Ilustrasi freepik
Mengenal Perbedaan Isra Mikraj dan Maulid Nabi
Riza Aslam Khaeron • 22 August 2026 11:04
Jakarta: Isra Mikraj dan Maulid Nabi menjadi dua peristiwa yang sangat istimewa bagi umat Islam. Peristiwa ini umumnya diisi dengan momentum keagamaan, seperti bersalawat, memanjatkan doa, dan puji syukur kepada Allah SWT.
Sering kali umat Islam mendefinisikan Isra Mikraj dan Maulid Nabi sebagai peristiwa yang sama. Pada kenyataannya, kedua peristiwa ini memiliki sejarah yang berbeda.
Berikut adalah pengertian dan sejarah Isra Mikraj serta Maulid Nabi.
Pengertian Isra Mikraj
Isra Mikraj merupakan perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam semalam sebelum mendapatkan perintah untuk menunaikan salat lima waktu dalam sehari. Isra Mikraj menjadi peristiwa akhir dari kenabian di Makah sebelum akhirnya Nabi Muhammad SAW dan para sahabat memutuskan untuk berhijrah ke Madinah.Isra Mikraj merupakan satu kesatuan dari dua peristiwa yang berbeda. Isra merupakan perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidilharam hingga Masjidilaqsa, sedangkan Mikraj adalah peristiwa dinaikkannya Nabi Muhammad SAW ke langit tertinggi, yaitu Sidratulmuntaha.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Isra ayat 1:
.jpg)
Artinya: “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami…”
Peristiwa ini menjadi momen yang istimewa bagi Nabi Muhammad SAW karena tidak ada nabi lain yang pernah naik hingga ke Sidratulmuntaha. Lebih dari itu, peristiwa ini menjadi awal mula perintah bagi seluruh umat Islam di dunia untuk menunaikan salat lima waktu dalam sehari.
Hikmah Isra Mikraj
Perintah salat dalam perjalanan Isra Mikraj menjadi kewajiban bagi umat Islam. Salat menjadi ibadah yang istimewa dibandingkan dengan ibadah lainnya dan merupakan tiang agama.Dilansir dari nu.or.id, Isra Mikraj adalah perjalanan menuju kesempurnaan rohani (insan kamil). Oleh karena itu, perjalanan ini menurut para sufi adalah perjalanan meninggalkan bumi yang rendah menuju langit yang tinggi.
Adapun menurut Dr. Jalaluddin Rakhmat, salah satu momen penting dari peristiwa Isra Mikraj yakni ketika Rasulullah SAW "berjumpa" dengan Allah SWT. Ketika itu, dengan penuh hormat Rasulullah SAW berkata:

Artinya: “Segala penghormatan, keberkahan, shalawat, dan kebaikan hanyalah milik Allah saja.”
Allah SWT pun berfirman:

Artinya: “Semoga keselamatan tercurah kepadamu, wahai Nabi, beserta rahmat Allah dan keberkahan-Nya.”
Mendengar percakapan ini, para malaikat serentak mengumandangkan dua kalimat syahadat. Dari ungkapan bersejarah inilah, bacaan tersebut kemudian diabadikan sebagai bagian dari bacaan salat (tasyahud).
Dengan rangkaian peristiwa tersebut, Isra Mikraj menjadi puncak perjalanan seorang hamba menuju kesempurnaan rohani.
Pengertian Maulid Nabi
Maulid Nabi merupakan peristiwa yang terjadi pada bulan Rabiulawal ini merupakan fenomena istimewa saat Nabi Muhammad SAW lahir, tepatnya pada 12 Rabiulawal 570 Masehi. Nabi Muhammad SAW juga wafat pada tanggal yang sama, tetapi pada tahun yang berbeda, yaitu 12 Rabiulawal 632 Masehi, yang sekaligus menjadi akhir dari masa kenabian.Tidak hanya itu, bulan Rabiulawal juga menjadi saksi awal perjalanan hijrah Nabi dan para sahabat dari Makah menuju Madinah. Pada bulan ini pula Nabi membangun Masjid Quba, yang menjadi masjid pertama yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW.
Peristiwa perjalanan ini kemudian menjadi momentum yang tepat bagi umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
Baca Juga :
Sejarah Maulid Nabi dan Maknanya bagi Umat Islam
Makna Maulid Nabi
Peringatan Maulid Nabi merupakan bentuk rasa syukur umat Islam kepada Allah SWT karena telah menghadirkan dan mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai penerang pada zaman jahiliah. Momentum Maulid Nabi tidak hanya digunakan untuk memanjatkan puji syukur, tetapi juga sebagai bentuk refleksi diri untuk meneladani sikap dan perilaku Nabi Muhammad SAW.Memahami perjuangan Nabi untuk umat Islam selaras dengan menyadari besarnya belas kasih dan sayang yang diberikan Nabi kepada umatnya.
Nabi Muhammad SAW juga menganjurkan untuk mengenang beliau dan mengistimewakan hari kelahirannya, sebagaimana yang dijelaskan dalam Hadis Riwayat Muslim No. 1162. Saat Nabi ditanya tentang hari apa yang sebaiknya digunakan untuk berpuasa, beliau menjawab hari Senin:

Artinya: “Hari itu adalah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus (atau diturunkan wahyu kepadaku).”
Meskipun Isra Mikraj dan Maulid Nabi merupakan peristiwa yang berbeda, keduanya menjadi momentum yang tepat bagi umat Islam untuk memperingati dan mengenang Nabi melalui perjuangannya. Dengan begitu, umat Islam akan selangkah lebih dekat kepada Pencipta dan Rasul-Nya.

Artinya: “Orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bersalawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi No. 484)
Kedekatan ini akan menambah rasa cinta kepada Allah SWT dan Nabi-Nya, yang kemudian menjadi penyempurna iman.
Nabi Muhammad SAW bersabda:

Artinya: “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari)
Demikian perbedaan antara Isra Mikraj dan Maulid Nabi.
(Yaumil Tianri Rahmi)