Harga Minyak Turun Tipis, Brent ke Level USD105 per Barel

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Minyak Turun Tipis, Brent ke Level USD105 per Barel

Eko Nordiansyah • 15 October 2026 08:40

Houston: Harga minyak dunia turun tipis pada Kamis, 15 Oktober 2026, tertekan oleh penguatan dolar menyusul data inflasi konsumen AS yang lebih tinggi dari perkiraan. Hal ini memicu spekulasi akan adanya kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Perhatian kini tertuju pada pertemuan Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) yang akan berlangsung Kamis. Pertemuan ini kemungkinan akan menentukan seberapa cepat Eropa akan melepas lebih banyak cadangan minyak daruratnya.

Dikutip dari Investing, harga minyak mentah Brent turun 0,5 persen menjadi USD105,56 per barel. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 0,35 persen menjadi USD94,76 per barel.

Penurunan harga minyak tertahan oleh data industri yang menunjukkan persediaan minyak AS menyusut jauh lebih besar dari perkiraan dalam sepekan terakhir, di tengah gangguan produksi di sepanjang wilayah Teluk (Gulf Coast).

Minyak mentah tetap mempertahankan sebagian besar kenaikan yang dicapai awal pekan ini, seiring dengan kembali terjadinya serangan di Selat Hormuz serta memburuknya permusuhan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman, yang terus memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan.

Rilis data CPI mendorong penguatan dolar

Harga minyak kehilangan sebagian besar kenaikan yang sempat dicapai pada hari Rabu setelah data indeks harga konsumen (CPI) AS untuk September menunjukkan angka yang lebih tinggi dari ekspektasi.

Data tersebut mendongkrak nilai dolar dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury), serta memicu penurunan tajam di pasar keuangan global.

Data inflasi yang tetap tinggi memicu spekulasi Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun, sebuah skenario yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan menekan permintaan minyak.
(Ilustrasi. Foto: Unplash)

Pertemuan IEA menjadi sorotan

Harga minyak juga tertekan oleh antisipasi pertemuan IEA, di mana badan tersebut diperkirakan akan mengklarifikasi komentar terbaru dari negara-negara anggota terkait pelepasan tambahan 100 juta barel minyak.

Anggota IEA sebelumnya pada tahun ini telah berkomitmen untuk melepas 400 juta barel minyak dari cadangan darurat akibat konflik AS-Iran. Baru-baru ini, beberapa menteri mengusulkan pelepasan tambahan sebesar 100 juta barel.

Dalam laporan bulanan yang dirilis pada hari Rabu, badan tersebut memperingatkan bahwa pasar diesel global dapat tetap mengalami pengetatan pasokan hingga 2027 akibat gangguan pasokan minyak mentah yang terus berlanjut dan penghentian operasional kilang.

Namun, badan tersebut juga memproyeksikan penurunan permintaan minyak global secara keseluruhan sebesar 2,6 juta barel per hari pada 2026, akibat tekanan dari harga yang lebih tinggi.

IEA dijadwalkan mengadakan pertemuan di Paris pada hari ini.

Cadangan minyak AS turun

Di sisi lain, data dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan cadangan minyak AS turun sebesar 11,12 juta barel pada pekan yang berakhir tanggal 9 Oktober.

Penurunan tak terduga ini terjadi saat produksi di wilayah pesisir Teluk AS terganggu oleh Badai Isaias, yang menghantam wilayah tersebut pada akhir pekan lalu. Badai tersebut diperkirakan telah menghentikan hampir dua pertiga aktivitas produksi di wilayah Teluk.

Data API biasanya menjadi indikator awal tren serupa dalam data resmi cadangan minyak, yang dijadwalkan akan dirilis pada Kamis.

(Eko Nordiansyah)