Ilustrasi personel membawa dry ice untuk memecah kabut asap karhutla. Foto: Antara.
Mengenal Dry Ice, Teknologi Pemecah Kabut Asap Karhutla
Muhammad Adyatma Damardjati • 24 October 2026 18:55
Jakarta: Pemerintah menggunakan teknologi dry ice untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa teknik tersebut bertujuan untuk mengurangi pekatnya kabut asap akibat karhutla.
"Jadi dry ice yang kita buat saat ini adalah untuk mengurangi visibility yang rendah tersebut," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan, dilansir dari Antara, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Untuk memecah kondisi tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan dry ice atau karbon dioksida padat. Pelet kecil dry ice disemai ke atmosfer untuk mengurai kepekatan asap.
Dikutip dari akun Instagram @infobmkg, proses sublimasi dry ice memicu pendinginan ekstrem yang membantu membuka kembali lapisan inversi. Terbukanya lapisan tersebut memungkinkan asap naik secara vertikal sehingga kualitas udara membaik sekaligus merangsang pertumbuhan awan.
Pelaksanaan OMC dry ice melalui beberapa tahapan. Pertama, pengamatan atmosfer menggunakan radiosonde untuk mengukur profil suhu udara dan mengidentifikasi ketinggian, ketebalan, serta kekuatan lapisan inversi.
Kedua, penentuan lokasi dan ketinggian penyemaian berdasarkan data radiosonde. Operasi diarahkan ke wilayah yang tertutup asap pekat pada ketinggian tertentu.
.jpg)
Ilustrasi langit di Kalimantan Tengah berwarna kuning akibat asap kebakaran hutan dan lahan. Foto: dok. Antara.
Ketiga, penyemaian dan evaluasi. Dry ice dibawa menggunakan pesawat dan disemai ke atmosfer. Setelah penyemaian, perubahan suhu dipantau untuk memastikan lapisan inversi melemah dan kepekatan asap di permukaan berkurang.
Teknologi ini berbeda dengan penyemaian garam (NaCl). Operasi dry ice berfokus mengurai asap saat kemarau puncak ketika awan minim, sedangkan OMC NaCl berfungsi memicu hujan dari awan potensial.
Meski begitu, OMC dry ice bukan pengganti kegiatan pemadaman api, melainkan untuk mengurangi kepekatan asap di atmosfer. Penanganan sumber kebakaran melalui jalur darat maupun water bombing tetap menjadi prioritas utama.