Sejarah Panjang Rivalitas Inggris vs Argentina, Beckham, Maradona, dan Scaloni

Maradona ketika mencetak gol melawan Inggris, Piala Dunia 1986. (El Grafico via Wikimedia Commons)

Sejarah Panjang Rivalitas Inggris vs Argentina, Beckham, Maradona, dan Scaloni

Riza Aslam Khaeron • 15 July 2026 18:24

Jakarta: Meskipun terpisah oleh dua benua, satu samudra, dan bukan merupakan bekas koloni Inggris, Argentina menariknya memiliki sejarah rivalitas yang panjang dengan negara Eropa tersebut. Perseteruan ini tidak hanya membara di sekitar sengketa Kepulauan Falklands (Malvinas), tetapi juga meledak di ranah sepak bola.

Menjelang pertemuan pertama kedua tim nasional di level senior sejak terakhir kali berlaga pada tahun 2005, yang akan tersaji dini hari nanti, Kamis, 16 Juli 2026 pukul 02.00 WIB dalam laga Semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris vs Argentina, netizen kembali mengenang berbagai drama ikonik yang pernah melibatkan kedua tim di lapangan hijau.

Sejarah mencatat ada begitu banyak memori, mulai dari insiden tahun 1966, gol "Tangan Tuhan" Maradona, hingga drama kartu merah David Beckham. Berikut adalah perjalanan panjang rivalitas panas kedua raksasa sepak bola dunia ini.
 

Inggris 1-0 Argentina, 1966: Insiden Rattin


Rattin diusir wasit Kreitlin. (via El Grafico)

Kisah perseturuan kedua timnas diawali ketika kedua tim bertemu di babak perempat final Piala Dunia di Stadion Wembley pada tahun 1966, Piala Dunia satu-satunya yang berhasil dijuarai oleh Inggris.

Kemenangan tipis Inggris 1-0 dalam laga tersebut dijuluki sebagai "el robo del siglo" ("pencurian abad ini") oleh publik Argentina. Julukan itu lahir akibat kartu merah kontroversial yang diterima kapten Argentina, Antonio Rattin, serta klaim bahwa gol penentu kemenangan dari Geoff Hurst berbau offside.

"Saya melihat wasit Jerman itu memberikan segalanya untuk Inggris: tendangan sudut, pelanggaran, bahkan dia sampai mengarang pelanggaran handball. Semuanya menguntungkan tim tuan rumah. Lalu, ketika saya meminta penerjemah untuk berbicara dengannya, dia malah mengusir saya keluar," ujar Rattin kala itu.

Kapten Argentina tersebut, yang baru saja berpulang di usia 89 tahun hari Sabtu lalu, diusir oleh wasit Rudolf Kreitlin setelah dianggap melakukan dua pelanggaran keras terhadap Bobby Charlton dan Geoff Hurst.

Namun, Rattin tidak mengerti kata-kata dari sang wasit Jerman tersebut dan meminta penerjemah, kemudian menolak keras untuk meninggalkan lapangan selama 10 menit. Ia baru bersedia berjalan keluar setelah didampingi oleh dua petugas polisi.

Peristiwa inilah yang kemudian mendorong FIFA untuk memperkenalkan sistem kartu kuning dan kartu merah, guna memastikan setiap keputusan wasit dapat dipahami dengan jelas tanpa terkendala hambatan bahasa.

Setelah laga usai, ketegangan belum mereda. Pelatih Inggris, Alf Ramsay, melarang keras para pemainnya bertukar kaus dengan pemain lawan dan secara terbuka menyebut skuad Argentina sebagai "binatang".
 

Argentina 1-1 Inggris, 1977: Bertoni Memukul Cherry hingga Ompong


Cherry (kiri) dengan Bertoni, 1978. (Mirror.co.uk)

Sebelas tahun setelah insiden Wembley, kedua tim kembali bersua dalam sebuah laga persahabatan yang cukup panas. Tepat pada tanggal 12 Juni 1977, atmosfer di Stadion La Bombonera, kandang ikonik Boca Juniors di Buenos Aires, terasa sangat mencekam bagi sang wakil Eropa.

Inggris tengah menjalani tur pramusim di Amerika Selatan pada era senja kepemimpinan manajer Don Revie.

Sebanyak 60.000 penonton Argentina yang memadati stadion terus menyoraki lagu kebangsaan Inggris, menyanyikan yel-yel "Binatang" sebagai balasan atas ucapan Alf Ramsay, serta meneriakkan kata "Bajak Laut" untuk menyindir sengketa Kepulauan Falklands yang akhirnya pecah menjadi perang terbuka lima tahun kemudian.

Tensi pertandingan yang tinggi akhirnya meledak tujuh menit menjelang peluit panjang berbunyi. Bek Leeds United dan timnas Inggris, Trevor Cherry, melakukan pelanggaran terhadap penyerang sayap Argentina, Daniel Bertoni.

Tidak terima, Bertoni langsung bangkit dari tanah dan tanpa ragu melayangkan pukulan telak ke wajah Cherry. Hantaman keras itu seketika membuat dua gigi depan sang bek asal Yorkshire copot di tempat.

Kedua pemain langsung diganjar kartu merah. Cherry pun mencatatkan sejarah sebagai pemain Inggris pertama yang mendapatkan kartu merah dalam sebuah laga persahabatan.

Meski demikian, Federasi Sepak Bola Argentina akhirnya membebaskan Cherry dari segala tuduhan setelah melakukan penyelidikan, dan menjatuhkan hukuman larangan bertanding sebanyak empat laga kepada Bertoni.
 

Argentina 2-1 Inggris, 1986: Tangan Tuhan Maradona


Maradona mencetak gol dengan handball melawan Inggris, 1986. (Bob Thomas Sports Photography via The Guardian)

Jika ada satu momen tunggal yang paling sempurna dalam merangkum rivalitas sengit Inggris dan Argentina, momen itu lahir pada menit ke-51 dalam laga perempat final Piala Dunia di Stadion Azteca, Mexico City, pada 22 Juni 1986.

Diego Maradona, kapten sekaligus megabintang Argentina, melompat tinggi mendahului jangkauan kiper Inggris, Peter Shilton, dan menepis bola masuk ke dalam gawang menggunakan tangan kirinya. Wasit asal Tunisia, Ali Bin Nasser, luput melihat kejadian tersebut dan mengesahkan gol itu, membuka jalan bagi kemenangan 2-1 Argentina.

Ketika diwawancarai pasca-pertandingan mengenai gol tersebut, Maradona berseloroh bahwa gol itu tercipta "sedikit lewat kepala Maradona, dan sedikit melalui tangan Tuhan."

Fotografer asal Meksiko, Alejandro Ojeda Carbajal, kemudian merilis sebuah jepretan foto yang secara telak memperlihatkan tangan kiri Maradona menyentuh bola sepersekian detik sebelum melewati garis gawang.

Maradona sendiri mengakui kebenaran tersebut secara terbuka setahun sebelum wafat pada tahun 2020.

"Saya tahu itu tangan saya (menyentuh bola). Itu bukan sesuatu yang direncanakan, tetapi semuanya terjadi begitu cepat hingga hakim garis tidak melihat saya menggunakan tangan. Rasanya seperti sebuah pembalasan simbolis yang manis terhadap orang-orang Inggris," kenang Maradona pada tahun 2019.

Laga ini merupakan pertemuan pertama kedua negara di lapangan hijau pasca-Perang Falklands (Malvinas). Maradona dikabarkan sempat memberikan pidato di ruang ganti sebelum laga dimulai, meminta rekan-rekannya membalas Inggris karena telah "membunuh begitu banyak anak-anak kita di medan perang."

Peristiwa ini akhirnya memicu perdebatan panas dan memperuncing perseteruan kedua timnas yang terus membara selama lebih dari 40 tahun berikutnya.

"Saya tidak akan pernah memaafkannya (Maradona)," tegas bek legendaris Inggris, Terry Butcher, mengutip ESPN.

Uniknya, pelatih timnas Inggris saat ini, Thomas Tuchel, sempat mengungkit insiden tersebut sebelum laga 16 besar Piala Dunia 2026 di stadiun yang sama, yang berhasil mereka menangkan dengan skor 3-2, meskipun melawan tuan rumah Meksiko, bukan Argentina.

"Ya, takdir akan membalas kita. Kita akan mendapatkannya kembali. Ini adalah karma. Karma akan berpihak pada kita, dan kita akan membalikkan keadaan," ujar Tuchel pada 2 Juli 2026.
 

Argentina 2-2 Inggris (4-3 Penalti), 1998: Kartu Merah Beckham


Beckham mendapatkan kartu merah. (Popperfoto via The Guardian)

Di babak 16 besar Piala Dunia Prancis 1998 yang digelar di Saint-Etienne, David Beckham, bintang muda Manchester United yang tengah berada di puncak popularitasnya, harus menerima kenyataan pahit diusir dari lapangan setelah menendang kaki gelandang Argentina, Diego Simeone, secara reaktif.

"Saya ingat Diego meletakkan tangannya di belakang kepala saya saat kami terjatuh, dan saya langsung bereaksi begitu saja tanpa berpikir," kenang Beckham.

Kehilangan Beckham memaksa Inggris berjuang keras dengan 10 pemain selama lebih dari satu jam.

Laga sengit itu berakhir imbang 2-2 hingga babak tambahan waktu, sebelum akhirnya Argentina merebut tiket lolos lewat drama adu penalti yang berakhir 4-3. Beckham pun dijadikan kambing hitam tunggal atas kegagalan Inggris, lengkap dengan tajuk utama surat kabar terkenal: "10 heroic lions, 1 stupid boy".

"Apa yang terjadi selama beberapa tahun berikutnya setelah kejadian itu merupakan masa-masa tersulit dan paling kelam dalam karier profesional saya," ungkap Beckham dengan nada getir.

Simeone, yang kini menjadi salah satu pelatih papan atas dunia, mengakui dalam sebuah wawancara dengan The Guardian pada tahun 2002 bahwa ia memang sengaja memprovokasi dan memanfaatkan situasi tersebut untuk mengusir Beckham dari lapangan hijau. Bertahun-tahun kemudian, ia menyatakan Beckham tidak pantas mendapatkan kartu merah.

"Saya menjatuhkannya, lalu kami berdua tersungkur di tanah. Saat saya mencoba bangkit, dia menendang saya dari belakang, dan saya langsung memanfaatkan momen itu untuk bereaksi berlebihan. Saya rasa pemain mana pun di dunia akan melakukan hal yang sama demi kemenangan timnya," sebut Simeone.
 
Baca Juga:
Prediksi Susunan Pemain Inggris vs Argentina, Laga Perdana Messi Lawan Three Lions
 

Inggris 1-0 Argentina, 2002: Balas Dendam Beckham


Penalti Beckham melawan Argentina tahun 2022. (Tom Jenkins via The Guardian)

Jika tragedi di Prancis pada tahun 1998 adalah catatan pahit dalam karier sepak bola David Beckham, maka malam di Sapporo Dome, Jepang pada tahun 2002 adalah penebusan dosa untuk sang megabintang.

Pada laga tersebut, Inggris mendapatkan hadiah penalti pada menit ke-44 setelah Michael Owen dijatuhkan di kotak terlarang oleh Mauricio Pochettino, yang kini menjabat sebagai pelatih tim nasional Amerika Serikat.

Beckham maju sebagai eksekutor dengan memikul beban ekspektasi jutaan publik Inggris, lalu melepaskan tembakan keras yang menembus penjagaan kiper Pablo Cavallero. Gol tunggal tersebut membawa Inggris menang 1-0 sekaligus menyingkirkan Argentina secara tragis di fase grup.

"Saya tahu itu adalah momen pembuktian saya. Begitu wasit menunjuk titik putih, saya langsung sadar bahwa sayalah yang harus mengambil tanggung jawab itu. Lewat perayaan gol saya setelahnya, saya rasa semua orang bisa melihat betapa berartinya momen penebusan dosa tersebut bagi hidup saya," kenang Beckham.

Namun, laga ini pun tidak luput dari aroma kontroversi. Pochettino sempat melayangkan protes dalam wawancaranya dengan FourFourTwo dan menuding bahwa penalti tersebut merupakan sebuah "hadiah" dari wasit, serta Owen melakukan diving.

“Tanpa alat yang kita miliki saat ini, saya mengerti. Tapi saya tidak pernah menyentuh Owen,” ucap Pochettino.
 

Bernabéu 2003: Scaloni dan Beckham Nyaris Baku Hantam


Beckham (kiri) dan Scaloni (kanan) mendapatkan kartu kuning. (X)

Kejadian ini tidak terjadi di tingkat Piala Dunia dan melibatkan timnas, namun peristiwa ini meliputi pelatih timnas Argentina saat ini, Lionel Scaloni.

Jauh sebelum Scaloni menjadi arsitek genius di balik keberhasilan Argentina merengkuh trofi juara dunia di Qatar tahun 2022, ia dulunya adalah gelandang kanan Deportivo La Coruña dan hampir terlibat baku hantam dengan Beckham.

Perseteruan itu meledak pada menit-menit akhir laga antara Real Madrid kontra Deportivo La Coruña di Stadion Santiago Bernabéu pada tahun 2003, laga penentu gelar juara La Liga Spanyol yang menempatkan Scaloni dan Beckham di dua kubu yang saling berhadapan.

Real Madrid baru saja unggul 2-1 berkat gol dari Raúl González, sebuah gol yang praktis mengunci gelar juara La Liga bagi kubu Los Blancos sekaligus menghancurkan mimpi besar Deportivo. Di tengah rasa frustrasi Scaloni yang memuncak dan sisa waktu yang sangat tipis, Beckham melancarkan tekel keras dari belakang yang menjatuhkan Scaloni di lini tengah.

Kedua pemain sempat saling tersangkut di rumput sebelum akhirnya Scaloni bangkit dan langsung melabrak Beckham. Keduanya terlibat dalam pergulatan fisik sebelum akhirnya Roberto Carlos dan beberapa pemain lain bergegas melerai. Wasit akhirnya mengganjar kartu kuning untuk keduanya.

Setahun setelah kejadian panas tersebut, Scaloni sempat berujar bahwa dirinya masih menyimpan dendam pribadi terhadap Beckham dan bersumpah akan membalasnya di kemudian hari.

"Wasit meminta kami untuk saling berjabat tangan setelah pertandingan, tetapi saya menolaknya," ketus Scaloni seperti dikutip dari The Guardian.

Namun, bertahun-tahun kemudian setelah emosinya mereda, Scaloni mengenang kembali insiden tersebut. Ia mengakui bahwa tekel keras Beckham sebenarnya hanyalah pemantik dari akumulasi rasa frustrasi yang terpendam selama berminggu-minggu.

"Kami sedang berjuang mati-matian memperebutkan gelar juara liga melawan mereka, bermain di kandang mereka sendiri, dan di sisa tiga menit pertandingan mereka justru berhasil mencetak gol kemenangan 2-1," jelas Scaloni.

Kini, menjelang laga dini hari nanti, Scaloni memilih bersikap diplomatis saat ditanya mengenai sejarah panjang perseteruan berdarah antara Inggris dan Argentina. Ia menegaskan bahwa duel semifinal ini murni merupakan sebuah "pertandingan sepak bola" biasa, dan dirinya sama sekali tidak ingin mencampuradukkan urusan olahraga dengan dinamika politik masa lalu.

"Kenyataannya adalah ini hanyalah sebuah pertandingan sepak bola biasa. Saya tidak ingin mencampuradukkan hal-hal di luar lapangan, terutama demi menghormati apa yang telah terjadi sekian puluh tahun yang lalu," tutur Scaloni.

(Riza Aslam Khaeron)