Presiden Prancis Emmanuel Macron. Foto: Anadolu
Macron Akui Pengaruh Prancis di Afrika Tertinggal dari Tiongkok hingga Turki
Fajar Nugraha • 16 May 2026 00:30
Nairobi: Presiden Prancis Emmanuel Macron mengakui negaranya kehilangan pengaruh di Afrika dibandingkan dengan Tiongkok, Turki, dan Amerika Serikat.
Pernyataan itu disampaikan Macron saat menutup forum bisnis “Africa Forward”. Macron menilai kemunduran pengaruh Prancis di Afrika terjadi akibat sikap terlalu nyaman dan arogan yang telah berlangsung selama puluhan tahun di kalangan institusi serta perusahaan Prancis. Ia menyebut perubahan tersebut sebagai hal yang wajar dan bahkan positif.
Menurut Macron, perusahaan dan administrasi Prancis terlalu bergantung pada hubungan historis dengan negara negara Afrika sehingga gagal menjaga daya saing.
“Mereka percaya ada wilayah khusus di mana menjadi orang Prancis berarti semuanya otomatis terbuka,” ujar Macron, dikutip dari Anadolu, Jumat, 15 Mei 2026.
Ia mengatakan negara negara Afrika kini membuat pilihan ekonomi secara rasional dengan beralih kepada mitra yang dianggap lebih kompetitif. Macron menyoroti semakin besarnya pengaruh Beijing dan Ankara di kawasan tersebut.
Macron juga menegaskan Afrika tidak lagi menerima pola hubungan yang hanya berfokus pada bantuan atau campur tangan pihak luar dalam menentukan solusi ekonomi. Karena itu, ia menyerukan adanya “revolusi konseptual” dalam hubungan Prancis dan Afrika.
Menurutnya, Prancis harus meninggalkan pendekatan lama yang bersifat vertikal dan mulai membangun hubungan berdasarkan kesetaraan serta kemitraan. Macron mengatakan pendekatan baru itu perlu difokuskan pada kerja sama investasi, produksi, dan inovasi bersama negara negara Afrika.
Selain itu, Macron menyoroti potensi ekonomi Afrika yang terus berkembang. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi benua tersebut dalam beberapa tahun terakhir bahkan melampaui Asia Tenggara.
(Keysa Qanita)