Kelompok Pemberontak Houthi ancam Arab Saudi jika tetap menyerang Yaman. Foto: Anadolu
Houthi Yaman Ancam Bom Fasilitas Minyak Arab Saudi Jika Konflik Meningkat
Fajar Nugraha • 17 July 2026 08:48
Sanaa: Kelompok Houthi di Yaman melayangkan peringatan keras pada Kamis, 16 Juli, bahwa mereka akan menargetkan fasilitas minyak serta infrastruktur vital Arab Saudi jika konflik antara kedua belah pihak kian memanas.
Ancaman terbuka ini mencuat hanya berselang beberapa hari setelah bandara di ibu kota Sanaa yang dikuasai pemberontak digempur serangan udara.
Pemimpin tertinggi kelompok tersebut, Abdul Malik al-Houthi, menjabarkan jangkauan target militer mereka dalam merespons situasi geopolitik saat ini.
"Semua fasilitas minyak dan instalasi vital Arab Saudi adalah target bagi rudal dan drone kami jika negara itu melibatkan dirinya dalam agresi skala penuh terhadap negara kami dan bergerak menuju eskalasi," ujar Al-Houthi, seperti dikutip dari Channel News Asia, pada Jumat, 17 Juli 2026.
Sebelumnya pada Senin, kelompok Houthi yang didukung oleh Iran menuduh Arab Saudi telah menyerang Bandara Sanaa. Pihak Houthi kemudian membalasnya dengan meluncurkan serangan yang membidik sebuah bandara di dalam wilayah kerajaan tersebut.
Aksi saling balas tembakan tersebut tercatat sebagai eskalasi konflik paling signifikan di antara kedua pihak yang berseteru sejak kesepakatan gencatan senjata tercapai pada tahun 2022 lalu. Dalam pesan yang disiarkan melalui stasiun televisi tersebut, Al-Houthi juga secara spesifik mengancam akan menggempur bandara di Riyadh sebagai respons atas setiap serangan lanjutan yang mengarah ke Bandara Sanaa.
"Persamaannya adalah bandara dibalas bandara, pelabuhan dibalas pelabuhan, dan blokade dibalas blokade," tambah Al-Houthi.
Di lain pihak, pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi dan berbasis di Aden mengatakan bahwa serangan pada hari Senin tersebut sengaja diluncurkan untuk mencegah sebuah pesawat milik Iran mendarat di Sanaa.
Sebagai informasi, selama lebih dari satu dekade terakhir, setiap pesawat yang memasuki ruang udara Yaman wajib mendapatkan izin terlebih dahulu dari koalisi pimpinan Arab Saudi. Koalisi ini bertugas mendukung pemerintah resmi Yaman dan menegaskan bahwa pembatasan tersebut ditegakkan atas permintaan dari pemerintah itu sendiri.
Pihak Houthi bersama penyokong mereka, Iran, tampak mulai menantang kesepakatan lama tersebut dengan cara mengorganisasi rute penerbangan langsung dari Iran. Langkah ini memicu kemarahan besar dari pihak pemerintah Yaman beserta negara pendukungnya.
Sementara itu pada hari Selasa, kelompok Houthi mengklaim bahwa pasukannya telah berhasil menembak jatuh sebuah drone pengintai yang dioperasikan oleh pihak Arab Saudi.
(Kelvin Yurcel)