Menlu Araghchi: Agresi Militer Baru Bakal Dibalas Respons Tegas Iran

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Foto: Anadolu

Menlu Araghchi: Agresi Militer Baru Bakal Dibalas Respons Tegas Iran

Fajar Nugraha • 10 July 2026 11:29

Teheran: Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi memperingatkan Amerika Serikat (AS) untuk tidak melanjutkan agresi militernya.

Ia menegaskan bahwa setiap agresi baru akan dibalas dengan respons yang tegas, sembari mengecam serangan terbaru Amerika Serikat ke wilayah Iran sebagai pelanggaran nyata terhadap Piagam PBB dan Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad.

Dalam percakapan telepon dengan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Field Marshal Asim Munir, Araghchi menegaskan kembali tekad bulat Iran untuk mempertahankan kedaulatan serta keamanan nasionalnya. Panggilan telepon tersebut berfokus pada perkembangan kawasan terkini.

Dalam kesempatan itu, Araghchi mengecam keras serangan militer AS di berbagai wilayah Iran, yang ia sebut sebagai pelanggaran mencolok terhadap Piagam PBB serta pelanggaran nyata atas MoU Islamabad. Ia mengatakan bahwa berbagai pernyataan pejabat AS, termasuk pengakuan mereka bahwa Washington tidak berkomitmen pada MoU tersebut, menjadi bukti otentik dari iktikad buruk serta penegasan atas berlanjutnya kebijakan perang mereka.

Araghchi juga menegaskan kembali keteguhan bangsa Iran serta tekad Angkatan Bersenjata dalam membela kedaulatan negara, integritas wilayah, dan keamanan nasional.

Secara terpisah, Araghchi turut membahas dinamika regional terbaru, khususnya situasi terkini di Selat Hormuz, serta isu-isu strategis lainnya dengan para menteri luar negeri dari negara sahabat, yaitu Sayyid Badr bin Hamad al-Busaidi dari Oman, Hakan Fidan dari Turki, dan Pangeran Faisal bin Farhan dari Arab Saudi.

Para menlu tersebut menekankan pentingnya optimalisasi saluran diplomatik, menjaga komunikasi dan koordinasi yang erat, melanjutkan konsultasi regional, serta mencegah eskalasi ketegangan lebih lanjut di kawasan.

Sebelumnya pada hari yang sama, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan telah menggempur pusat komando dan kendali AS di kawasan Asia Barat serta Pangkalan Udara Al-Azraq di Yordania menggunakan 10 rudal balistik.

Aksi tersebut merupakan gelombang balasan kedua atas serangan Amerika di wilayah teritorial Iran. Rentetan serangan rudal ini menyusul lonjakan ketegangan yang meruncing setelah pasukan AS melancarkan serangan ilegal tanpa provokasi ke kawasan pesisir Iran pada Rabu dan Kamis lalu.

Sejumlah ledakan dilaporkan mengguncang wilayah Bandar Abbas, Pulau Qeshm, Konarak, Chabahar, dan Mahshahr, di mana jalur serangan juga meluas hingga ke rute kereta api Teheran, Mashhad serta beberapa jembatan di wilayah timur Iran.

Otoritas Iran mengonfirmasi bahwa sedikitnya 14 personel militer dan warga sipil gugur, sementara 78 orang lainnya mengalami luka-luka akibat insiden tersebut.

Sebagai respons balasan, IRGC menyatakan telah meluncurkan operasi pembalasan besar-besaran dengan menyerang 85 target militer AS di Bahrain dan Kuwait, termasuk fasilitas yang terhubung dengan Armada Kelima AS, Camp Arifjan, Pangkalan Udara Ali Al Salem, serta pangkalan di Juffair dan Sheikh Isa.

Pihak IRGC juga mengklaim telah berhasil menembak jatuh satu unit drone MQ-9 Reaper milik AS yang terdeteksi mencoba menginterupsi jalannya operasi militer tersebut.

(Kelvin Yurcel)

(Fajar Nugraha)