Kondisi kabut asap di Maros, Sulawesi Selatan. (Metro TV/ Achmad Fachmi)
Kualitas Udara Maros Memburuk Akibat Kabut Asap, Warga Diimbau Pakai Masker
Metro TV • 15 October 2026 13:13
Maros: Kabut asap yang menyelimuti Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, selama tiga hari terakhir mendorong pemerintah daerah meningkatkan upaya perlindungan kesehatan masyarakat. Pembagian masker menyasar siswa mulai dari jenjang sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA), serta masyarakat dan pengguna jalan.
Bupati Maros, Chaidir Syam, mengatakan pembagian masker dilakukan untuk mendorong masyarakat melindungi diri dari paparan polutan di tengah kondisi udara yang memburuk.
"Tadi kita membagikan masker kepada masyarakat supaya tetap menggunakan masker karena kondisi udara di Kabupaten Maros lagi tidak sehat," kata Chaidir di Maros, Kamis, 15 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, kualitas udara di Maros sempat mencapai angka 214 berdasarkan hasil pengukuran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Meski kini menurun menjadi 101, masyarakat tetap diminta waspada karena kualitas udara masih berada dalam kategori tidak sehat.
"Kemarin kita mengalami kondisi yang sangat buruk. Dari hasil pengukuran kondisi udara BMKG, kita mendapatkan angka 214, itu kondisi yang sangat tidak sehat. Tapi alhamdulillah hari ini sudah menurun di angka 101, tetapi kondisinya masih tidak sehat," ujarnya.
Chaidir menegaskan, penggunaan masker sangat penting, terutama bagi anak-anak yang beraktivitas di luar ruangan. Pasalnya, udara di Maros masih mengandung partikel halus PM2.5 yang berisiko mengganggu kesehatan.
"Kita tetap mengimbau kepada seluruh masyarakat, terutama anak-anak kita, supaya tetap menggunakan masker bila berada di luar ruangan karena udara kita mengandung PM2.5 dan ini kondisi yang sangat berbahaya buat masyarakat kita," ungkapnya.

Bupati Maros, Chaidir Syam, membagikan masker kepada pengguna jalan. (Metro TV/ Achmad Fachmi)
Sementara itu, data pemerintah daerah mencatat sebanyak 690 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama Oktober 2026. Namun, belum ada kepastian bahwa kasus-kasus tersebut berkaitan langsung dengan paparan kabut asap.
Memburuknya kualitas udara di Maros diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah, serta kondisi angin yang membawa asap melintasi kawasan tersebut.
Meski kualitas udara masih tergolong tidak sehat, Pemerintah Kabupaten Maros belum memberlakukan pembelajaran daring. Aktivitas belajar mengajar tetap berlangsung, sementara pemerintah daerah terus memantau perkembangan kualitas udara.
Masyarakat diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah dan membatasi kegiatan di luar ruangan jika tidak mendesak. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi risiko gangguan pernapasan selama kabut asap masih menyelimuti wilayah Maros. (Achmad Fachmi)