Modifikasi Cuaca Dry Ice Dioperasikan Urai Asap Karhutla Sumsel

Ilustrasi karhutla. Foto: Dok. Antara Foto.

Modifikasi Cuaca Dry Ice Dioperasikan Urai Asap Karhutla Sumsel

Fachri Audhia Hafiez • 18 October 2026 16:07

Jakarta: Kementerian Kehutanan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan TNI menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) khusus menggunakan bahan semai dry ice. Hal ini guna mengurai dan menipiskan pekatnya asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan (Sumsel).

“Pendekatan secara khusus menggunakan bahan semai dry ice ditujukan untuk menipiskan asap karhutla, dengan memengaruhi kondisi suhu atmosfer dan membantu mengganggu kestabilan lapisan inversi, sehingga pergerakan udara menjadi lebih baik dan konsentrasi asap di dekat permukaan berpotensi berkurang,” ujar Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Thomas Nifinluri dikutip melalui keterangan tertulis, Minggu, 18 Oktober 2026.
 


Thomas menjelaskan, operasi yang berlangsung pada 16–25 Oktober 2026 ini didanai melalui APBN Kementerian Kehutanan. Teknik penyemaian dry ice difokuskan untuk mengurai asap yang terperangkap di lapisan bawah atmosfer.

Pada hari pertama, OMC diterbangkan dalam satu sortie membawa sekitar 800 kilogram dry ice di sekitar wilayah Palembang. Penerbangan selanjutnya direncanakan sebanyak dua sortie per hari atau disesuaikan dengan kondisi atmosfer di lapangan.

Jika lapisan inversi mulai menipis dan terdapat potensi pertumbuhan awan hujan, penyemaian dry ice dapat dikombinasikan dengan bahan semai garam (NaCl) untuk memancing hujan buatan.


Ilustrasi. Foto: Dok. MGN.

Hasil sementara dari BMKG menunjukkan dampak positif yang signifikan. Konsentrasi particulate matter (PM 2.5) atau tingkat kualitas udara di Sumsel membaik dari angka 660 (kategori berbahaya) di pagi hari menjadi 208 (kategori sangat tidak sehat) pada sore hari setelah sortie kedua. Selain itu, jarak pandang (visibility) yang sebelumnya hanya 300 meter pada pukul 09.00 WIB melonjak menjadi 2.800 meter di sore hari.

Sementara itu, Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Dwi Januanto Nugroho menegaskan penanganan karhutla terus dilakukan secara terpadu. Langkah ini melibatkan TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, Manggala Agni Kemenhut, Masyarakat Peduli Api, hingga relawan.

“Upaya penanganan karhutla perlu dilakukan secara terpadu, tidak hanya melalui pemadaman di lokasi kebakaran, tetapi juga dengan langkah-langkah untuk mengurangi dampak asap terhadap masyarakat,” kata Dwi.

(Fachri Audhia Hafiez)