Ketua Angkatan Coachnesia Top 40, Banto Twiseno, saat ditemui awak media di Bintaro, Sabtu, 11 April 2026. (Metrotvnews.com / Dimas Chairullah)
Sambut Hari Kartini, 'Guru Berdaya, Guru Bahagia' Soroti Kesehatan Mental Guru
Dimas Chairullah • 11 April 2026 09:44
Jakarta: Menjelang peringatan Hari Kartini, Coachnesia Top 40 dari Vanaya Institute menggelar program pemberdayaan bertajuk "Guru Berdaya, Guru Bahagia" di Wuffy Space, Bintaro, Sabtu, 11 April 2026.
Program ini menyasar puluhan guru perempuan melalui pendampingan dan dukungan mental di tengah tingginya tekanan profesi pendidik.
Ketua Angkatan Coachnesia Top 40, Banto Twiseno, mengatakan pemilihan guru perempuan sejalan dengan semangat emansipasi yang diusung R.A. Kartini.
"Kami ingin memberdayakan guru perempuan agar sejalan dengan cita-cita Ibu Kartini," ujar Banto.
Ia menegaskan peran guru perempuan sangat strategis, tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembentuk karakter generasi bangsa.
Tekanan Profesi Guru
Banto menjelaskan tema "Guru Berdaya, Guru Bahagia" diangkat dari realitas tingginya tekanan yang dihadapi tenaga pendidik.Selain tugas mengajar, guru juga menghadapi beban administratif, tuntutan dari orang tua murid, hingga tekanan personal yang berpotensi memicu kelelahan mental.
"Sering kali ruang bagi guru untuk refleksi diri menjadi sangat terbatas," katanya.
Melalui program ini, peserta mendapatkan sesi one-on-one coaching yang dirancang sebagai ruang aman untuk refleksi, bukan untuk menggurui.
Sebanyak sekitar 30 guru perempuan tingkat SD dan SMP mengikuti kegiatan ini. Banto menekankan bahwa kesejahteraan guru berbanding lurus dengan kualitas pendidikan.
"Guru yang berdaya dan bahagia akan mampu memberikan yang terbaik bagi anak didiknya," ujarnya.
Banto juga menggarisbawahi bahwa sesi 1-on-1 coaching yang difasilitasi dalam acara ini sama sekali tidak bertujuan untuk menggurui. Sesi tersebut murni disediakan sebagai ruang aman bagi sekitar 30 guru perempuan tingkat SD dan SMP yang hadir untuk melakukan refleksi.
Dengan mengurai beban mental dan menemukan kembali potensi mereka, para guru diharapkan dapat kembali ke sekolah dengan kondisi emosi yang jauh lebih stabil, khususnya saat mendampingi anak didik yang sedang berada pada fase transisi emosional menuju remaja.
Baca juga: Lestari Moerdijat Dorong Peningkatan Keterampilan Guru untuk Mewujudkan Pendidikan Inklusif