Digitalisasi dan Upaya Membuat Filantropi Lebih Berkelanjutan

Forum Indonesia Endowment Ecosystem Summit 2026 di Jakarta, Rabu, 9 September 2026. Dokumentasi/ istimewa.

Digitalisasi dan Upaya Membuat Filantropi Lebih Berkelanjutan

Deny Irwanto • 11 September 2026 06:24

Jakarta: Program sosial membutuhkan dukungan yang berkelanjutan. Beasiswa, layanan kesehatan, hingga kegiatan menjaga lingkungan tidak hanya membutuhkan dana saat program dimulai, tetapi juga biaya untuk memastikan manfaatnya tetap dirasakan dalam jangka panjang.

Kondisi tersebut membuat model pendanaan sosial mulai berkembang. Salah satunya melalui dana abadi atau endowment, yakni dana yang dihimpun dan dikelola menjadi aset produktif, kemudian hasil pengelolaannya digunakan untuk mendukung berbagai program sosial secara berkelanjutan.

"Pendekatan dana abadi dapat mengubah cara pandang terhadap kontribusi sosial. Dana yang diberikan tidak hanya langsung disalurkan, tetapi dapat dikelola terlebih dahulu agar manfaatnya bisa terus berjalan," kata Chairman Indonesia Endowment Ecosystem sekaligus CEO Rumah Wakaf, Rendi Septiyan Nugraha, dalam keterangan dikutip, Kamis, 10 September 2026.

Gagasan mengenai pendanaan jangka panjang tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Indonesia Endowment Ecosystem Summit 2026 di Jakarta, Rabu, 9 September 2026. Forum tersebut mempertemukan regulator, akademisi, praktisi, pengelola wakaf, organisasi sosial, dan pelaku usaha untuk membahas pengembangan ekosistem pendanaan sosial melalui kolaborasi lintas sektor.

Rendi menjelaskan prinsip tersebut memiliki keterkaitan dengan wakaf yang sejak awal menempatkan aset sebagai fondasi manfaat dalam jangka panjang. Dalam penerapannya, aset wakaf dikelola secara produktif, sementara hasil pengelolaannya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Di bidang pendidikan, misalnya, pendanaan jangka panjang dapat digunakan untuk mendukung beasiswa, pengembangan infrastruktur sekolah, hingga riset. Pada sektor kesehatan, dana abadi dapat menopang layanan kesehatan masyarakat dan pengembangan fasilitas medis.


Forum Indonesia Endowment Ecosystem Summit 2026 di Jakarta, Rabu, 9 September 2026. Dokumentasi/ istimewa.

Sementara di bidang lingkungan, dukungan jangka panjang dibutuhkan untuk kegiatan konservasi, pengembangan energi bersih, hingga membangun ketahanan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim.

Pendidikan Jadi Fokus Awal


Indonesia Endowment Ecosystem mengembangkan empat portofolio, yakni pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kemanusiaan. Pada tahap awal, pendidikan menjadi fokus pertama dalam pengembangan portofolio dana abadi.

Model tersebut juga menempatkan kolaborasi sebagai bagian penting dalam pengelolaannya. Organisasi sosial tetap menjalankan program dan berhubungan langsung dengan penerima manfaat maupun komunitas, sementara pengelolaan aset wakaf, tata kelola, kepatuhan, dan pengembangan investasi dapat didukung pihak yang memiliki kompetensi di bidang tersebut.

CEO SharingHappiness.org, Zaeni Ramdan, menilai teknologi digital dapat membantu memperluas keterlibatan masyarakat dalam filantropi jangka panjang. Platform digital dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk berpartisipasi sekaligus mengenal berbagai inisiatif dana abadi yang dikembangkan bersama.

Sementara Rumah Zakat menjadi salah satu organisasi yang berperan sebagai impact owner dalam ekosistem tersebut. Chief Marketing & Digital Fundraising Officer Rumah Zakat, Didi Sabir, menyampaikan pengembangan dana abadi menjadi salah satu upaya untuk menjaga agar manfaat program sosial, khususnya di bidang pendidikan, dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Mengubah Cara Pandang terhadap Filantropi


Pengalaman tersebut memperlihatkan tantangan dalam filantropi tidak hanya berkaitan dengan bagaimana dana dihimpun. Pengelolaan dana agar dapat memberikan manfaat dalam waktu yang lebih panjang juga menjadi bagian penting.

Di tengah kebutuhan pembiayaan sosial yang terus berkembang, dana abadi menawarkan cara pandang lain terhadap kontribusi masyarakat. Donasi tidak semata ditempatkan sebagai sumber pembiayaan untuk kebutuhan hari ini, tetapi juga dapat menjadi bagian dari aset yang dipersiapkan untuk mendukung kebutuhan masyarakat pada masa mendatang.

Indonesia Endowment Ecosystem menargetkan pengembangan ekosistem tersebut secara bertahap hingga 2028. Pada 2026, tahap awal difokuskan pada pembentukan ekosistem, kemitraan, dan tata kelola.

Fase berikutnya diarahkan pada perluasan portofolio serta pengembangan sistem pelaporan dampak, sebelum memasuki skala nasional pada 2028.

Pada akhirnya, keberlanjutan program sosial tidak hanya ditentukan oleh besarnya dana yang dapat dihimpun. Sistem pengelolaan, kolaborasi, dan kemampuan mengembangkan dana menjadi aset produktif turut menentukan seberapa lama manfaat dapat dirasakan.

Pendidikan yang membuka akses menuju masa depan, layanan kesehatan yang menjangkau masyarakat, serta lingkungan yang tetap terjaga membutuhkan dukungan yang tidak berhenti pada satu momentum. Dari sinilah dana abadi menjadi salah satu pendekatan untuk membuat kontribusi sosial dapat terus memberi manfaat, bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga bagi generasi berikutnya.


(Deny Irwanto)