Harga Beras di Bandung Masih Terkendali di Tengah Musim Kemarau

Satgas Pengendalian Harga dan Mutu Beras melakukan pemantauan di Pasar Kosambi dan Pasar Sederhana, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis, 3 September 2026. Metrotvnews.com/ P Aditya Prakasa.

Harga Beras di Bandung Masih Terkendali di Tengah Musim Kemarau

Aditya Prakasa • 4 September 2026 09:24

Bandung: Harga beras di sejumlah pasar tradisional Kota Bandung, Jawa Barat, masih berada dalam batas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Kondisi tersebut diketahui dari hasil pemantauan tim terpadu di dua pasar sentra, yakni Pasar Sederhana dan Pasar Kosambi.

Selain harga yang relatif terkendali, ketersediaan beras di Jawa Barat juga diproyeksikan mencukupi kebutuhan masyarakat hingga 2027. Pemantauan dilakukan oleh Satuan Tugas (Satgas) Pengendalian Harga dan Mutu Beras bersama Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat, Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Barat, dan Badan Pangan Nasional (Bapanas).

"Dari dua titik yang kita lihat tadi, di Pasar Sederhana dan Pasar Kosambi, secara umum harga beras itu masih sesuai dengan HET. Di mana harga beras medium itu di kisaran Rp13.500 per kilogram dan premium di Rp14.900 per kilogram. Kemudian beras SPHP juga sesuai ketentuan, yakni Rp12.500 per kilogram," kata Satgas Pengendalian Harga dan Mutu Beras, Jhon Hendra, di Pasar Kosambi Bandung, Kamis, 3 September 2026.

Jhon mengatakan stok beras untuk memenuhi kebutuhan warga Kota Bandung masih berada dalam kategori aman untuk beberapa bulan ke depan. Antisipasi terhadap kemungkinan gangguan produksi akibat musim kemarau juga telah dilakukan melalui percepatan penyerapan gabah petani sejak awal tahun.

"Dalam kaitannya dengan musim kemarau saat ini, kami dari awal tahun sudah melakukan pengadaan penyerapan gabah dan per hari ini tembus di angka 640 ribu ton. Ke depan, pada September sampai dengan November akan ada banyak lagi panen sehingga kami bisa lebih maksimal lagi dalam penyerapan. Insyaallah dengan ketersediaan stok yang ada di Jawa Barat cukup sampai tahun 2027," jelas Jhon.

Ilustrasi. Foto: Dok MI


Sementara Wakil Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Barat Yuliani Alzam mengatakan pihaknya berkomitmen menyalurkan beras sesuai harga yang ditetapkan pemerintah.

"Untuk penjualan dari kami, beras premium tetap di harga Rp14.900 dan SPHP di Rp12.500 per kilogram. Namun memang di banyak pedagang, karena mereka juga mengambilnya dari petani atau mitra lainnya, harga memang fluktuatif sehingga kami tidak bisa mengintervensi langsung. Tetapi jika stok itu bersumber dari Bulog, harga kami pastikan sesuai dengan HET yang dikeluarkan pemerintah," jelas Yuliani.

Menurut Yuliani, perbedaan harga di tingkat pedagang dapat terjadi karena sebagian pedagang memperoleh beras dari petani maupun mitra lainnya. Sementara untuk beras yang bersumber dari Bulog, harga dipastikan mengikuti HET pemerintah.

Dorong Penambahan Lahan Sawah


Selain menjaga ketersediaan beras, Bulog Jawa Barat turut mendukung penambahan lahan sawah baru di daerah sentra produksi pangan. Langkah tersebut menjadi salah satu upaya menghadapi potensi berkurangnya lahan pertanian akibat alih fungsi menjadi kawasan industri.

"Untuk di Jawa Barat, kami membuat lahan sawah baru di wilayah Karawang pada dua titik, yaitu di daerah Cikepuh dan Jatiragas yang sudah berjalan saat ini. Ke depan akan kami kembangkan lagi di wilayah kabupaten/kota lainnya, termasuk rencana di wilayah Cianjur pada tahun depan yang kini masih dalam proses persiapan," ucap Yuliani.

Upaya menjaga ketersediaan beras tersebut berjalan seiring dengan pemantauan harga di tingkat pasar. Dengan stok yang diproyeksikan mencukupi hingga 2027 dan penyerapan gabah yang terus dilakukan, pemerintah bersama Bulog berupaya menjaga pasokan beras tetap tersedia bagi masyarakat Jawa Barat.


(Deny Irwanto)