Poniti, seorang pedagang pasar tradisional asal Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang berangkat ke Tanah Suci sebagai calon jemaah haji pada 2026. Metrotvnews.com/Daviq Umar Al Faruq
40 Tahun Jualan di Pasar, Poniti Wujudkan Mimpi Berhaji di Usia 96
Daviq Umar Al Faruq • 21 April 2026 15:28
Malang: Penantian panjang Poniti, pedagang di pasar tradisional asal Kabupaten Malang, Jawa Timur, akhirnya terbayar. Pada usia 96 tahun, Poniti dipastikan berangkat ke Tanah Suci sebagai jemaah calon haji pada 23 April 2026.
Warga Kecamatan Tumpang tersebut menjadi potret ketekunan yang berbuah manis di usia senja. Hampir satu abad hidup, Poniti membuktikan impian berhaji dapat diraih melalui kesabaran dan konsistensi.
“Saya jualan di Pasar Kebalen, sudah sekitar 40 tahun. Jualan polo pendem, ubi, pohon, sayuran,” tutur Poniti saat ditemui di kediamannya, Selasa 21 April 2026.
Dari penghasilan yang terbatas, Poniti mulai menabung secara konsisten setiap hari. Ia memulai dari Rp10 ribu, lalu meningkat menjadi Rp25 ribu, hingga Rp50 ribu per hari. Kebiasaan menabung itu awalnya tidak ditujukan untuk berhaji.
“Niatnya dulu mau beli sapi dan tanah, tapi tidak jadi. Akhirnya buat daftar haji saja,” ujar Poniti.

Poniti, seorang pedagang pasar tradisional asal Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang berangkat ke Tanah Suci sebagai calon jemaah haji pada 2026. Metrotvnews.com/Daviq Umar Al Faruq
Keputusan mendaftar haji pun tidak langsung diambil. Poniti mengaku sempat ragu karena waktu tunggu yang panjang.
“Awalnya tidak mau, karena nunggunya lama. Tapi dipaksa daftar haji, akhirnya mau. Alhamdulillah bisa berangkat setelah nabung 10 tahun,” kata Poniti.
Rasa bahagia Poniti kian utuh karena perjalanan hajinya ditemani sang suami, Supandri. Momen ini menjadi perjalanan spiritual yang telah lama dinantikan keduanya.
“Ya pasti senang, apalagi bisa berangkat ke Makkah bareng suami saya, semoga sehat, ibadahnya lancar, dan pulang selamat sampai rumah,” ucap Poniti.
Peran Keluarga jadi Penyemangat
Di balik keberangkatan tersebut, peran keluarga menjadi kunci penguat. Anak Poniti, Muhammad Zuhdi, menyebut persiapan sudah dilakukan sejak awal pendaftaran.
“Kalau persiapan mental, dari awal mendaftar sudah kami doktrin. Secara umur sebenarnya harusnya prioritas, tapi tetap menunggu. Alhamdulillah setelah lima tahun dipanggil dan bisa berangkat tahun ini,” jelas Zuhdi.
Poniti dan suaminya mendaftar haji pada 2020. Meski kondisi ekonomi sempat menjadi kendala, keluarga tetap konsisten menabung. Menjelang keberangkatan, fokus beralih pada kesiapan fisik lansia tersebut. Aktivitas berdagang pun dihentikan sementara demi menjaga kondisi tubuh.
“Sekitar 15 hari terakhir sudah tidak ke pasar, kami minta fokus persiapan fisik. Jalan-jalan pagi, makan dijaga, dan rutin cek kesehatan,” ujar Zuhdi.
Kebiasaan berjalan kaki yang telah dijalani sejak lama menjadi modal penting. Bahkan, Poniti terbiasa menempuh jarak hingga 10 kilometer setiap hari.
“Ibu dari dulu memang rajin berjalan kaki, sebelum ada kendaraan ke Pasar Kebalen juga jalan kaki pulang pergi. Jadi insyaallah fisiknya masih sehat,” ungkap dia.