Presiden Prabowo Subianto memimpin peluncuran pembangkit listrik tenaga Surya (PLTS) di Monumen Operasi Lintas Laut Jawa Bali, Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa, 25 Agustus 2026. Foto: Tangkapan Layar
Tiba di Bali, Presiden Prabowo Segera Luncurkan Program PLTS 100 GWp
Siti Yona Hukmana • 25 August 2026 14:48
Jakarta: Presiden Prabowo Subianto memimpin launching and ground breaking program pembangkit listrik tenaga Surya (PLTS) di Monumen Operasi Lintas Laut Jawa Bali, Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa, 25 Agustus 2026. PLTS ini untuk perkuat kemandirian dan ketahanan energi nasional.
Pantauan dari YouTube Sekretariat Presiden, Prabowo tiba sekitar pukul 14.30 WIB. Prabowo disambut oleh sejumlah menteri kabinet Merah Putih. Antara lain, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Airlangga Hartarto, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani,Menteri Sekretariat Negara Prasetyo Hadi, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, hingga Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto.
"Bali ini memang sudah sekian lama merencanakan untuk menarik pariwisata yang baik, maka harus memakai energi yang bersih dan kehadiran bapak presiden hari ini menunjukkan kecintaan Bapak Presiden kepada Bali dan Indonesia pada umumnya," kata Bahlil dalam sambutannya, Selasa, 25 Agustus 2026.
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan peluncuran PLTS 100 Gigawatt peak (GWp), merupakan bagian dari Program Kerja Prioritas Nasional Klaster Kemandirian Energi dan Air, yang diarahkan untuk memperkuat kemandirian dan ketahanan energi nasional, serta mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
"Presiden telah menginstruksikan agar pembangunan 100 GWp PLTS dipercepat dan diselesaikan pada 2029, dengan efisiensi biaya listrik diperkirakan mencapai Rp73,9 triliun per tahun. Pada 2026, pemerintah menargetkan pembangunan 30 GWp PLTS sekaligus penghentian 13 GW pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD)," dalam keterangan tertulis diterima di Jakarta, dilansir Antara, Selasa, 25 Agustus 2026.

Peluncuran pembangkit listrik tenaga Surya (PLTS) di Monumen Operasi Lintas Laut Jawa Bali, Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa, 25 Agustus 2026. Foto: Tangkapan Layar
Langkah itu diambil mengingat Indonesia memiliki potensi energi surya sekitar 3.294 GWp, sementara kapasitas terpasang hingga April 2026 baru mencapai sekitar 1,5 GWp. Program itu akan dibangun bertahap, yakni tahap I sebanyak 17 GWp, tahap II 18 GWp, dan tahap III 30 GWp.
Sepanjang 2025, kata Mensesneg, pemerintah telah membangun 15 pembangkit energi baru terbarukan (EBT), terbagi atas 12 PLTS dan tiga pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) senilai Rp103,3 miliar, yang melayani 1.831 kepala keluarga dan 131 fasilitas umum.
Prasetyo mengungkapkan pada tahun 2026, pembangunan berlanjut di 39 lokasi PLTS Terpadu wilayah 3T untuk 4.259 rumah tangga senilai Rp450,2 miliar dan tiga lokasi PLTMH untuk 464 rumah tangga senilai Rp50,4 miliar. Program listrik desa juga telah menjangkau 1.403 lokasi di 36 provinsi, dengan 220.845 rumah tangga tidak mampu menerima manfaat Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL).
"Program PLTS 100 GWp juga diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru melalui investasi pembangkit, baterai, dan jaringan, penguatan industri solar PV dalam negeri, serta penciptaan green jobs. RUPTL 2025–2034 diproyeksikan menciptakan sekitar 1,7 juta lapangan pekerjaan, lebih dari 760 ribu di antaranya berpotensi menjadi green jobs," ujar Prasetyo.