Pemerintah Perkuat Langkah Preventif Cegah Karhutla di Wilayah Rawan

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni (tengah). Foto: Dok. Kemenhut.

Pemerintah Perkuat Langkah Preventif Cegah Karhutla di Wilayah Rawan

Fachri Audhia Hafiez • 7 April 2026 17:12

Jakarta: Pemerintah memperkuat langkah mitigasi menghadapi ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Hal ini menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait musim kemarau 2026.

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menegaskan koordinasi lintas lembaga menjadi kunci utama untuk menekan potensi titik api. Karena periode kekeringan tahun ini diperkirakan akan berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya.

“Pada tahun ini akan terjadi kekeringan yang lebih awal dan lebih panjang oleh karena itu kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan dibanding tahun lalu 2025, pada 2026 ini akan lebih mengancam kita secara lebih bersama,” ujar Raja Juli di Kantor Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Jakarta, dilansir Antara, Selasa, 7 April 2026.
 


Raja Juli mengungkapkan bahwa indikasi kemarau dini sudah mulai terdeteksi di sejumlah wilayah rawan sejak awal tahun. Pihaknya kini fokus melakukan pemetaan dan penyebaran informasi kepada masyarakat di daerah-daerah sensitif guna mencegah aktivitas yang memicu kebakaran.

“Kami sudah mengidentifikasi selama Januari sampai April ini ada kemarau dini di Riau dan Kalimantan Barat. Perlu disebarkan informasi kepada masyarakat agar tidak bermain api, karena risikonya sangat besar,” tambahnya.

Selain faktor alam, pemerintah menyoroti praktik pembersihan lahan dengan cara membakar (land clearing) yang masih sering dilakukan. Raja Juli menegaskan telah berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk menindak tegas oknum yang sengaja membakar lahan demi kepentingan ekonomi.

Land clearing ini berbahaya, dan kami sudah berkoordinasi dengan kepolisian agar segera ditindak dan saat ini sudah dalam proses,” tegas Raja Juli.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan penanganan karhutla sejauh ini sangat bergantung pada penggunaan data berbasis sains dan kolaborasi antarinstansi. Termasuk penggunaan teknologi modifikasi cuaca. Raja Juli berharap sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dapat terus menekan angka kebakaran hutan dari tahun ke tahun.

“Keberhasilan kita selama ini salah satunya adalah tingkat koordinasi dan kolaborasi antar kementerian/lembaga yang berjalan baik antara pusat dan daerah. Kita berharap angka karhutla dari tahun ke tahun sudah membaik, dan tahun ini juga bisa ditekan secara bersama-sama,” ujarnya.


Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni (tengah). Foto: Dok. Kemenhut.

Senada dengan Raja Juli, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan dukungan penuh terhadap langkah koordinasi satu pintu yang dilakukan Kemenhut. Menurutnya, paradigma penanganan karhutla saat ini telah bergeser dari sekadar memadamkan menjadi mencegah sebelum api muncul.

“Kalau dulu kuratif sekarang jadi preventif. Kami sangat mendukung Pak Menhut mencoba untuk mengkoordinasi, mengkoordinir agar kita semua dapat bekerja dalam satu draf langkah yang sama,” kata Teuku Faisal.

Rapat koordinasi ini turut dihadiri oleh Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki serta Deputi Penanganan Darurat BNPB Mayjen TNI Budi Irawan, guna menyelaraskan strategi operasi di lapangan selama musim kemarau mendatang.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)