Kemenko PM Dorong Transformasi Industri Bambu Selaawi

Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu, Abdul Haris. Foto: Istimewa.

Kemenko PM Dorong Transformasi Industri Bambu Selaawi

Anggi Tondi Martaon • 27 April 2026 18:59

Garut: Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) mendorong transformasi industri Bambu Selaawi, Garut, Jawa Barat (Jabar). Hal itu dilakukan sebagai upaya menggerakan ekonomi desa dari bawah.

Dalam Pelatihan Diversifikasi Produk Bambu, Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu Kemenko PM, Abdul Haris, menekankan bahwa bambu merupakan komoditas strategis yang memiliki peluang besar di tingkat global.

"Bambu bukan lagi sekadar bahan bangunan tradisional. Tapi telah menjadi bagian dari industri hijau global," kata Abdul Haris melalui keterangan tertulis Senin, 27 April 2026.

Adul Haris menyamapikan, nilai pasar bambu dunia pada 2025 diperkirakan mencapai USD 79,36 miliar. Diproyeksikan nilai pasa bambu terus meningkat hingga USD 115,3 miliar pada 2030.

Namun, produksi olahan bambu di Indonesia hanya berkontribusi sebesar 1 persen. Oleh karena itu, kesenjangan tersebut harus segera diatasi.

"Kesenjangan antara potensi dan realitas inilah yang menjadi tanggung jawab kita bersama melalui peningkatan kapasitas, inovasi, dan kualitas produksi,” kata Abdul Haris.

Abdul Haris berharap pelatihan yang merupakan bagian dari program Gerakan Bersama Akselerasi Bangun Masyarakat Berdaya dan Unggul (Gebrak Bambu), itu dapat mendiversifikasi produk, efisiensi proses produksi, standarisasi kualitas, serta pengembangan model usaha berbasis bambu yang berkelanjutan.

Abdul Haris juga meminta seluruh peserta untuk menjadi agen perubahan di wilayahnya masing-masing. Menurut dia, keterampilan yang dimiliki para pengrajin merupakan aset bangsa.

Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu, Abdul Haris. Foto: Istimewa.

"Dari tangan-tangan terampil inilah lahir produk bernilai tinggi yang tidak hanya menggerakkan ekonomi lokal, tetapi juga membawa nama Indonesia ke tingkat global,” ujar Abdul Haris.

Ada pun pelatihan tersebut merupakan kolaborasi antara Kemenko PM, akademisi IPB University, dan Pemkab Garut. Kegiatan ini diikuti oleh 38 peserta yang terdiri dari pengrajin bambu dari 7 desa serta perwakilan BUMDesma.

?Melalui program Gebrak Bambu, diharapkan Selaawi semakin berkembang sebagai pusat industri bambu yang berdaya saing. Sekaligus menjadi contoh keberhasilan pembangunan kawasan perdesaan berbasis potensi lokal yang inklusif dan berkelanjutan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggi Tondi)