Kilang minyak yang terbakar di Australia. Foto: ABC
Kilang Minyak Terbesar Australia Terbakar, Ketahanan Energi Terancam
Muhammad Reyhansyah • 17 April 2026 06:32
Victoria: Kebakaran besar melanda salah satu dari dua kilang minyak utama Australia, memicu kekhawatiran terhadap ketahanan pasokan energi nasional di tengah gangguan global akibat konflik di Timur Tengah.
Otoritas pemadam kebakaran Victoria mengonfirmasi bahwa kebakaran di kilang minyak Geelong berhasil dikendalikan pada Kamis siang, 16 April 2026. Kilang berkapasitas 120.000 barel per hari tersebut diketahui dioperasikan oleh Perusahaan Viva Energy.
Kebakaran dipicu oleh kebocoran gas yang kemudian menyulut api hingga mencapai ketinggian sekitar 60 meter. Kilang tersebut merupakan salah satu dari dua fasilitas pengolahan minyak yang masih beroperasi di Australia.
Terletak sekitar satu jam perjalanan dari Melbourne, kilang ini memproduksi sekitar 10 persen kebutuhan bahan bakar nasional.
Dampak Terhadap Ketahanan Energi
Insiden ini terjadi pada saat yang sensitif bagi Australia, yang bergantung pada impor untuk sekitar 80 persen kebutuhan bahan bakarnya dan tengah berupaya menutupi gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi global.Analis energi Kevin Morrison menyatakan bahwa kawasan Asia Pasifik secara umum tengah menghadapi masalah ketahanan bahan bakar, sementara Australia tidak memiliki cadangan besar.
“Hilangnya salah satu sumber pasokan utama untuk jangka waktu yang belum diketahui merupakan masalah serius,” ujarnya, dikutip dari laporan Al Jazeera, Kamis, 16 April 2026.
Ia juga menyoroti bahwa kilang tersebut merupakan fasilitas lama yang telah beroperasi sejak 1950-an dan saat ini bekerja pada kapasitas maksimum akibat krisis energi global.
Respons Pemerintah
Perdana Menteri Anthony Albanese menyatakan bahwa pemerintah telah mengamankan tambahan pasokan sekitar 100 juta liter solar dari Brunei dan Korea Selatan.“Ini adalah pengiriman pertama dari sejumlah pengiriman yang telah diamankan melalui kebijakan cadangan strategis baru pemerintah,” ujarnya.
Menteri Energi Chris Bowen menjelaskan bahwa bagian kilang yang terdampak adalah unit produksi bensin beroktan tinggi, sementara produksi bahan bakar jet dan solar berhasil diselamatkan melalui sistem pengamanan.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembelian bahan bakar secara berlebihan. “Penting bagi masyarakat untuk membeli bahan bakar sesuai kebutuhan, tidak lebih dan tidak kurang,” kata Bowen.
Komandan insiden Mark McGuinness menyebut kebakaran tersebut sebagai peristiwa yang sangat serius, dipicu oleh kebocoran besar gas mudah terbakar dan hidrokarbon cair.
“Itu sangat ganas. Dari api kecil berkembang menjadi beberapa ledakan dan kemudian menjadi kebakaran besar,” ujarnya.
Sementara itu, CEO Viva Energy Scott Wyatt menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah keselamatan fasilitas, bukan produksi.
Australia saat ini hanya memiliki cadangan bahan bakar sekitar 38 hari, jauh di bawah standar minimum 90 hari yang ditetapkan Badan Energi Internasional.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah mendorong masyarakat untuk menghemat penggunaan bahan bakar dan mempertimbangkan penggunaan transportasi umum.
Situasi ini diperparah oleh ketergantungan Australia pada jalur pengiriman melalui Selat Hormuz, yang sebelumnya menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, namun kini mengalami gangguan akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.