Ilustrasi - Sejumlah pesawat terparkir di Terminal Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) Tangerang, Banten. (ANTARA/Azmi Samsul M)
Terpapar Abu Vulkanik, Kualitas Udara Kota Tangerang Masih Kategori Sedang
Silvana Febiari • 9 September 2026 08:30
Tangerang: Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang, Banten, melakukan pengukuran berkala kualitas udara setelah sejumlah wilayah terpapar abu vulkanik. Pemantauan dilakukan melalui data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dari ISPUNet KLH yang dihimpun dari empat stasiun pemantauan.
Kepala DLH Kota Tangerang Yudi Pradana mengatakan kualitas udara masih berada dalam kategori sedang selama dua hari pemantauan. Kondisi tersebut ditunjukkan dengan warna biru pada indikator ISPU.
"Kalau kita melihat data yang disajikan, kualitas udara di Kota Tangerang saat kondisi terpapar abu vulkanik masih dalam kategori sedang atau dapat diterima. Namun, kita terus mendata berkala demi memastikan kondisinya aman," kata Yudi, dilansir dari Antara, Rabu, 9 September 2026.
Empat stasiun yang menjadi titik pemantauan tersebut, yakni Tangerang Kali Pasir, Tangerang Pasir Jaya, Tangerang Benteng Betawi, dan Tangerang Karang Tengah.
Pemantauan dilakukan terhadap perkembangan kualitas udara, khususnya pada parameter pencemar yang menjadi indikator kritis di masing-masing stasiun. Sebab, data kualitas udara menjadi salah satu indikator penting dalam membuat kebijakan dan keputusan untuk masyarakat dan pihak lainnya.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tetap menggunakan masker, menjaga lingkungan, mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan emisi, serta mengikuti informasi kualitas udara dari kanal resmi pemerintah,” ujarnya.

Sistem Pemantauan Kualitas Udara (SIPAKU) merupakan alat pemantau atau Air Quality Monitorung System (AQMS) yang digunakan untuk memonitoring kualitas udara, termasuk mengambil berbagai sampel data terkait kondisi kualitas udara di Kota Tangerang. ANTARA/Irfan
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau Pasauran, M. Nugraha Kartadinata mengatakan saat ini masih terjadi erupsi bertipe strombolian. Erupsi ini berpotensi melontarkan material hingga jangkauan lebih dari dua kilometer.
"Selain abu vulkanik, erupsi ini juga melontarkan batuan. Karena itu, kami merekomendasikan agar tidak ada aktivitas warga dalam radius 3 kilometer. Kepada wisatawan atau siapa pun, saya imbau untuk tetap menjauh dari radius bahaya," tegas Nugraha.