Pemain Rugbi Fiji di Jepang Meninggal akibat Dugaan Heatstroke Gelombang Panas

Ilustrasi cuaca panas ekstrem. (Anadolu Agency)

Pemain Rugbi Fiji di Jepang Meninggal akibat Dugaan Heatstroke Gelombang Panas

Willy Haryono • 8 August 2026 18:06

Tokyo: Pemain rugbi asal Fiji yang memperkuat klub Jepang Kyushu KV, Saimoni Vunilagi, meninggal dunia setelah menjalani perawatan di rumah sakit akibat gejala yang diduga merupakan heatstroke atau serangan panas berat.

Klub divisi kedua Liga Rugbi Jepang itu pada Sabtu, 8 Agustus 2026, menyatakan Vunilagi yang berusia 26 tahun dilarikan ke rumah sakit di Fukuoka setelah menjalani sesi latihan tim pada Senin lalu, dan meninggal dunia pada Jumat pagi.

Di hari latihan tersebut, suhu di Fukuoka mencapai sekitar 35 derajat Celsius.

Vunilagi, yang bermain di posisi back row forward, memiliki tinggi badan 196 sentimeter dan berat 117 kilogram. Ia menempuh pendidikan di Jepang sebelum memulai karier profesionalnya pada 2023.

"Para pemain, staf, dan seluruh keluarga besar tim sangat terpukul atas kabar mendadak ini," ujar pernyataan Kyushu KV yang dilansir Al Jazeera, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Klub juga menyebut Vunilagi baru bergabung dengan tim, namun telah memberikan harapan besar melalui semangat dan gaya bermainnya menjelang musim kompetisi baru.

Jepang Dilanda Gelombang Panas

Jepang mengalami musim panas terpanas dalam sejarah pada tahun lalu, sementara dalam beberapa pekan terakhir suhu di sejumlah wilayah kembali mencapai 40 derajat Celsius.

Badan Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Jepang melaporkan sekitar 18.600 orang dilarikan ke rumah sakit akibat heatstroke selama periode 20-26 Juli, dengan 45 orang dinyatakan meninggal saat tiba di rumah sakit.

Setiap tahun, sekitar 1.300 orang meninggal akibat penyakit yang berkaitan dengan gelombang panas di Jepang. Pemerintah menargetkan angka tersebut turun hingga separuhnya pada 2030.

Pekan ini, tiga ekor singa di sebuah kebun binatang di Tokyo juga dilaporkan mati akibat dugaan heatstroke, sementara sejumlah satwa lain masih menjalani perawatan.

Para ilmuwan menyatakan perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia meningkatkan frekuensi dan intensitas gelombang panas ekstrem di Jepang maupun berbagai belahan dunia lainnya.

Baca juga:  Gelombang Panas di Korea Selatan Diprediksi Berlanjut hingga Akhir Agustus

(Willy Haryono)