Istimewa
Boy Thohir Siapkan Rp4 Triliun Buyback Saham Adaro
Al Abrar • 17 March 2026 19:26
Jakarta: Pengusaha Garibaldi 'Boy' Thohir menguatkan pasar modal Indonesia melalui rencana buyback (pembelian kembali) saham Adaro milik PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. Langkah itu bentuk dukungan terhadap perekonomian nasional sekaligus upaya memperkuat partisipasi investor domestik di pasar saham.
Menurut Boy Thohir, rencana buyback tersebut juga mencerminkan keyakinan kuat terhadap fundamental perusahaan yang dinilai tetap solid di tengah dinamika ekonomi global.
“Saya percaya Adaro, serta pasar modal Indonesia memiliki prospek jangka panjang yang sangat baik,” ujar Boy Thohir usai memberikan santunan kepada anak yatim di Masjid At Thohir, Depok, Senin, 16 Maret 2026.
Ia menilai kinerja perusahaan selama ini menunjukkan fondasi bisnis yang kuat. “Kenapa kita buyback? Karena kita yakin bahwa fundamentalnya bagus. Dan kita bisa lihat itu,” ujar Boy Thohir.
Dalam pandangannya, ketidakstabilan global yang kerap muncul justru menunjukkan pentingnya kekuatan sumber daya yang dimiliki Indonesia. Konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok dunia, menurutnya, sering kali berdampak pada kenaikan harga komoditas energi.
Boy Thohir menilai Indonesia memiliki posisi strategis karena didukung kekayaan sumber daya energi, mulai dari batu bara hingga energi baru terbarukan.
“Kita bersyukur Indonesia punya batubara, geothermal, hydro, juga solar. Nah itulah yang menunjukkan kenapa negara kita memiliki comparative advantage yang negara lain tidak punya,” ujar Boy.
Ia menambahkan, keunggulan komparatif tersebut membuat Indonesia memiliki posisi strategis dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan.
Untuk mendukung rencana buyback tersebut, pihaknya telah menyiapkan dana sekitar Rp4 triliun yang bersumber dari kas internal perusahaan.
Sebagai bagian dari proses korporasi, perusahaan akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Kamis, 17 April 2026. Apabila mendapat persetujuan pemegang saham, program buyback direncanakan mulai berjalan pada Senin, 20 April 2026, dan dilaksanakan secara bertahap melalui Bursa Efek Indonesia dalam jangka waktu maksimal 12 bulan.