Tessar Napitupulu, pendiri agensi digital. Foto: dok istimewa.
Bisnis SEO Terancam AI, Perusahaan Perlu Adaptasi Strategi Digital
Ade Hapsari Lestarini • 9 March 2026 13:16
Jakarta: Industri search engine optimization (SEO) menghadapi perubahan besar seiring meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam pencarian informasi di internet.
Data SparkToro menunjukkan 58,5 persen pencarian Google di Amerika Serikat kini berakhir tanpa klik ke situs web mana pun. Pengguna internet semakin sering bertanya langsung ke platform berbasis AI seperti ChatGPT, Perplexity, dan Gemini untuk mendapatkan jawaban instan.
Jika tren tersebut meluas ke Indonesia yang memiliki sekitar 229,4 juta pengguna internet, model bisnis SEO yang selama ini menjadi andalan banyak agensi digital berpotensi mengalami perubahan signifikan.
Di tengah situasi tersebut, pendiri agensi digital di Jakarta, Tessar Napitupulu, justru melihat peluang baru. Ia mulai mengembangkan lini bisnis pelatihan bagi perusahaan agar dapat muncul dalam jawaban yang dihasilkan platform AI.
Dari konsultan proyek internasional ke digital agency
Tessar Napitupulu merupakan lulusan Teknik Informatika Universitas Bina Nusantara yang juga menempuh pendidikan manajemen di PPM School of Management.
Sebelum terjun ke industri digital, ia pernah bekerja sebagai IT consultant di GFA Consulting Group untuk proyek Kementerian Sosial. Ia juga terlibat dalam program PNPM Mandiri melalui penugasan United Nations Development Programme (UNDP) di Bappenas.
Pada 2008, Tessar mendirikan PT Arfadia Digital Indonesia bersama lima orang tim di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Selama tujuh tahun pertama, perusahaan tersebut berkembang secara organik tanpa dukungan investor.
"Latar belakang saya di birokrasi dan lembaga internasional justru membentuk cara kami bekerja. Semuanya harus terukur, terdokumentasi, dan bisa dipertanggungjawabkan," kata Tessar.


Pendekatan tersebut membantu Arfadia membangun portofolio klien dari berbagai sektor. Sejumlah perusahaan yang pernah bekerja sama antara lain Allianz Indonesia, BPJS Ketenagakerjaan, BMW, Shopee Food, Musim Mas, Daikin, Astralife, serta sejumlah kementerian dan lembaga pemerintah.
Perusahaan tersebut juga meraih Best Social Media Agency Award dari MIX/SWA pada 2019 serta Clutch Leader Award dari platform ulasan bisnis berbasis di Washington, Amerika Serikat. Pada 2023, CEO Insights Asia menobatkan Tessar sebagai salah satu Top 10 Leaders in Advertising.
Ketika AI mengubah industri SEO
Kemunculan ChatGPT pada akhir 2022 memicu perubahan dalam industri pencarian digital. Jika sebelumnya perusahaan berfokus mengejar peringkat di halaman pertama mesin pencari, kini pengguna dapat memperoleh jawaban langsung dari sistem AI tanpa membuka situs web.
Melihat perubahan tersebut, Arfadia mulai mengembangkan pendekatan baru yang disebut Generative Engine Optimization (GEO). Pendekatan ini berfokus pada bagaimana sebuah merek dapat muncul sebagai referensi dalam jawaban yang dihasilkan platform AI.
"Saya kumpulkan tim dan bilang, ini bukan ancaman, tetapi peluang. Tapi peluang yang hanya bisa diambil kalau kita bergerak sekarang, bukan nanti," kata Tessar.
Ia menjelaskan timnya juga mengembangkan kerangka kerja bernama Return on Generative Engine Optimization (RoGEO) untuk mengukur efektivitas strategi tersebut.
Framework tersebut digunakan untuk mengukur frekuensi penyebutan merek oleh AI, kedalaman referensi konten yang digunakan sistem AI, serta potensi pendapatan yang dihasilkan dari strategi tersebut.
"Tanpa metrik yang jelas, GEO hanya akan menjadi buzzword," ujar Tessar.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com