Penandatanganan MoU dengan HEDA, Tiongkok dalam rangkaian BRICS SEZ Hangzhou Dialogue & GDTE 2026. Foto: dok KITB.
Indonesia Perluas Jejaring Investasi ke Tiongkok
Husen Miftahudin • 30 September 2026 19:52
Jakarta: Indonesia memperluas jejaring investasi ke Tiongkok melalui PT Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) sebagai pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, yang melakukan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Hangzhou Economic and Technological Development Area (HEDA), Tiongkok.
Penandatanganan dilakukan dalam rangkaian BRICS SEZ Hangzhou Dialogue & GDTE 2026 di Hangzhou, Tiongkok. Industropolis Batang menjadi perwakilan Special Economic Zone (SEZ) dari Indonesia yang menandatangani MoU dalam forum tersebut.
Direktur Pemasaran dan Pengembangan PT KITB Angga Brahmana Sukma mengatakan kerja sama tersebut diharapkan membuka peluang investasi baru sekaligus memperluas pertukaran pengetahuan antara kedua kawasan.
"Harapannya dengan kerja sama ini membuka platform yang lebih luas lagi untuk kita bisa kerja sama di bidang investasi, tentunya untuk menarik investasi dari negara-negara BRICS, dan yang penting kita bisa mendapatkan transfer of knowledge," ujar Angga seperti dikutip dari keterangan tertulis, Rabu, 30 September 2026.
Dalam MoU tersebut, kerja sama HEDA dan Industropolis Batang mencakup lima bidang utama, yakni dukungan operasional dan bisnis, promosi investasi dan perdagangan, pertukaran kebijakan dan pengalaman, kegiatan bisnis bersama, serta peningkatan kapasitas.
Kerja sama operasional dan bisnis mencakup fasilitasi pertukaran bisnis serta penjajakan perwakilan resmi di masing-masing kawasan. Sementara itu, promosi investasi dan perdagangan mencakup kolaborasi di bidang ekonomi digital, pembangunan hijau dan energi, kesehatan, serta manufaktur peralatan canggih. Kerja sama tersebut juga mencakup dukungan terhadap inisiatif platform "Buy@BRICS" dan "Invest@BRICS".
Kedua pihak juga akan bertukar kebijakan dan pengalaman terkait pengelolaan SEZ, termasuk kebijakan dan layanan bagi investor. Selain itu, akan dilakukan penyelenggaraan bersama BRICS SEZ Dialogue, roadshow, dan business matching. Bidang lainnya berupa peningkatan kapasitas melalui program pelatihan dan studi banding untuk memperkuat kemampuan pengelolaan kawasan.

(Perwakilan KITB dalam rangkaian BRICS SEZ Hangzhou Dialogue & GDTE 2026 di Hangzhou, Tiongkok. Foto: dok KITB)
Penjajakan investasi dan pengembangan kawasan
Kerja sama tersebut juga ditindaklanjuti melalui sejumlah penjajakan. Pemerintah Distrik Qiantang, Hangzhou, menyatakan kesiapan membantu menjembatani ekspansi penanaman modal asing (PMA) asal Tiongkok ke Indonesia dan menjajaki kerja sama lanjutan di sektor biofarmasi.
Delegasi KITB juga menjajaki kolaborasi dengan Hangzhou Qiantang Center for Contemporary Internationalization Studies serta berkoordinasi dengan China Center for Cooperation on SEZs in BRICS Countries (BSCC) untuk menempatkan materi pemasaran Industropolis Batang di marketing gallery BSCC.
Selain itu, delegasi melakukan kunjungan ke sejumlah kawasan pengembangan SEZ di Hangzhou untuk melihat pengembangan ekosistem teknologi tinggi, kolaborasi pemerintah, industri, dan akademisi, serta pengembangan kawasan energi terbarukan dan penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).
Kerja sama tersebut ditopang perkembangan investasi di Industropolis Batang. Hingga September 2026, komitmen investasi di kawasan tercatat mencapai Rp114,5 triliun. Sejumlah perusahaan telah menjalankan kegiatan industri di kawasan tersebut, termasuk perusahaan dari negara anggota maupun mitra BRICS.
PT LBM Energi Baru Indonesia, misalnya, mengembangkan industri material baterai Lithium Ferro Phosphate (LFP) dengan nilai investasi sekitar Rp1,5 triliun di atas lahan seluas 31,72 hektare. Perusahaan tersebut mengembangkan kapasitas produksi hingga 150 ribu ton LFP dan 150 ribu ton FP per tahun serta berpotensi menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja.
Sementara itu, PT TGP Plaspack Lestari asal Malaysia menanamkan investasi sekitar Rp115 miliar dan menyerap sekitar 500 tenaga kerja. Sekitar 85 persen produksinya ditujukan untuk pasar ekspor. PT Trax Sumbiri Indo juga mengembangkan teknologi manufaktur untuk produksi pakaian olahraga yang dipasarkan ke berbagai negara.
Perkembangan industri tersebut turut berdampak pada perekonomian Kabupaten Batang. Pada kuartal II 2026, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Batang tumbuh 8,38 persen. Tingkat pengangguran juga menurun dari 5,67 persen menjadi 5,07 persen.
Kerja sama dengan HEDA diharapkan memperluas konektivitas antara ekosistem industri Indonesia dan Tiongkok, termasuk melalui peluang investasi, pengembangan industri dan teknologi, serta integrasi rantai pasok global.