Presiden AS Donald Trump. Foto: Anadolu Agency.
Ini Alasan Trump 'Menggebu-gebu' Caplok Greenland
Husen Miftahudin • 22 January 2026 12:51
Jakarta: Greenland seringkali digambarkan sebagai hamparan es raksasa yang sepi. Namun, dibalik lanskapnya yang beku, pulau terbesar di dunia ini menyimpan nilai yang jauh melampaui angka Produk Domestik Bruto (PDB)-nya.
Menurut Bank Dunia, PDB Greenland diperkirakan berkisar USD3,5 miliar hingga USD4 miliar. Bagi Amerika Serikat (AS), minat terhadap Greenland bukan tentang mengambil alih ekonomi kecil yang bergantung pada hibah tahunan Denmark sebesar 3,9 miliar DKK, melainkan terdapat faktor lain yang membuat Greenland sangat menarik.
Mengutip laman Euro News, berikut faktor yang membuat Trump bersikukuh ingin mencaplok wilayah Greenland dalam waktu dekat:
1. Lokasi geografis yang strategis
Alasan utama mengapa Greenland begitu diinginkan adalah lokasinya yang strategis. Terletak di antara Amerika Utara dan Eropa, Greenland berfungsi sebagai benteng pertahanan bagi belahan bumi barat. Pulau ini juga telah menjadi rumah bagi Pangkalan Luar Angkasa Pituffik, landasan sistem peringatan rudal dan pengawasan luar angkasa AS di Arktik.
"Jika kita tidak melakukannya, Rusia atau Tiongkok akan mengambil alih Greenland, dan kita tidak akan menjadikan Rusia atau Tiongkok sebagai tetangga," ungkap Trump, mengutip Euro News, Kamis, 22 Januari 2026.
Trump juga ingin memastikan Greenland tetap berada dalam lingkup pengaruh Barat. Hal ini ditujukan untuk mencegah Rusia atau Tiongkok memperluas jejak militer mereka di Arktik.
| Baca juga: Macron Desak Uni Eropa Lawan Ancaman Trump soal Tarif Tambahan |

(Ilustrasi Greenland dan benderanya. Foto: EFE/EPA/Ida Marie Odgaard)
2. Harta karun di balik lapisan es
Meskipun Greenland saat ini belum memproduksi logam tanah jarang secara massal, potensi bawah tanahnya sangat mencengangkan. Logam tanah jarang (rare earth elements) adalah komponen vital untuk teknologi modern, mulai dari ponsel pintar, mobil listrik, hingga peralatan militer canggih.
Survei Geologi AS memperkirakan Greenland memiliki sekitar 1,5 juta ton cadangan unsur tanah jarang yang dapat ditambang. Di sisi lain, Survei Geologi Denmark dan Greenland (GEUS) memperkirakan bahwa sumber daya unsur tanah jarang negara itu berjumlah sekitar 36,1 juta ton.
3. Patahkan dominasi Tiongkok
Saat ini, Uni Eropa sepenuhnya bergantung pada impor logam tanah jarang berat dari Tiongkok, sementara AS juga sangat bergantung pada rantai pasokan asing.
Tiongkok menguasai sekitar 70 persen volume ekstraksi logam tanah jarang dunia (sekitar 270 ribu ton pada 2024). Uni Eropa dan AS sangat bergantung pada impor ini untuk industri teknologi dan hijau mereka.