Gedung Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Foto: Dok. BRIN.
BRIN: Pengayaan Uranium Iran 60 Persen Dekati Ambang Senjata Nuklir
Kautsar Widya Prabowo • 22 April 2026 17:29
Jakarta: Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko mengungkap saat ini berhasil melakukan pengayaan uranium mencapai level 60 persen. Capaian tersebut secara teknis membuka peluang untuk dikembangkan menjadi senjata nuklir.
Menurut Handoko, level pengayaan uranium saat ini sudah mendekati ambang yang dibutuhkan untuk senjata nuklir. Ia menjelaskan bahwa bom atom yang dijatuhkan dalam Pemboman Hiroshima memiliki tingkat pengayaan sekitar 80 persen.
“Kalau sekarang sudah 60 persen, itu sudah sangat dekat. Dari 60 ke 90 persen itu dalam hitungan minggu sebenarnya bisa dilakukan,” ujar Handoko kepada Metrotvnews.com, Rabu, 22 April 2026.
Handoko menekankan bahwa proses pengayaan uranium hanyalah satu tahap dari keseluruhan proses pembuatan senjata nuklir. Tahapan berikutnya, seperti perancangan hulu ledak, integrasi ke dalam sistem persenjataan seperti rudal, hingga proses uji coba, memerlukan teknologi dan waktu yang tidak sederhana.
“Untuk menjadikan bahan yang sudah diperkaya itu menjadi senjata nuklir, itu prosesnya lain lagi. Harus dimuat dalam sistem bom, kemudian diintegrasikan dengan wahana peluncur. Itu kompleks,” jelasnya.
Ia menilai, dalam jangka pendek, kemungkinan Iran menggunakan nuklir sebagai senjata masih relatif kecil. Dalam proyeksi satu tahun ke depan, Handoko menyebut pengembangan hingga tahap operasional senjata nuklir bukan perkara mudah.
“Kalau dalam waktu dekat, misalnya satu tahun, menurut saya tidak mudah. Memperkaya sampai 90 persen mungkin bisa cepat, tapi menjadikannya senjata itu ada proses lanjutan yang cukup panjang,” katanya.

Ilustrasi. Foto: Freepik.com.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa pengembangan senjata nuklir hampir pasti membutuhkan uji coba, yang sulit disembunyikan dari pengawasan internasional. Getaran dari uji coba nuklir dapat terdeteksi oleh berbagai negara, termasuk Indonesia, yang memiliki sistem pemantauan aktivitas seismik global.
“Kalau melakukan uji coba pasti ketahuan. Banyak negara memasang sensor untuk memantau hal-hal seperti itu,” tegasnya.
Meski peluang teknis terbuka, Handoko menyebut kemampuan Iran saat ini baru sebatas pada potensi. Ia menilai realisasi menjadi senjata nuklir tetap membutuhkan waktu dan tahapan yang tidak singkat.
“Secara teori mereka punya kemampuan untuk itu. Tapi untuk menjadi senjata, itu masih ada proses panjang,” ucap dia.