Lonjakan Malaria, Pakar Ingatkan Ancaman Ganda dari Lingkungan dan Primata

Ilustrasi. Foto: Medcom.id.

Lonjakan Malaria, Pakar Ingatkan Ancaman Ganda dari Lingkungan dan Primata

Atalya Puspa • 21 May 2026 09:01

Jakarta: Kasus malaria di Indonesia terus meningkat. Data Kementerian Kesehatan mencatat 706.297 kasus pada 2025, naik 30 persen dibanding 2024 yang mencapai 543.965 kasus. 

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Wisnu Nurcahyo, menilai lonjakan itu tidak bisa dilepaskan sejumlah lingkungan dan ancaman zoonosis yang selama ini kurang mendapat perhatian serius. Nyamuk Anopheles sebagai vektor penular malaria sangat bergantung pada kondisi lingkungan untuk berkembang biak. 

"Nyamuk sangat bergantung pada faktor lingkungan. Artinya, nyamuk dapat hidup dan berkembang biak dengan baik kalau lingkungannya mendukung. Itu yang menjadikan malaria di berbagai daerah di Indonesia sulit dikendalikan," ujar Wisnu dikutip dari Media Indonesia, Kamis, 21 Mei 2026.

Di wilayah timur Indonesia, khususnya Papua, kondisi geografis seperti curah hujan tinggi, topografi pegunungan, dan banyaknya genangan air jernih menciptakan habitat ideal bagi vektor malaria. Akibatnya, sekitar 95 persen kasus malaria nasional masih terkonsentrasi di wilayah tersebut.

Kondisi serupa juga ditemukan di Kalimantan, Sumatra, hingga kawasan Pegunungan Menoreh di Kulon Progo yang masih memiliki kasus malaria endemis.

Dari perspektif kesehatan hewan, Wisnu menyoroti ancaman malaria zoonosis yang kerap luput dari perhatian. Salah satu yang paling mengkhawatirkan adalah Plasmodium knowlesi, parasit yang secara alami hidup pada primata seperti monyet ekor panjang dan orangutan, dan dapat ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles.

"Pada manusia, Plasmodium knowlesi ini sangat patogen. Dalam satu sampai dua hari bisa menyebabkan demam tinggi, dan kalau tidak segera diobati bisa menyebabkan kematian," ungkap Wisnu.

Ilustrasi malaria. Foto: Medcom.id.

Tantangan pengendalian malaria makin berat karena sejumlah obat lama seperti kina sudah tidak lagi efektif akibat resistensi parasit. Tenaga kesehatan kini terpaksa menggunakan obat generasi baru yang lebih mahal dengan distribusi yang lebih kompleks. 

Di wilayah terpencil, sulitnya akses dan faktor keamanan kerap membuat diagnosis dan pengobatan terlambat dilakukan. Padahal malaria dapat berkembang menjadi kondisi berat dalam waktu singkat.

Wisnu menekankan keberhasilan pengendalian malaria tidak bisa hanya dibebankan kepada sektor kesehatan manusia. Target eliminasi malaria pada 2030 hanya bisa dicapai jika pendekatan One Health diterapkan secara konsisten serta melibatkan kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan sebagai satu kesatuan yang terintegrasi.

"Kita harus bekerja sama, berkolaborasi, saling berkoordinasi. Jangan sampai kesehatan manusia jalan sendiri, kesehatan hewan jalan sendiri, dan lingkungan jalan sendiri. One Health jangan hanya berakhir pada slogan saja," pungkas Wisnu.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggi Tondi)