Gelombang protes di Iran yang dipicu oleh krisis ekonomi telah memasuki hari kedelapan dan meluas ke 78 kota per hari Minggu, 4 Januari 2026. (Anadolu Agency)
Gelombang Protes Iran Meluas dan Tewaskan 20 Orang, Uni Eropa Bereaksi
Willy Haryono • 5 January 2026 14:02
Ankara: Gelombang aksi protes di Iran yang dipicu krisis ekonomi telah memasuki hari kedelapan dan meluas ke sedikitnya 78 kota per hari Minggu, 4 Januari 2026, menurut laporan kantor berita Human Rights Activists News Agency (HRANA). Aksi unjuk rasa tercatat berlangsung di 222 lokasi yang tersebar di 26 provinsi.
Dikutip dari Anadolu Agency, Senin, 5 Januari 2026, demonstrasi melibatkan mahasiswa, buruh, serta warga sipil dan tetap berlanjut meski aparat keamanan dikerahkan dalam jumlah besar. HRANA menyebut sedikitnya 17 universitas menjadi pusat aksi mahasiswa yang menuntut perbaikan kondisi ekonomi dan perluasan kebebasan sipil.
Sedikitnya 20 orang dilaporkan tewas dalam rangkaian kerusuhan tersebut, termasuk satu anggota pasukan keamanan. Korban dari kalangan warga sipil berusia antara 16 hingga 45 tahun.
Selain itu, sedikitnya 51 orang mengalami luka-luka, sebagian besar akibat tembakan peluru pelet dan peluru plastik yang dilepaskan aparat keamanan.
HRANA juga melaporkan sedikitnya 990 orang telah ditangkap, termasuk sejumlah anak di bawah umur berusia 15 hingga 17 tahun. Penangkapan massal dilaporkan terjadi di sejumlah kota besar, antara lain Yazd, Isfahan, Kermanshah, dan Shiraz. Otoritas setempat menyatakan sebagian penangkapan terkait dengan dugaan provokasi melalui media sosial dan keterlibatan dalam bentrokan jalanan.
Protes bermula sebagai respons terhadap lonjakan inflasi, penurunan daya beli masyarakat, serta ketidakpastian lapangan kerja. Namun, seiring meluasnya aksi, tuntutan massa berkembang menjadi kritik terhadap tata kelola pemerintahan dan kebijakan negara.
Di tingkat internasional, sejumlah pihak mulai menyampaikan keprihatinan. Uni Eropa mendesak otoritas Iran menahan diri dan menyelesaikan keluhan publik melalui dialog. Sementara itu, Amnesty International menyerukan penghentian segera penggunaan kekuatan mematikan serta pembebasan para tahanan politik.
Kepala Kepolisian Iran, Ahmadreza Radan, mengklaim aparat telah melakukan penangkapan secara terukur terhadap para pemimpin protes. Ia menuduh demonstran melakukan penghasutan dan menerima pendanaan asing.
Sebaliknya, sejumlah organisasi buruh dan asosiasi guru di Iran menyatakan bahwa aksi protes atas kondisi ekonomi merupakan hak legal dan sah bagi warga negara. (Kelvin Yurcel)
Baca juga: Pemimpin Agung Iran Disebut Siapkan Pelarian ke Moskow Jika Protes Meluas