Peringati Hari Kesehatan Jiwa, Kemenkes Luncurkan Buku Saku untuk Nakes

Peluncuran buku saku Skrining Kesehatan Jiwa oleh Kemenkes. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina.

Peringati Hari Kesehatan Jiwa, Kemenkes Luncurkan Buku Saku untuk Nakes

Metro TV • 11 October 2026 12:32

Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meluncurkan empat seri buku saku Skrining Kesehatan Jiwa dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Terbitnya panduan praktis ini diharapkan menjadi acuan baku yang mudah diaplikasikan oleh para tenaga kesehatan (nakes) saat bertugas di lapangan.

“Pada kesempatan hari ini juga akan dilakukan launching buku saku Skrining Kesehatan Jiwa seri Ibu Hamil dan Pasca Persalinan, Anak dan Remaja, Dewasa dan Lansia, sebagai panduan practical bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan,” kata Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes Maria Endang Sumiwi di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Minggu, 11 Oktober 2026.
 


Endang menjelaskan, penyusunan pedoman teknis tersebut dilatarbelakangi temuan di lapangan saat pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Petugas kesehatan kerap merasa ragu dalam menentukan langkah penanganan lanjutan ketika mendapati pasien yang terindikasi mengalami gangguan psikologis.

“Kami laporkan setelah CKG kita ketemu banyak masalah kesehatan jiwa tapi tenaga kesehatannya masih apa, masih gamang, kalau sudah ketemu harus bagaimana. Jadi kita buatkan ada empat buku dari Direktorat Kesehatan Kelompok Rentan menyiapkan bersama teman-teman semuanya di sini, para ahli tentunya dari berbagai organisasi profesi terlibat,” terang Endang.

Hasil skrining berskala luas dari program tersebut menunjukkan adanya temuan kasus yang membutuhkan intervensi lanjutan dari tenaga medis profesional.

“Kita juga sedang memasukkan skrining kesehatan jiwa pada CKG dan pada pelayanan ibu hamil dan ibu nifas. Dan kita sudah men-skrining 71,8 juta penduduk dengan hasil 1,2% dugaan gejala depresi serta 0,9% gejala kecemasan,” ungkap Endang.


Ilustrasi. Foto: Dok. Metrotvnews.com.

Di sisi lain, ketersediaan fasilitas maupun tenaga kesehatan di bidang kejiwaan saat ini masih terbilang sangat terbatas. Berdasarkan data tahun 2026, Indonesia hanya memiliki 1.495 psikiater, yang berarti satu psikiater harus melayani 180.000 penduduk. Rasio tersebut masih jauh dari standar World Health Organization (WHO) sebesar 1 banding 30.000 penduduk.

Selain itu, sebaran fasilitas kesehatan jiwa belum merata. Baru sekitar 64 persen atau 6.549 Puskesmas di Indonesia yang memiliki layanan kesehatan jiwa. Sementara pada tingkat rumah sakit, hanya ada 1.450 unit yang melayani masalah mental, dengan 56 persen di antaranya terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Menghadapi tantangan tersebut, pemerintah mengambil langkah taktis dengan memprioritaskan pendekatan promotif dan preventif guna membangun ketahanan mental masyarakat sejak dini.

“Menjawab tantangan tersebut, Kemenkes melakukan penguatan terutama pada promotif dan preventif, tentunya juga terus mengupayakan kuratif dan rehabilitatif. Salah satunya saat ini kita sudah melakukan orientasi pertolongan pertama pada luka psikologis di 38 provinsi dan sudah menjangkau 851.486 organisasi kita dan 8.073 sekolah,” kata Endang.

(Metrotvnews.com/Afifah Alfina)

(Fachri Audhia Hafiez)