Wakil Presiden Sara Duterte terancam dimakzulkan DPR Filipina. Foto: Anadolu
Kongres Filipina Bersiap Makzulkan Wakil Presiden Sara Duterte
Muhammad Reyhansyah • 11 May 2026 19:10
Manila: Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Filipina bersiap memakzulkan Wakil Presiden Sara Duterte, putri mantan Presiden Rodrigo Duterte, untuk kedua kalinya.
Pemungutan suara pemakzulan terhadap Duterte dijadwalkan berlangsung pada Senin, 11 Mei 2026 dan menjadi episode terbaru dalam perseteruan politik antara keluarga Duterte dan Presiden Ferdinand Marcos Jr, yang semakin mendorong Filipina ke dalam gejolak politik di tengah ketidakpastian ekonomi akibat krisis energi global.
Tuduhan terhadap Duterte mencakup dua pelanggaran konstitusi dan pengkhianatan terhadap kepercayaan publik terkait dugaan penyalahgunaan dana rahasia pemerintah, kegagalan melaporkan kekayaan, suap, serta ancaman pembunuhan terhadap Marcos, istrinya Liza Araneta, dan mantan Ketua DPR Martin Romualdez.
Salah satu tuduhan paling serius dalam pengaduan terhadap wakil presiden itu adalah transaksi perbankan pribadi senilai lebih dari USD110 juta yang ditandai oleh badan anti pencucian uang.
"Skala transaksi ini tidak dapat dijelaskan secara wajar melalui pendapatan sah, aset yang dilaporkan, maupun bisnis dan aktivitas profesional yang dikaitkan dengan pasangan tersebut," kata anggota DPR Terry Ridon, salah satu penggugat utama, dalam pernyataan yang diunggah di X dan dikutip Al Jazeera, Senin, 11 Mei 2026.
"Pemungutan suara hari ini bukan sekadar latihan politik. Ini adalah tindakan konstitusional untuk meminta pertanggungjawaban," lanjut Ridan.
DPR Filipina ingin Senat menyatakan Duterte "bersalah" atas keempat pasal pemakzulan, mencopotnya dari jabatan wakil presiden, serta menjatuhkan larangan permanen untuk menduduki jabatan pemerintahan.
Pemakzulan membutuhkan dukungan sepertiga suara DPR agar dapat diteruskan ke Senat untuk diadili.
Konflik Politik Duterte dan Marcos
Ambang batas suara tersebut disebut sudah tercapai sejak 7 Mei, menurut seorang anggota DPR dari Mindanao, wilayah basis dukungan Duterte.Legislator yang meminta namanya dirahasiakan itu mengatakan jumlah suara akhir kemungkinan mendekati proses pemakzulan pertama Duterte, seraya menambahkan dirinya berniat mendukung pemakzulan.
Mosi pemakzulan sebelumnya terhadap Duterte disahkan pada 2025 dengan 215 suara dari total 313 anggota DPR, jauh melampaui syarat sepertiga suara bahkan lebih dari dua pertiga anggota dewan.
Namun pemakzulan itu kemudian dibatalkan Mahkamah Agung karena persoalan teknis. Untuk menyatakan Duterte bersalah dan mencopotnya dari jabatan, dibutuhkan dukungan dua pertiga anggota Senat.
Duterte dan Marcos sebelumnya maju sebagai pasangan dalam pemilu 2022, namun aliansi politik mereka kemudian pecah dan memicu perseteruan terbuka.
Konflik itu berlanjut dengan penangkapan Rodrigo Duterte atas perintah Mahkamah Pidana Internasional (ICC), serta proses pemakzulan terhadap Sara Duterte yang sebelumnya telah menyatakan niat maju dalam pemilihan presiden 2028.
Pekan lalu, anggota House Committee on Justice secara bulat dengan suara 53-0 menyatakan terdapat alasan kuat untuk memakzulkan Duterte dan mendukung pembahasan pengaduan tersebut di DPR.
Pada 7 Mei, Duterte mengatakan apa pun hasil pemakzulan "sudah dituliskan Tuhan." "Berdasarkan pembicaraan kami sebelumnya dengan Presiden Duterte, segala sesuatu yang terjadi dalam hidup seseorang sudah dituliskan Tuhan. Jadi, jika saya dimakzulkan, itu sudah dituliskan Tuhan. Jika saya tidak dimakzulkan, sampai jumpa besok," kata Duterte kepada para pendukungnya setelah mengunjungi ayahnya di Den Haag, Belanda, pada 6 Mei.