Disebut 'Tak Layak Investasi', Trump Blokir Exxon Investasi di Venezuela

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: Anadolu Agency.

Disebut 'Tak Layak Investasi', Trump Blokir Exxon Investasi di Venezuela

Husen Miftahudin • 12 January 2026 08:40

New York: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memblokir salah satu perusahaan migas dan petrokimia terbesar dunia asal AS, Exxon Mobil, untuk masuk berinvestasi di Venezuela.

Pernyataan itu ia lontarkan setelah CEO Exxon Mobil menyebut Venezuela sebagai negara yang tidak layak investasi, selama pertemuan di Gedung Putih pada pekan lalu.

Mengutip Investing.com, Senin, 12 Januari 2026, pada saat itu, CEO Exxon Darren Woods mengatakan kepada Trump bahwa pasar Venezuela 'tidak layak investasi' untuk kondisi saat ini.

Venezuela sebelumnya telah menyita aset Exxon dan Conoco pada 2007. Caracas berutang miliaran dolar kepada perusahaan-perusahaan tersebut pada klaim yang belum terselesaikan dari kasus arbitrase.

"Aset kami telah disita di sana dua kali. Jadi Anda bisa bayangkan untuk masuk kembali ketiga kalinya akan membutuhkan beberapa perubahan yang cukup signifikan dari apa yang telah kita lihat secara historis di sini," kata Woods kepada Trump di Gedung Putih.

"Jika kita melihat konstruksi dan kerangka hukum serta komersial yang berlaku di Venezuela saat ini, negara ini tidak layak untuk investasi," tutur dia.
 

Baca juga: Trump Tegaskan Kuba Tak Akan Lagi Terima Uang atau Minyak dari Venezuela


(Ilustrasi ExxonMobil. Foto: China Daily)
 

Suntik investasi di Venezuela


Sebelumnya, para pejabat Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri telah mendorong para eksekutif perusahaan minyak AS untuk segera kembali ke Venezuela dan menginvestasikan modal yang signifikan di negara tersebut.

Langkah itu bertujuan untuk menghidupkan kembali industri minyak Venezuela yang telah rusak, jika mereka menginginkan kompensasi atas aset yang disita Venezuela pada dua dekade lalu.

Pada tahun 2000-an, Venezuela menyita aset beberapa perusahaan minyak internasional yang menolak memberikan kendali operasional yang lebih besar kepada perusahaan minyak milik negara PDVSA, seperti yang diminta oleh mendiang Presiden Venezuela Hugo Chavez. 

Perusahaan minyak raksasa AS, Chevron, termasuk di antara perusahaan yang bernegosiasi untuk tetap berada di negara itu dan membentuk usaha patungan dengan PDVSA yang dikelola negara. Sementara pesaingnya, Exxon Mobil dan ConocoPhillips, pergi dan mengajukan arbitrase. 

Presiden AS Donald Trump mengatakan perusahaan-perusahaan AS siap untuk kembali ke Venezuela dan menghabiskan miliaran dolar untuk mengaktifkan kembali sektor minyak yang sedang kesulitan, hanya beberapa jam setelah Presiden Nicolás Maduro ditangkap dan digulingkan oleh pasukan AS.

Dalam diskusi pemerintahan AS baru-baru ini dengan para eksekutif perusahaan minyak dalam skenario jika Maduro lengser dari kekuasaan, para pejabat mengatakan perusahaan-perusahaan minyak AS perlu menyediakan sendiri dana investasi untuk membangun kembali industri minyak Venezuela. Itu akan menjadi salah satu prasyarat bagi mereka untuk akhirnya memulihkan utang dari pengambilalihan aset.

Menurut sumber tersebut, itu akan menjadi investasi yang mahal bagi perusahaan seperti ConocoPhillips. Selama bertahun-tahun, Conoco telah berupaya untuk mendapatkan kembali sekitar USD12 miliar dari nasionalisasi asetnya di Venezuela pada era Chavez. Exxon Mobil juga mengajukan kasus arbitrase internasional, berupaya untuk mendapatkan kembali USD1,65 miliar.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)