Musim Kemarau Picu Karhutla di Jawa-Kalimantan

Tim gabungan berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Kamis, 9 Juli 2026. Dokumentasi/ BPBD Kabupaten Trenggalek

Musim Kemarau Picu Karhutla di Jawa-Kalimantan

Silvana Febiari • 12 July 2026 12:13

Jakarta: Musim kemarau berdampak pada meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Pulau Jawa dan Kalimantan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, karhutla menjadi bencana yang paling banyak terjadi dalam periode 10-11 Juli 2026. 

"Karhutla pertama terjadi di Kabupaten Bojonegoro, pada Kamis (9 Juli) dengan luas lahan terdampak sekitar 4 hektare," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan tertulis, Minggu, 12 Juli 2026. 

Abdul menjelaskan titik api berada di Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk, dan Desa Belun, Kecamatan Temayang. Tim gabungan berhasil memadamkan api pada hari yang sama sehingga kebakaran tidak meluas.
 


"Kabupaten Bojonegoro sebelumnya telah menetapkan status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Karhutla yang berlaku sejak 26 Mei hingga 6 Oktober 2026," jelasnya. 

Karhutla juga terjadi di Desa Jatiprahu, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek. Luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 1 hektare. Petugas gabungan bersama Perhutani berhasil mengendalikan api dan melakukan pembasahan untuk mencegah munculnya titik api baru.


Tim gabungan berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Kamis, 9 Juli 2026. Dokumentasi/ BPBD Kabupaten Trenggalek


Sementara di Kalimantan Timur, karhutla melanda Kelurahan Jawa, Kecamatan Sangasanga, Jumat, 10 Juli 2026. Area terdampak mencapai kurang lebih 3 hektare. Cuaca panas menjadi salah satu faktor yang memicu terbakarnya lahan tersebut.

"Tim gabungan berhasil memadamkan titik api di hari yang sama dan dipastikan kebakaran lahan tidak meluas," ungkap Abdul.

Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), periode 10–12 Juli 2026 sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam musim kemarau. Wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian Kalimantan diperkirakan mengalami cuaca cerah hingga cerah berawan dengan kelembapan rendah, sehingga risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat.

(Silvana Febiari)