Indonesia dan Vatikan sepakat mempromosikan nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika untuk perdamaian dunia. (KBRI Vatikan)
Indonesia-Vatikan Sepakat Promosikan Nilai-nilai Pancasila untuk Perdamaian Dunia
Willy Haryono • 27 October 2026 21:44
Roma: Indonesia dan Takhta Suci Vatikan sepakat mendorong internasionalisasi nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika untuk mewujudkan perdamaian, keadilan sosial, serta penghormatan terhadap nilai dan martabat manusia.
Komitmen tersebut disampaikan Duta Besar RI untuk Takhta Suci Michael Trias Kuncahyono dan Menteri Hubungan Antar-Negara dan Organisasi Internasional Takhta Suci, Uskup Agung Paul Richard Gallagher, dalam Resepsi Diplomatik di KBRI untuk Takhta Suci, Vatikan, Senin, 26 Oktober 2026.
Resepsi tersebut digelar untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI sekaligus 76 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Takhta Suci.
Acara itu dihadiri Menlu Gallagher, para duta besar negara sahabat, pejabat Vatikan, pastor, suster, serta tamu kehormatan lainnya. Dubes Trias dan istrinya, Atiek Kuncahyono, bertindak sebagai tuan rumah.
Pancasila untuk Perdamaian Dunia
Dubes Trias mengatakan Indonesia dan Takhta Suci akan terus mempromosikan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dalam upaya memperjuangkan perdamaian dan keadilan.“Berlandaskan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia bersama dengan Takhta Suci akan terus berusaha mempromosikan dan memperjuangkan perdamaian, keadilan sosial dan saling menghormati bagi setiap manusia,” kata Dubes Trias, dalam siaran pers KBRI Vatikan yang diterima Metrotvnews.com, Selasa, 27 Oktober 2026.
Ia juga menegaskan dukungan Indonesia terhadap penyelesaian konflik Israel-Palestina secara adil melalui solusi dua negara (two-state solution). Upaya tersebut, menurutnya, perlu disertai penghentian tindakan yang melanggar martabat dan nilai kemanusiaan serta pembukaan akses bantuan kemanusiaan.
Selain itu, Trias menyoroti pentingnya mengakhiri perang di Ukraina melalui perundingan damai yang berlandaskan Piagam PBB dan hukum internasional. Ia menilai upaya tersebut perlu mendapat dukungan negara-negara yang menginginkan perdamaian.
Menlu Takhta Suci Paul Richard Gallagher menyatakan kesepahaman dengan pandangan tersebut. Ia mengatakan filosofi Pancasila telah dikenal dengan baik oleh Takhta Suci dan nilai-nilainya dipandang sejalan dengan ajaran sosial Gereja Katolik.
Gallagher juga menyinggung kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia pada September 2024. Dalam kunjungan tersebut, Paus Fransiskus mengungkapkan kekagumannya terhadap Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Nilai-nilai tersebut, antara lain, tercermin dalam Terowongan Silaturahim yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Santa Maria Diangkat ke Surga di Jakarta. Terowongan itu menjadi simbol kerukunan antarumat beragama di Indonesia.
“Kerja sama internasional dan komitmen lintas agama menjadi unsur penting dalam menghadapi tantangan global dan mewujudkan kehidupan yang lebih damai dan berkeadilan,” kata Gallagher.
Trias juga menekankan pentingnya menjaga komitmen lintas agama melalui Deklarasi Istiqlal, yang ditandatangani Paus Fransiskus dan Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, pada 5 September 2024.
“Deklarasi Istiqlal yang ditandatangani pada tanggal 5 September 2024 oleh mendiang Paus Fransiskus dan Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, merupakan komitmen yang harus menjadi legasi untuk mengingatkan kita tentang perdamaian yang tidak terbatas oleh wilayah dan agama,” ujar Trias.
Diplomasi Budaya Indonesia di Roma
Selain menjadi ajang diplomasi, Resepsi Diplomatik tersebut dimanfaatkan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia sekaligus mempererat persahabatan dengan Takhta Suci dan komunitas internasional.Salah satu penampilnya adalah kelompok karawitan Gong Wisnu Wara, yang beranggotakan dosen dan mahasiswa Universitas La Sapienza di Roma serta pencinta seni dan budaya Jawa lainnya.
Kelompok tersebut merupakan proyek yang lahir pada 1990-an berkat komitmen Giovanni Giuriati, profesor etnomusikologi di Universitas La Sapienza. Dalam beberapa dekade terakhir, Gong Wisnu Wara bekerja sama dengan KBRI untuk Takhta Suci melalui nota kesepahaman. Kedutaan menyediakan perangkat gamelan dan ruang latihan bagi para pemain.
Alunan gamelan Jawa dari kelompok tersebut membuka resepsi diplomatik dengan membawakan sejumlah tembang, antara lain Ricik Ricik Banyumasan dan Ayun Ayun Gobyog.

Acara juga menampilkan Fiorella Cardinale, warga negara Italia yang tengah menyelesaikan studi doktoral di bidang seni tari. Ia membawakan Tari Selendang Jawa yang dipelajarinya dari seorang penari Jawa yang pernah singgah di Italia.
Unsur budaya Indonesia turut hadir melalui penampilan para biarawati dari Kongregasi Suster Katekis Hati Kudus yang menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya untuk mengawali acara.
Suster Josephine, salah seorang anggota kelompok tersebut, mengungkapkan kebanggaannya dapat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia dalam acara itu.
“Sebagai orang Indonesia, saya sangat bangga dan terharu bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya pada acara penting ini,” katanya.
Sejumlah pastor juga menghibur para undangan dengan membawakan lagu daerah Sumatera Utara Mbiring Manggis, lagu berbahasa Italia Che Sarà, serta lagu berbahasa Inggris Haleluya.
KBRI untuk Takhta Suci saat ini mengampu sekitar 1.873 biarawan dan biarawati warga negara Indonesia yang tinggal di Italia dan Vatikan, berdasarkan data per September 2026. Sebagian besar biarawati melayani di kongregasi dan menempuh studi di Italia. Sementara itu, mayoritas pastor, frater, dan bruder menjalani pendidikan magister dan doktoral di universitas kepausan.
Resepsi diplomatik tersebut juga menyajikan beragam makanan Indonesia, antara lain cenil, nogosari, getuk singkong, sosis solo, dan lumpia.
Baca juga: Penuh Semangat, 11 Biarawati WNI di Vatikan Sukses Jalankan Tugas Pengibar Bendera