembangunan pabrik pemrosesan garam di Balikpapan. Kolaborasi ini memanfaatkan potensi pengolahan air laut di Kilang Balikpapan sebagai bagian dari penguatan hilirisasi industri nasional.
Penjajakan kerja sama tersebut ditandai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara oleh Direktur Utama KPI Taufik Aditiyawarman dan Direktur Utama PT Garam Abraham Mose pada Rabu, 28 Januari 2026. Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam mendukung program substitusi impor garam industri serta memperkuat ketahanan pasokan nasional. Saat ini, sekitar 64 persen kebutuhan garam nasional masih dipenuhi dari impor.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menyebut kolaborasi KPI dan PT Garam sebagai tonggak penting dalam agenda hilirisasi. Menurut Agung, kerja sama ini mendorong kemandirian energi sekaligus pangan.
"Ibarat mobil, kolaborasi antara KPI dan PT Garam adalah double gardan kemandirian. Tak hanya kemandirian energi yang menjadi domain Pertamina, tapi juga akan menciptakan pangan," ujar Agung, dalam keterangan tertulis, Jumat, 30 Januari 2026.
Kurangi impor garam hingga Rp2,5 triliun
Agung menambahkan, pembangunan pabrik garam di Balikpapan dengan perkiraan kapasitas 1.000 KTA dapat mengurangi impor hingga USD150 juta atau sekitar Rp2,5 triliun. Proyek ini diharapkan memberi multiplier effect melalui pengambangan kawasan industri dan penciptaan lapangan kerja baru, sehingga memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen garam industri di kawasan Asia Tenggara.
Direktur Utama PT Garam, Abraham Mose, menyampaikan proyek hilirisasi garam nasional ini akan memanfaatkan air buangan desalinasi (brine water) dari kilang RDMP Balikpapan. Berdasarkan survei dan analisis awal, proyek ini diperkirakan mampu menghasilkan sekitar satu juta ton garam per tahun.

Kilang Pertamina Internasional berkolaborasi dengan PT Garam. Foto: dok Pertamina.
Abraham menegaskan, kebutuhan garam nasional mencapai 5,7 juta ton per tahun dan akan meningkat hingga 7,3 juta ton seiring pembangunan fasilitas chlor alkali plant. Saat ini, PT Garam baru mampu memproduksi sekitar 500 ribu ton, sehingga masih ada kesenjangan besar.
"Ini menjadi tugas kita bersama, bagaimana memenuhi kebutuhan garam nasional sehingga Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri," ujar Abraham Mose.
Dukungan Danantara
Managing Director 2 Danantara, Setyo Hantoro, menegaskan dukungan terhadap kerja sama tersebut sebagai bagian dari strategi hilirisasi BUMN. Danantara menyiapkan 41 program strategis, dengan 20 di antaranya fokus pada hilirisasi energi dan pangan, termasuk garam, bioetanol, dan bioavtur. Sisanya mencakup sektor lain yang juga penting bagi pertumbuhan ekonomi.
Kerja sama KPI dan PT Garam sejalan dengan startegi hilirisasi yang digencarkan Danantara dan pemerintah. Tujuannya tidak lain adalah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional delapan persen.
"Dengan strategi ini, Danantara berharap sinergi antar-BUMN dapat memperkuat ketahanan pangan dan energi, sekaligus menjadikan Indonesia lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan industri dan masyarakat," ujar Setyo.
Dasar kerja sama ini adalah Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional. Perpres tersebut menetapkan tiga kewajiban utama:
- Pemenuhan garam konsumsi dan sebagian industri dari produksi dalam negeri pada 2025.
- Pemenuhan garam industri pangan dan farmasi paling lambat 31 Desember 2025.
- Pemenuhan garam industri kimia paling lambat 31 Desember 2027.