Raja Harald V Wafat di Usia 89 Tahun di Tengah Gejolak Suksesi Kerajaan Norwegia

Raja Norwegia, Harald V wafat pada usia 89 tahun. Foto: Anadolu

Raja Harald V Wafat di Usia 89 Tahun di Tengah Gejolak Suksesi Kerajaan Norwegia

Muhammad Reyhansyah • 28 August 2026 16:27

Oslo: Raja Harald V dari Norwegia wafat pada usia 89 tahun di Oslo University Hospital, Jumat, 28 Agustus 2026. 

Wafatnya Harald mengakhiri 35 tahun masa pemerintahannya dan membuka jalan bagi putranya, Putra Mahkota Haakon, untuk naik takhta di tengah kontroversi yang membayangi keluarga kerajaan.

Mengutip The Guardian, Istana Kerajaan Norwegia mengatakan Harald wafat dengan tenang pada pukul 06.35 waktu setempat. Sehari sebelumnya, istana menyatakan kondisi sang raja memburuk dan berada dalam kondisi "sangat serius".

Harald telah dirawat di rumah sakit sejak 17 Agustus akibat anemia hemolitik, kondisi yang menyebabkan sel darah merah dihancurkan lebih cepat dari kemampuan tubuh untuk menggantikannya. 

Ia juga mengalami sejumlah masalah kesehatan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk operasi kanker kandung kemih pada 2003 dan pemasangan alat pacu jantung pada 2024.

Haakon sebelumnya telah menjalankan tugas sebagai wali raja ketika kondisi kesehatan ayahnya memburuk. Ia kini akan menggantikan Harald sebagai kepala negara Norwegia.

Pergantian takhta tersebut berlangsung ketika keluarga kerajaan tengah menghadapi sorotan publik akibat kontroversi yang melibatkan istri Haakon, Putri Mahkota Mette-Marit.


Kontroversi Suksesor Norwegia

Dokumen yang dirilis di Amerika Serikat menunjukkan Mette-Marit berkomunikasi dengan Jeffrey Epstein, terpidana pelaku kejahatan seksual, antara 2011 dan 2014, bertahun-tahun setelah Epstein dinyatakan bersalah. 

Hubungan tersebut memicu kritik luas di Norwegia, termasuk dari Perdana Menteri Jonas Gahr Støre yang menyebut Mette-Marit telah menunjukkan "penilaian yang buruk".

Mette-Marit kemudian menyampaikan penyesalan mendalam atas persahabatannya dengan Epstein dan meminta maaf karena hubungan tersebut telah menempatkan keluarga kerajaan dalam situasi sulit.

Keluarga kerajaan juga menghadapi kontroversi lain setelah putra Mette-Marit, Marius Borg Høiby, dijatuhi hukuman empat tahun penjara pada Juni atas dua kasus pemerkosaan dan sejumlah dakwaan lainnya. Ia telah mengajukan banding.

Berbagai skandal tersebut ikut menekan dukungan publik terhadap monarki Norwegia. Jajak pendapat pada Februari menunjukkan dukungan terhadap monarki turun menjadi 54 persen dari 72 persen pada 2024.

Harald sendiri dikenal sebagai raja yang populer dan berperan dalam memodernisasi monarki Norwegia. Ia naik takhta pada 1991 setelah menggantikan ayahnya, Raja Olav V, dan selama pemerintahannya dikenal karena gaya hidup sederhana serta pesan-pesan mengenai persatuan, toleransi, dan keberagaman.

Wafatnya Harald menandai berakhirnya salah satu era terpanjang dalam sejarah monarki Norwegia modern. Selama masa pemerintahannya, ia berhasil mempertahankan popularitas kerajaan sekaligus membawa institusi tersebut beradaptasi dengan perubahan sosial di negaranya. 

Kini, Haakon menghadapi tantangan untuk mempertahankan warisan tersebut sekaligus memulihkan citra keluarga kerajaan ketika Norwegia memasuki era monarki baru.

(Fajar Nugraha)