Mata Uang BRICS akan Jadi Saingan Dolar AS? Berikut Penjelasannya

Mata uang BRICS. Foto: coinworld.com

Mata Uang BRICS akan Jadi Saingan Dolar AS? Berikut Penjelasannya

Husen Miftahudin • 12 January 2026 13:45

Jakarta: BRICS kini menjadi satu organisasi dunia baru yang menjadi titik baru perubahan ekonomi dan geopolitik global. Organisasi anggota pemerintahan yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, dan terbaru Indonesia ikut tergabung dalam blok geopolitik tersebut.
 
Melansir laman OCBC NISP, BRICS yang awalnya bermula sebagai forum kerja sama ekonomi pada 2009, dan kini telah berkembang pesat dan telah menambah anggota baru termasuk Iran, Mesir, Ethiopia, dan Uni Emirat Arab.
 
Arab Saudi juga aktif berpartisipasi meskipun belum menjadi anggota resmi. Ekonomi gabungan negara-negara BRICS mencakup sekitar 30 persen permukaan bumi dan 45 persen populasi global, menunjukkan potensi ekonomi yang sangat besar, termasuk rencana penerbitan mata uang sendiri.
 

Mata uang BRICS

 
Pada KTT BRICS 2023 di Afrika Selatan, negara-negara BRICS berkomitmen untuk mempelajari kelayakan adanya mata uang bersama baru atau yang serupa.
 
Selain itu, BRICS juga memiliki sistem pembayaran khusus melalui BRICS Pay. Inisiatif ini dimulai pada KTT BRICS 2015 di Rusia, yang saat itu para anggota membicarakan sistem pembayaran yang akan menjadi alternatif bagi sistem SWIFT.
 
Tujuannya adalah untuk awalnya beralih ke penyelesaian dalam mata uang nasional. Bank Sentral Rusia menyoroti manfaat utamanya sebagai cadangan dan redundansi jika terjadi gangguan pada sistem SWIFT.
 
Kehadiran BRICS juga ditandai oleh inisiatif-inisiatif ekonomi, seperti New Development Bank, BRICS Contingent Reserve Arrangement, BRICS Pay, dan BRICS Joint Statistical Publication. Inisiatif ini bertujuan untuk menciptakan sistem ekonomi alternatif yang lebih inklusif dan representatif.
 

Potensi ekonomi yang besar

 
Gabungan PDB nominal negara-negara anggota awal BRICS mencapai USD28 triliun (sekitar 27 persen dari PDB global), sementara PDB berdasarkan paritas daya beli mencapai sekitar USD65 triliun (33 persen dari PDB global).
 
Cadangan devisa gabungan diperkirakan mencapai USD5,2 triliun (data 2024). Angka-angka ini menjadikan BRICS sebagai kekuatan ekonomi yang dapat menyaingi blok G7 yang selama ini didominasi negara-negara maju.
 
Baca juga: India Pimpin BRICS di Tengah Tekanan AS dan Dinamika Global South


(Dolar AS. Foto: Freepik)
 

Tantangan mata uang BRICS di mata global

 
Pada dasarnya, tujuan utama dibalik pembentukan BRICS ini ialah untuk menentang dominasi dolar AS dan mengurangi ketergantungan sistem keuangan yang bergantung pada wilayah barat serta sanksi finansial.
 
Para pendukungnya berpendapat mata uang baru ini bisa menjadi alternatif cadangan mata uang global dan mendorong negara lain untuk membentuk aliansi regional. Hal ini dapat melemahkan status dolar AS dalam jangka panjang dan membuat ekonomi global menjadi lebih multipolar.
 
Namun ada beberapa tantangan yang akan dialami di masa depan dengan kehadiran BRICS, mengutip Investing News dan Mercer Advisor.
 

1. Ekonomi yang beragam

Negara-negara anggota BRICS memiliki kepentingan dan struktur ekonomi yang sangat berbeda, sehingga sulit bagi mereka untuk menyepakati satu mata uang yang stabil dan kuat.
 

2. Kurangnya kepercayaan

Ada kekhawatiran mengenai transparansi keuangan dan potensi manipulasi mata uang di beberapa negara anggota.
 

3. Dukungan yang terbatas

Sebagian besar negara maju tidak mungkin akan mengadopsi mata uang ini dalam waktu dekat, dan bahkan beberapa anggota BRICS, seperti India, telah menjauhkan diri dari ide untuk mengganti dolar.
 

4. Infrastruktur keuangan

Diperlukan waktu yang sangat panjang untuk membangun pasar keuangan yang kuat dan bank sentral bersama yang dapat memastikan stabilitas harga mata uang tersebut. (Shandayu Ardyan Nitona Putrahia Zebua)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)