Dikenal sebagai Pejuang Kesetaraan Gender, Sinta Wahid Bergabung Wantimpres RI

Hj. Sinta Nuriyah Wahid, M.Hum turut menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI. Foto: BPMI Setpres

Dikenal sebagai Pejuang Kesetaraan Gender, Sinta Wahid Bergabung Wantimpres RI

Fajar Nugraha • 2 October 2026 17:53

Jakarta: Sosok Hj. Sinta Nuriyah Wahid, M.Hum., tak hanya dikenal sebagai Ibu Negara ke-4 Republik Indonesia.

Lebih dari sekadar pendamping almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), perempuan kelahiran Jombang ini merupakan aktivis kesetaraan gender, pejuang kebebasan beragama, serta figur pemersatu bangsa yang konsisten menyuarakan nilai-nilai toleransi dan pluralisme di Tanah Air.

Presiden Prabowo Subianto menunjuk Sinta Wahid sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) RI di Istana Negara, dilansir dari Breaking News Metro TV, Jumat 2 Oktober 2026.

Latar Belakang dan Pendidikan

Lahir di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada 8 Maret 1948, Sinta Nuriyah dibesarkan dalam lingkungan keluarga pesantren yang kental dengan tradisi keislaman.

Sebagai putri sulung dari 18 bersaudara pasangan H. Abdussyakur dan Hj. Siti Anisah Syakur, nilai keilmuan dan independensi telah ditanamkan sejak dini.

Pendidikan Sinta diawali di Sekolah Rakyat Jombang, dilanjutkan ke Madrasah Mu'allimat Bahrul Ulum Tambakberas. Ia kemudian meraih gelar Sarjana Syariah dari IAIN (kini UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Haus akan ilmu, Sinta melanjutkan jenjang Strata-2 pada Program Pascasarjana Kajian Wanita Universitas Indonesia (UI) Jakarta. Atas dedikasinya dalam membela hak-hak minoritas dan kemanusiaan, ia dianugerahi gelar Doktor Kehormatan (Honorisa Causa) bidang Sosiologi Agama oleh UIN Sunan Kalijaga pada tahun 2019.

Perjuangan Kesetaraan dan Advokasi Perempuan

Kiprah Sinta Nuriyah di panggung publik tercatat luas melalui karya dan aksi nyatanya. Sempat berkarir sebagai jurnalis di Majalah Keluarga Zaman (1980–1985) dan Majalah Matra, Sinta memanfaatkan keahlian literasinya untuk mengkritisi berbagai persoalan sosial, khususnya kekerasan terhadap perempuan dan keterkungkungan gender.

Langkah konkret advokasi tersebut diwujudkannya dengan mendirikan Yayasan Puan Amal Hayati, sebuah lembaga yang fokus memberikan perlindungan, konseling, serta advokasi bagi perempuan dan anak-anak korban kekerasan.

Melalui kajian krisis terhadap kitab-kitab klasik (kitab kuning), Sinta aktif menyebarkan pemahaman hak-hak perempuan dalam perspektif Islam yang adil dan humanistis.

Simbol Toleransi dan Tradisi Buka Puasa Lintas Agama

Saat mendampingi Gus Dur sebagai Ibu Negara periode 1999–2001, Sinta memelopori tradisi unik yang membanggakan bangsa: Buka Puasa Lintas Agama di bulan Ramadan.

Tradisi ini tidak berhenti meski masa jabatan kepresidenan berakhir; ia terus berkeliling Indonesia untuk hadir menyapa kaum marjinal, tukang becak, buruh cuci, hingga komunitas antariman di tempat-tempat ibadah berbagai agama.

Keteguhan sikapnya dalam membela minoritas kerap mendatangkan berbagai ancaman dari kelompok intoleran. Meski harus beraktivitas menggunakan kursi roda akibat kecelakaan lalu lintas yang dialaminya pada tahun 1993, keterbatasan fisik tak pernah menyurutkan langkah Sinta dalam mengawal demokrasi dan Hak Asasi Manusia (HAM).

Pengakuan Internasional dan Kehormatan

Rekam jejak dan konsistensinya diakui dunia internasional. Pada tahun 2018, majalah ternama TIME memasukkan Sinta Nuriyah Wahid ke dalam daftar 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia (100 Most Influential People) untuk kategori Icons, bersanding dengan tokoh-tokoh global lainnya.

Hingga saat ini, Sinta Nuriyah tetap aktif membina Yayasan Puan Amal Hayati, Yayasan Al-Munawaroh, serta terlibat aktif dalam Gerakan Nurani Bangsa (GNB) demi menjaga ketahanan moral dan kebangsaan Indonesia.

Peran Sinta Nuriyah dalam Wantimpres RI dinilai krusial untuk memberikan masukan kepada Presiden Prabowo Subianto. Isu-isu khusus seperti demokrasi dan Hak Asasi Manusia (HAM), serta kesetaraan gender dan kebebasan beragama.

(Fajar Nugraha)