Ditopang Produksi dan Efisiensi, PTPN IV PalmCo Raup Laba Rp7,08 Triliun

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko Santosa dalam RUPST 2025. Foto: dok dok PalmCo.

Ditopang Produksi dan Efisiensi, PTPN IV PalmCo Raup Laba Rp7,08 Triliun

Husen Miftahudin • 2 July 2026 12:12

Jakarta: PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo mencatat laba bersih sebesar Rp7,08 triliun pada tahun buku 2025 berdasarkan laporan keuangan yang telah diaudit. Nilai tersebut melonjak 90,3 persen dibandingkan laba bersih tahun 2024 yang sebesar Rp3,72 triliun.

Perseroan menilai lonjakan laba ditopang oleh peningkatan produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), efisiensi operasional, dan penguatan fundamental bisnis di tengah tantangan ekonomi global, volatilitas pasar energi, serta anomali iklim sepanjang 2025.

"Alhamdulillah, laba bersih setelah pajak (net profit) 2025 mencapai Rp7,08 triliun atau 90,3 persen lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang berada di angka Rp3,72 triliun," kata Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko Santosa dalam paparannya pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan Tahun Buku 2025, dikutip dari keterangan tertulis, Kamis, 2 Juli 2026.

PalmCo mencatat rata-rata harga jual CPO pada 2025 mencapai Rp14.223 per kilogram. Angka itu naik 10,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Perseroan memanfaatkan momentum tersebut dengan meningkatkan volume penjualan CPO sekaligus memperkuat efisiensi biaya.

"Pengendalian biaya dan peningkatan produksi menjadi tulang punggung perusahaan. Fundamental inilah yang membuat kenaikan harga CPO sebesar 10 persen di 2025 mampu membuahkan lonjakan laba hingga 90 persen di tengah berbagai tantangan," papar Jatmiko.
 

Baca juga: PTPN Group Cetak Laba Rp6,39 Triliun di 2025, Naik 81%
 

Cetak profitabilitas tertinggi


Sejak berdiri tiga tahun lalu, PalmCo mencatat pertumbuhan laba yang konsisten. Pada 2023, perseroan membukukan laba bersih Rp2,53 triliun, meningkat menjadi Rp3,72 triliun pada 2024, lalu melonjak menjadi Rp7,08 triliun pada 2025. Perseroan menyebut capaian tersebut menjadi tingkat profitabilitas tertinggi selama masa transformasi perusahaan.

Selain laba bersih, EBITDA juga tumbuh menjadi Rp13,27 triliun atau naik 46 persen dibandingkan Rp9,09 triliun pada 2024. Sementara tingkat pengembalian aset (return on assets/ROA) tercatat mencapai 9,2 persen.

Dari sisi operasional, PalmCo memproduksi 2,70 juta ton CPO sepanjang 2025. Jumlah itu naik 7,87 persen dibandingkan produksi tahun sebelumnya yang mencapai 2,49 juta ton.

Meski mencatat pertumbuhan signifikan, manajemen menilai capaian ini bukan akhir dari proses transformasi. Evaluasi operasional, penguatan manajemen risiko, dan efisiensi akan terus dilakukan untuk menjaga keberlanjutan kinerja.

"Terima kasih atas dukungan penuh pemegang saham. Apresiasi untuk kerja keras seluruh insan perseroan. Capaian ini menjadi milestone, tapi bukan garis akhir. Masih banyak ruang untuk terus tumbuh mengoptimalkan kinerja operasi dan finansial agar terus memberikan manfaat maksimal," jelas Jatmiko.


(Ilustrasi, kebun kelapa sawit. Foto: dok PalmCo)
 

Perkuat kemitraan petani dan hilirisasi


PalmCo menegaskan pertumbuhan perusahaan berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani mitra. Berdasarkan data Badan Pengelola Dana Perkebunan, pada 2025 PalmCo menjadi perusahaan paling aktif secara nasional dalam pendampingan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dengan luas mencapai 6.672 hektare.

Produktivitas petani plasma binaan juga tercatat di atas standar nasional, dengan rata-rata mencapai 20,18 ton tandan buah segar (TBS) per hektare per tahun. Kondisi itu berdampak pada peningkatan pendapatan petani.

Di sisi lain, PalmCo akan melanjutkan pengembangan hilirisasi industri sawit, termasuk optimalisasi produk turunan sawit sebagai bahan baku renewable biogasoline untuk mendukung ketahanan energi nasional.

"Semoga PalmCo dapat menjalankan dengan baik seluruh amanat yang diembankan pemerintah, berkontribusi maksimal dalam kemandirian pangan dan energi negeri," tutup Jatmiko.

(Husen Miftahudin)