Kapal Gerald R. Ford Class. Dok. Reuters
10 Kapal Induk Terbesar di Dunia, Bobot Tertinggi 100.000 Ton Lebih
Muhamad Marup • 3 September 2026 20:21
Jakarta: Kapal perang menjadi salah satu bagian penting dalam kekuatan militer suatu negara. Ukurannya pun beragam mulai dari kapal berukuran kecil hingga kapal raksasa yang mampu membawa ribuan personel dan berbagai peralatan tempur.
Salah satu jenis kapal perang dengan ukuran terbesar adalah kapal induk. Kapal ini dilengkapi fasilitas penerbangan, persenjataan, serta teknologi pendukung yang memungkinkan operasi militer dilakukan dari tengah laut.
Kapal induk modern dapat memiliki bobot hingga lebih dari 100 ribu ton dan membawa puluhan pesawat. Pengoperasiannya juga membutuhkan biaya besar karena melibatkan ribuan awak serta berbagai kebutuhan untuk mendukung aktivitas kapal dan pesawat.
Kapal induk berukuran sangat besar atau supercarrier umumnya dimiliki negara dengan kemampuan ekonomi dan militer yang kuat. Amerika Serikat menjadi negara yang paling dominan dengan mengoperasikan 11 supercarrier, disusul China.
Berikut 10 kapal induk terbesar di dunia berdasarkan bobot perpindahannya.
1. Gerald R. Ford Class
Gerald R. Ford menjadi kapal induk terbesar yang pernah dibuat dengan bobot lebih dari 100 ribu ton. Kapal milik Amerika Serikat ini juga membawa sejumlah teknologi baru untuk meningkatkan kemampuan penerbangan dan operasi di laut.Salah satu teknologi utamanya adalah sistem peluncuran pesawat elektromagnetik atau EMALS serta sistem penahan pesawat AAG. Kapal ini juga dilengkapi reaktor modern, tingkat otomatisasi lebih tinggi, dan kapasitas listrik yang lebih besar.
Pengembangan kelas Ford memang tidak sepenuhnya berjalan mulus, tetapi kapal ini diperkirakan dapat digunakan hingga 50 tahun. Amerika Serikat tetap mengandalkannya di tengah kekhawatiran mengenai kerentanan kapal induk terhadap jaringan anti-access/area denial (A2/AD) China.
Biaya pembangunan yang diperkirakan mencapai USD13 miliar per unit membuat kapal ini harus mampu memberikan kemampuan tempur yang sebanding dengan investasi yang dikeluarkan.
- Pengguna: US Navy
- Masa dinas: 2017–sekarang
- Jumlah dibuat: 1 unit, 3 sedang dibangun, dan 10 direncanakan
- Bobot perpindahan: lebih dari 100.000 ton
- Kapasitas pesawat: sekitar 90 unit
2. Nimitz Class
Selama puluhan tahun, kelas Nimitz menjadi tulang punggung penerbangan angkatan laut Amerika Serikat. Sebanyak 10 unit dibangun sejak 1970-an dan kapal-kapal tersebut masih digunakan hingga sekarang.Kemampuan kapal ini memungkinkan Amerika Serikat membawa kelompok pesawat dalam jumlah besar untuk menjalankan misi di berbagai wilayah dunia. Pengoperasiannya tidak bergantung pada pengisian bahan bakar secara rutin karena kapal menggunakan tenaga nuklir.
Jejak operasinya mencakup kawasan Timur Tengah, Balkan, hingga Indo-Pasifik. Dalam sekitar lima dekade, kapal kelas Nimitz juga terlibat dalam hampir seluruh operasi militer besar Amerika Serikat.
Dengan daya tahan nuklir, ukuran yang besar, dan kemampuan menghasilkan penerbangan dalam jumlah tinggi, Nimitz menjadi salah satu acuan utama dalam pengembangan supercarrier modern.
- Pengguna: US Navy
- Masa dinas: 1975–sekarang
- Jumlah dibuat: 10 unit
- Bobot perpindahan: sekitar 100.000 ton
- Kapasitas pesawat: sekitar 90 unit
3. USS Enterprise (CVN-65)
%20dok_%20Reuters.jpg)
Kapal USS Enterprise. Dok. Reuters
Jauh sebelum Nimitz dan Gerald R. Ford, Amerika Serikat telah mengembangkan USS Enterprise sebagai kapal induk bertenaga nuklir pertama di dunia. Kapal yang hanya dibuat satu unit ini juga pernah menjadi kapal perang terpanjang yang dibangun selama beberapa dekade.
Enterprise mulai bertugas pada 1961 dengan dukungan delapan reaktor nuklir. Sepanjang masa operasinya, kapal ini menjalankan misi dalam Perang Vietnam, berbagai konflik era Perang Dingin, intervensi NATO di Yugoslavia, hingga perang melawan terorisme.
Pengalaman dari kapal tersebut menjadi bagian penting dalam perkembangan kapal induk nuklir Amerika Serikat. Kemampuan beroperasi dalam waktu lama dan membawa kekuatan udara ke berbagai kawasan turut memengaruhi rancangan kelas Nimitz.
USS Enterprise meninggalkan status aktif pada 2012 dan secara resmi mengakhiri masa dinasnya pada 2017.
- Pengguna: US Navy
- Masa dinas: 1961–2017, meninggalkan status aktif pada 2012
- Jumlah dibuat: 1 unit
- Bobot perpindahan: sekitar 93.000–94.000 ton
- Kapasitas pesawat: 60 unit dalam kondisi normal dan dapat meningkat hingga 90 unit dalam keadaan darurat
4. Kitty Hawk Class
Berbeda dari tiga kapal sebelumnya, kelas Kitty Hawk mengandalkan tenaga konvensional. Kapal ini tercatat sebagai kapal induk bertenaga nonnuklir terbesar yang pernah dioperasikan Amerika Serikat.Mulai masuk dinas pada 1960-an, kapal-kapal tersebut mendukung operasi selama Perang Dingin dan menjalankan penerbangan tempur dalam Perang Vietnam. Kelas Kitty Hawk juga memperkenalkan sejumlah pembaruan seperti geladak miring dan sistem radar yang lebih maju.
Tiga unit kapal dibangun sebelum seluruh kelas tersebut akhirnya memasuki masa pensiun. USS Kitty Hawk menjadi kapal induk supercarrier nonnuklir terakhir Amerika Serikat ketika pensiun pada 2009.
Ukuran besar kapal membuktikan bahwa kemampuan penerbangan dalam skala besar dapat dijalankan tanpa reaktor nuklir. Namun, penggunaan tenaga konvensional membuat kebutuhan pengisian bahan bakar menjadi salah satu tantangan dalam pengoperasiannya.
- Pengguna: US Navy
- Masa dinas: 1961–2009
- Jumlah dibuat: 3 unit
- Bobot perpindahan: 83.000 ton
- Kapasitas pesawat: 70–85 unit
5. Admiral Kuznetsov

Kapal Admiral Kuznetsov. Dok. Reuters
Admiral Kuznetsov memiliki karakter berbeda karena bukan hanya dirancang sebagai kapal pembawa pesawat. Kapal Rusia ini secara resmi dikategorikan sebagai aircraft-carrying cruiser dan juga membawa persenjataan rudal untuk mendukung pertahanan dirinya.
Ciri yang mudah dikenali adalah penggunaan ski-jump pada bagian depan geladak untuk membantu pesawat melakukan lepas landas. Konsep tersebut mencerminkan pendekatan Soviet yang memberikan perhatian besar terhadap kemampuan pertahanan kapal selain operasi penerbangan.
Dalam beberapa tahun terakhir, kapal ini lebih banyak berada dalam kondisi tidak aktif. Masalah sistem propulsi dan berbagai kecelakaan membuat Admiral Kuznetsov menjalani proses perbaikan dalam waktu panjang.
Pada 2025 muncul laporan bahwa Rusia berencana membongkar kapal tersebut setelah tidak lagi mengandalkannya. Namun, Kremlin belum memberikan konfirmasi terbuka mengenai rencana tersebut sehingga masa depan kapal masih belum jelas.
- Pengguna: Russian Navy
- Masa dinas: 1991–sekarang, tidak aktif sejak 2017
- Jumlah dibuat: 1 unit
- Bobot perpindahan: 67.500 ton
- Kapasitas pesawat: 26 unit
6. Shandong (Type 002)
China memasuki daftar ini melalui Shandong, kapal induk pertama yang dibangun secara mandiri oleh negara tersebut. Kapal ini merupakan pengembangan dari desain Liaoning dengan ukuran lebih besar serta sistem dan kualitas konstruksi yang ditingkatkan.Walaupun masih menggunakan ski-jump, sejumlah kemampuan Shandong dibuat lebih baik dibanding kapal pendahulunya. Kapal tersebut ditempatkan di armada selatan China dan menjadi bagian dari perhatian Beijing terhadap kawasan Laut China Selatan.
Penggunaan ski-jump tetap memberikan batasan dalam proses peluncuran pesawat jika dibandingkan dengan kapal yang memakai sistem ketapel. Meski begitu, Shandong menunjukkan kemajuan kemampuan industri pertahanan China dalam membangun kapal induk sendiri.
Keberadaan kapal ini juga menjadi langkah bagi China untuk membangun kemampuan mengoperasikan beberapa kelompok tempur kapal induk secara bersamaan.
- Pengguna: People’s Liberation Army Navy
- Masa dinas: 2019–sekarang
- Jumlah dibuat: 1 unit
- Bobot perpindahan: 66.000–70.000 ton
- Kapasitas pesawat: 40–44 unit
7. Queen Elizabeth Class
Inggris memiliki kelas Queen Elizabeth yang terdiri dari HMS Queen Elizabeth dan HMS Prince of Wales. Keduanya merupakan kapal perang terbesar yang pernah dibuat untuk Royal Navy.Kapal ini menggunakan konsep STOVL atau short takeoff/vertical landing untuk mengoperasikan pesawat F-35B Lightning II. Desain twin-island yang digunakan juga memberikan pengaturan berbeda untuk kebutuhan komando dan aktivitas penerbangan.
Tidak adanya ketapel menjadi salah satu perbedaan utama kelas ini dibandingkan kapal induk Amerika Serikat. Meski begitu, ukuran besar, teknologi modern, dan tingkat otomatisasi membuat kapal tersebut mampu mendukung operasi udara laut dalam skala besar.
Kehadiran kelas Queen Elizabeth sekaligus menandai kembalinya Inggris memiliki kemampuan kapal induk untuk menjalankan operasi global secara mandiri.
- Pengguna: Royal Navy, Inggris
- Masa dinas: 2017–sekarang
- Jumlah dibuat: 2 unit
- Bobot perpindahan: 65.000 ton
- Kapasitas pesawat: 40 unit dalam kondisi normal dan dapat meningkat hingga 72 unit saat keadaan darurat atau perang
8. Midway Class
Kelas Midway berasal dari era Perang Dunia II dan menjadi rancangan kapal induk terbesar pada masa tersebut. Dari enam unit yang awalnya direncanakan, hanya tiga kapal yang selesai dibangun sebelum perang berakhir dan sisanya dibatalkan.Pada awalnya, kapal-kapal ini dibuat untuk mengoperasikan pesawat bermesin baling-baling. Perubahan teknologi penerbangan setelah perang kemudian mendorong modernisasi dengan penambahan geladak miring, ketapel uap, serta struktur yang lebih kuat untuk mendukung pesawat jet.
Memasuki periode Perang Dingin, ukuran Midway bahkan mampu menyaingi kapal induk generasi yang lebih baru. USS Midway sendiri bertahan dalam dinas hingga 1992 dan ikut dalam berbagai operasi, mulai dari Perang Vietnam hingga Operation Desert Storm.
- Pengguna: US Navy
- Masa dinas: 1945–1992
- Jumlah dibuat: 3 unit
- Bobot perpindahan: 65.000 ton
- Kapasitas pesawat: sekitar 130 pesawat baling-baling dan kemudian turun menjadi sekitar 60–70 pesawat jet
9. Liaoning (Type 001)
Perjalanan Liaoning bermula dari Uni Soviet, bukan dari galangan kapal China. Kapal ini awalnya dibangun pada 1980-an dengan nama Varyag, tetapi belum selesai ketika Uni Soviet bubar pada 1991.Badan kapal kemudian berada di Ukraina yang menghadapi keterbatasan anggaran untuk melanjutkan pembangunannya. China membeli kapal tersebut pada 1998 melalui perusahaan perantara di Makau dengan alasan akan menjadikannya hotel dan kasino terapung. Rencana itu tidak pernah menjadi kenyataan karena kapal akhirnya dibawa ke China untuk diselesaikan. Pada 2012, kapal tersebut resmi masuk dinas dengan nama Liaoning dan menjadi kapal induk pertama China.
Saat ini, kapal mengandalkan konfigurasi ski-jump dan mengoperasikan pesawat tempur J-15. Peran utamanya lebih banyak berkaitan dengan pelatihan dan pengembangan doktrin, sementara kemampuan tempurnya masih terbatas dibandingkan kapal induk Amerika Serikat.
Meski begitu, Liaoning memiliki arti penting dalam perkembangan militer China. Kapal ini menjadi dasar pembelajaran bagi pengembangan penerbangan kapal induk dan memperkuat ambisi Beijing membangun armada laut dengan kemampuan operasi jarak jauh.
- Pengguna: People’s Liberation Army Navy, China
- Masa dinas: 2012–sekarang
- Jumlah dibuat: 1 unit
- Bobot perpindahan: 60.000–65.000 ton
- Kapasitas pesawat: 36 unit
10. Charles de Gaulle (R91)
Prancis mengandalkan Charles de Gaulle sebagai kapal induk bertenaga nuklir yang telah beroperasi sejak 2001. Kapal ini menjadi satu-satunya kapal induk nuklir yang dibangun di luar Amerika Serikat, meski China saat ini juga tengah membangun kapal induk dengan tenaga nuklir.Berbeda dengan sejumlah kapal induk yang menggunakan ski-jump, Charles de Gaulle dilengkapi ketapel uap. Sistem tersebut memungkinkan kapal meluncurkan pesawat tempur konvensional seperti Dassault Rafale.
Kapal ini sempat mengalami persoalan pada sistem propulsi pada awal masa pengabdiannya. Setelah menjalani peningkatan, operasional kapal menjadi lebih stabil dan Charles de Gaulle kemudian digunakan dalam berbagai misi tempur di Timur Tengah.
Kapal tersebut juga mendukung operasi militer Prancis di Afghanistan, Irak, dan Suriah. Angkatan Laut Prancis telah mengumumkan pembangunan kapal pengganti sehingga Charles de Gaulle diperkirakan memasuki masa-masa terakhir dalam perjalanan dinasnya.
- Pengguna: French Navy
- Masa dinas: 2001–sekarang
- Jumlah dibuat: 1 unit
- Bobot perpindahan: sekitar 42.500 ton
- Kapasitas pesawat: 35–40 unit
(Angel Rinella)