Dampak Perang, Wisatawan Asal Timteng ke Bali Menurun Drastis

Suasana Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali. MI

Dampak Perang, Wisatawan Asal Timteng ke Bali Menurun Drastis

Media Indonesia • 5 March 2026 10:14

Badung: Dampak konflik yang memanas di Timur Tengah bagi Bali semakin terasa nyata. Terganggunya operasional penerbangan di sejumlah bandara utama di kawasan tersebut, seperti Dubai, Doha, dan Abu Dhabi, berimbas langsung pada sektor pariwisata di Pulau Dewata.

Sebab, bandara-bandara itu merupakan titik hub transit penting bagi wisatawan mancanegara (wisman) asal Eropa yang hendak berkunjung ke Bali.

Pelaku dan tokoh pariwisata asal Legian, Kuta, Wayan Puspa Negara, mengungkapkan bahwa wisman Eropa selama ini dikenal sebagai pelancong jarak jauh dengan durasi tinggal lama dan pengeluaran tinggi.

"Dari pengalaman selama ini, rata-rata wisman Eropa adalah traveler long distance, long stay, dan big spending money atau wisman jetset, turis berkelas tinggi," ujar Wayan Puspa Negara dikutip Media Indonesia, Kamis, 5 Maret 2026.

Ia menjelaskan, saat ini sudah lebih dari 5.000 orang turis asal Eropa Timur dan Timur Tengah tertahan di Bali, dan kondisi ini telah berlangsung selama beberapa hari terakhir. Data per 5 Maret 2026 mencatat sedikitnya 5.905 calon penumpang keberangkatan dari Bandara Ngurah Rai yang terdampak akibat pembatalan 35 penerbangan.
 


Artinya, selama periode tersebut, tidak ada lagi turis dengan rute yang sama datang ke Bali. Akibatnya, tingkat hunian hotel diprediksi akan statis dan terus menurun dalam beberapa pekan ke depan.

Penurunan hunian hotel ini, lanjut Wayan, akan berdampak ke seluruh sektor lainnya, seperti Pendapatan Asli Daerah (PAD) Badung yang terus menurun, para pengemudi, biro perjalanan wisata, destinasi wisata, hingga pedagang kaki lima.

Sementara itu, Wayan Hardiawan, seorang tour leader di Kuta Bali, menambahkan bahwa hingga hari ini sudah ada sembilan hotel yang menjadi tempat menginap bagi turis terdampak perang.

Hotel-hotel tersebut digunakan untuk menampung penumpang yang batal berangkat. Ia menuturkan banyak tamu mulai mengeluh karena harus turun kelas, dari yang awalnya tinggal di hotel berbintang.


Sejumlah warga negara asing mengakses layanan keimigrasian termasuk salah satunya untuk mengurus izin tinggal darurat di Kantor Imigrasi Ngurah Rai, Kabupaten Badung, Bali, Rabu, 4 Maret 2026. ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

"Banyak tamu mulai komplain karena batal. Sebab mereka yang awalnya tinggal di hotel berbintang namun turun kelas. Itulah sebabnya, maskapai memberikan opsi, apakah mau refund tiket atau reschedule. Mungkin karena terdesak biaya dan waktu, mereka pilih reschedule. Harus tinggal di hotel yang diarahkan oleh maskapai," ujar Wayan Hardiawan.

Ia merinci, hotel-hotel yang diarahkan maskapai bagi penumpang yang menjadwalkan ulang perjalanan berada di kawasan Kuta, Legian, Denpasar, dan Nusa Dua.

Penumpang Emirates, misalnya, diarahkan ke Hotel Golden Tulip, Hotel Pullman, Hotel Ibis Kuta, dan Hotel Ibis Denpasar. Sementara penumpang Etihad diarahkan ke Hotel Harris Sunset Road dan Platinum Hotel.

"Kami hanya handle tamu ke hotel yang diarahkan oleh maskapai. Namun masih banyak maskapai lain yang mengarahkan penumpangnya ke hotel yang lain," ujarnya.

Wayan Hardiawan juga berharap agar situasi di Bandara Ngurah Rai tetap aman dan kondusif, serta pengelola bandara dapat fokus pada pelayanan terhadap penumpang terdampak. Ia mendesak agar Bandara Ngurah Rai membuka posko krisis center untuk penanganan penumpang terdampak perang.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Whisnu M)