Waspada Leptospirosis, Penyakit Berbahaya Pascabanjir Akibat Kencing Tikus

Banjir yang merendam Jalan Raya Ceger Jurangmangu Tangsel. (Metrotvnews.com/Hendrik S)

Waspada Leptospirosis, Penyakit Berbahaya Pascabanjir Akibat Kencing Tikus

Riza Aslam Khaeron • 23 January 2026 16:01

Jakarta: Banjir merendam sejumlah wilayah Jakarta dan sekitarnya pada Jumat, 23 Januari 2026. Banjir terjadi akibat intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa hari terakhir.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat genangan terjadi di 143 RT dan 16 ruas jalan pada Jumat, 23 Januari 2026. Genangan dipicu oleh hujan deras.

Tinggi air dilaporkan mencapai lebih dari satu meter di beberapa titik. Termasuk, di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Selatan.

Selain banjir, Pemprov DKI mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan terhadap leptospirosis. Ini merupakan penyakit yang kerap mengintai setelah banjir.

"Setelah banjir, ada satu penyakit yang wajib kita waspadai, yaitu leptospirosis," tulis Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta melalui akun Instagram resminya @dinkesdki.

Berdasarkan penjelasan Dinkes, leptospirosis adalah penyakit berbahaya yang ditularkan melalui air atau lumpur yang terkontaminasi kencing tikus. Penyakit ini sering muncul setelah banjir. Terutama, ketika warga terpaksa beraktivitas di area yang masih tergenang.

Lantas, apa saja gejala leptospirosis dan bagaimana cara mencegahnya? Berikut ini penjelasan lebih lanjut mengenai penyakit tersebut.

Apa Itu Leptospirosis dan Gejalanya


Ilustrasi: Freepik

Melansir laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Leptospira, yang umumnya ditularkan melalui air atau lumpur yang telah terkontaminasi urine tikus.

Penularan bisa terjadi saat seseorang memiliki luka terbuka atau lecet pada kulit, atau melalui selaput lendir saat bersentuhan langsung dengan air banjir, genangan, atau aliran air kotor seperti selokan.

Penyakit ini sering kali luput dari perhatian masyarakat, padahal keberadaannya meningkat saat musim hujan dan banjir. Tikus sebagai hewan perantara utama sangat aktif di lingkungan yang lembap dan tergenang, menjadikan risiko leptospirosis meningkat tajam setelah banjir.

Beberapa gejala yang umum dialami penderita leptospirosis antara lain:
  • Demam mendadak
  • Rasa lemah yang ekstrem
  • Mata memerah
  • Kulit dan mata tampak kekuningan (ikterik)
  • Sakit kepala hebat
  • Nyeri otot, terutama di betis
Berdasarkan keterangan Dinkes DKI, manusia yang terinfeksi urine tikus biasanya mulai menunjukkan gejala dalam rentang waktu 2 hingga 30 hari, dengan rata-rata pada hari ke-7 hingga ke-10 setelah paparan.

Gejala tersebut kerap disalahartikan sebagai penyakit lain, sehingga penting untuk segera mencari pertolongan medis jika mengalami keluhan usai bersentuhan dengan air banjir.
 
Baca Juga:
Banjir Jakarta Meluas, 143 RT dan 16 Ruas Jalan Tergenang

Cara Mencegah Penyakit Leptospirosis

Kembali mengutip Kemenkes, masyarakat disarankan mengambil sejumlah langkah perlindungan dasar untuk mengurangi risiko tertular leptospirosis. Terutama, ketika harus bersentuhan dengan air atau lumpur pascabanjir. Beberapa upaya pencegahan yang dianjurkan antara lain:
  • Memakai sarung tangan dan sepatu bot saat membersihkan rumah dan selokan
  • Mencuci tangan dengan sabun hingga bersih setelah selesai beraktivitas
Dengan melakukan langkah-langkah tersebut, warga diharapkan dapat menghindari infeksi leptospirosis serta menjaga kesehatan selama musim banjir. Jika muncul gejala yang mengarah pada penyakit ini, segera kunjungi fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan sedini mungkin.

Risiko Penyakit Leptospirosis

Melansir laman Centers for Disease Control and Prevention (CDC), jika tidak segera ditangani, leptospirosis dapat menyebabkan komplikasi serius. Infeksi ini dapat mengakibatkan kerusakan ginjal, peradangan pada selaput otak dan sumsum tulang belakang (meningitis), gagal hati, gangguan pernapasan, bahkan kematian.

Leptospirosis umumnya diobati dengan antibiotik seperti doksisiklin atau penisilin. Pemberian antibiotik sebaiknya dilakukan sedini mungkin setelah gejala muncul dan didiagnosis oleh tenaga kesehatan.

Pada kasus yang lebih parah, pasien mungkin memerlukan antibiotik intravena (infus). Penanganan dini sangat penting karena dapat mencegah keparahan dan mempercepat proses pemulihan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)